Orientasi Hidup
Seorang murid di pertapaan merasa tidak kerasan. Suatu hari, ia menemui guru dan berkata, “Guru, saya akan keluar dari pertapaan ini. Saya ingin mencari tempat baru yang bisa membahagiakan hidup saya.” “Baik…Saya mengizinkan Anda meninggalkan pertapaan ini tetapi perkenankan saya menyertai perjalanan Anda,” kata guru kepadanya.
Murid pun pergi meninggalkan pertapaan, dan guru mendampinginya. Dalam perjalanan, mereka tiba di sebuah hutan. Karena lelah, lagipula malam sudah tiba, murid itu memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Ia melepaskan sandalnya dan meletakkannya menghadap ke arah tempat yang hendak ditujunya besok pagi. Tatkala ia sedang tidur nyenyak, sang guru membalikkan arah sandalnya. Keesokan harinya, murid bangun dengan badan yang segar, lalu mengenakan sandalnya dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang didambakannya. Setelah beberapa hari, ia tiba di sebuah tempat. Anehnya, ia merasa tidak asing dengan situasi di situ. Dia juga mengetuk ke pintu yang pernah dilihat, dan diketuknya. Akhirnya, dia juga berjumpa dan disambut dengan sangat ramah oleh para murid yang memang sudah pernah dikenalnya.
Terhadap segala “keajaiban” yang dialaminya itu, akhirnya murid itu hanya bisa tersenyum tidak habis pikir, sekaligus terpesona. Dia memutuskan untuk menerima kenyataan dengan sebaik-baiknya dan belajar bersyukur atas pergulatan hidup yang dialaminya.***
Yang pertama ada dalam benakku saat bangun pagi adalah rasa syukur. Setiap hari aku berkata, “Tuhan, Engkau sungguh mengagumkan.” Semakin sering aku merasakannya, semakin Dia mengizinkan aku untuk melihat keindahan.
– Phil Bosmans –

