Siapakah Saudaraku?
Suasana kota tampak ramai. Orang lalu lalang. Mereka berjalan cepat, bergerak menuju tujuan masing-masing. Seorang pengemis bersimpuh di sudut ruas jalan. Ia menadahkan tangan, meminta dan mengharap uluran belas kasih para pejalan.
Seorang murid melintas di depan pengemis. Ia menghentikan langkah, merogoh saku jubah dan mencoba mencari mata koin. Tetapi, ia tidak menemukan sepeser pun. Dengan sedih, ia kemudian berkata lembut kepada pengemis itu “Mohon maaf, Saudara. Ternyata, tidak ada sepeser pun uang di saku jubah saya.”
Wajah pengemis kelihatan sumringah ketika mendengar perkataan murid pertapaan. Ia merasa disegarkan dan dihidupkan. Dalam keceriaan, ia menjawab, “Anda tadi menyebut saya sebagai saudara. Sebutan itu sudah menjadi pemberian yang indah dan berarti bagiku.”***
Semulia-mulia manusia ialah orang yang mempunyai adab, yang memiliki kerendahan hati ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat.
– Abdul Malik Marwan –


OFM ki….