Bahagia itu Pilihan
Guru sedang duduk di teras balai pertapaan pada petang menjelang malam. Seorang murid datang kepadanya dan bertanya, “Guru, apa syaratnya agar orang menjadi bahagia?” Sang Guru memandang muridnya. Lalu sambil tersenyum, dia balik bertanya, “Anda sungguh-sungguh ingin mendapat jawabanku?” Murid itu mengangguk.
“Kebahagiaan itu sebenarnya tidak perlu dikejar-kejar. Banyak orang, dari masa ke masa, juga telah bertanya tentang apa itu kebahagiaan dan bagaimana meraihnya. Banyak Orang Bijak pun berusaha menjawabnya. Sementara ada orang mengejar kebahagiaan dengan banyak cara dan menganggap kebahagiaan itu ada dalam kekayaan, kebahagiaan ada dalam kekuasaan, kebahagiaan ada dalam keterkenalan, dalam ketampanan, dalam kecantikan. Singkatnya, orang akan bahagia “kalau” ia memiliki ini atau itu, dan pikirnya tanpa itu, aku bukan lagi orang yang berbahagia.” Guru menyampaikan dengan tenang. Aura kesahajaan rasanya mengalir kepada muridnya. “Lalu menurut Guru, apa syaratnya agar orang berbahagia?”
Jawab sang Guru, “Anda sudah dapat berbahagia dan sepantasnya berbahagia jika merasa kecil di hadapan Sang Kuasa, jika Anda lemah-lembut, jika Anda haus dan lapar akan kebenaran, jika Anda murah hati, jika Anda taqwa dan setia kepada-Nya, dan jika Anda suka damai.” “Begitukah? Mengapa Guru yakin akan hal itu?” tanya si murid. “Karena aku sendiri sudah mengalami dan melakukannya,” jawab Guru pelan.***
Jalan menuju kebahagiaan itu tidak ditaburi bunga mawar yang harum, melainkan penuh duri dan pahit.
– William Shakespeare –

