TUHAN JADIKAN KAMI ORANG YANG LURUS HATI
Renungan Harian
Kamis, 25 September 2025
ANSGARIUS HARI 45 WIJAYA
Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. (Luk 9:7-9)
Herodes raja wilayah Galilea adalah salah satu putera dari Herodes Agung yang berkuasa pada saat Yesus lahir. Ia lahir dari seorang ibu bernama Maltake. Setelah Herodes Agung meninggal wilayah Kerajaan dari dibagi menjadi 4 yang disebut dengan Tetrarka. He rodes Antipas ini, selain wilayah Galilea dia juga menguasai wilayah Perea dan Siria. Herodes Antipas, suami Herodias, seorang perempuan ambisius yang sebelumnya pernah menikah dengan Filipus, saudara ipar dari Herodes Antipas. Anak dari Herodes Agung juga. Tetapi karena Filipus kurang berkuasa- bukan seorang raja yang berdaulat. Filipus ditinggalkan Herodias untuk menikah dengan Herodes Antipas yang lebih berkuasa. Herodes Antipas sebelum menikahi Herodias juga sudah memiliki istri yang berasal dari Arabia puteri Aretas yang oleh Rasul Paulus ayahnya disebut sebagai sebagai “raja orang Damaskus” ( 2 Korintus 11:32 ). Aretas diceraikan Herodes Antipasketika dia menikah dengan Herodias isteri Filipus. Dengan Filipus Herodias telah memiliki seorang anak perempuan remaja yang bernama Salome, yang tariannya membuat kagum Herodes Antipas dan tamu-tamu kehormatan pada saat pesta ulang tahun ayah tirinya itu.
Teguran Yohanes Pembaptis bahwa pernikahannya dengan Herodias tidak sah, karena dia telah mengambil istri saudaranya sendiri yang masih hidup. Bukan hanya membuat Herodes sakit hati, tetapi terlebih membuat Herodias sangat membencinya. Karena cinta kepada istri barunya maka Herodes menangkap Yohanes dan memenjarakannya. Tidak berani membunuhnya karena Yohanes dipandang oleh orang-orang Yahudi sebagai nabi. Pada saat pesta ulang tahun Herodes berlangsung Yohanes sudah ada dalam penjara yang tidak jauh dari tempat pesta. Saat Herodes merasa sangat senang dengan tarian Salome dia tawarkan hadiah kepada putri tirinya itu. Atas desakan Herodias yang menaruh dendam kepada Yohanes, kepala Yohananes lah yang diminta sebagai hadiahnya. Kematian Yohanes dengan cara demikian tentu menimbulkan kecaman terhadap kuasa Herodes yang tamak itu dari orang-orang Yahudi yang memandang Yohanes sebagai nabi.
Para murid Yesus sangat berhasil dalam karya pelayanannya karena membawa kuasa dari pribadi Yesus. Yesus menjadi pusat dari karya mereka. Yesus yang mampu membuat berbagai macam mukjijat juga memberikan kuasa kepada para murid untuk melakukan mukjijat atas kuasa-Nya. Kabar baik dari kuasa pelayanan Yesus itu kian lama kian tersebar dikalangan masayarakat dan akhirnya sampai juga di lingkungan istana. Berita itu membuat Herodes bertanya tanya. Karena diantara masyarakat banyak yang menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis sudah bangkit. Atau paling tidak kehadiran Yesus dipandang sebagai kebangkitan Kembali nabi terdahulu seperti Elia atau Yeremia yang mereka rindukan kedatangannya kembali.
Herodes yang sadar bahwa dia pernah memenggal kepada Yohanes menjadi bertanya-tanya. Siapakah Dia ini yang memiliki kuasa dari atas, seperti kewibawaan Yohanes yang telah dia bunuh dahulu. Hatinya cemas karena takut akan kelanggengan kuasanya tidak akan bertahan lama jika orang ini hadir untuk melakukan balas dendam. Kedatangan tokoh ini dapat membangkitkan pemberontakan masyarakat Yahudi pada kekuasaannya. Hatinya bimbang. Meskipun sebenarnya dia tidak mempercayai orang bangkit dari mati sebagaimana dipercayai orang-orang Saduki atau ajaran Epicuros yang digemari banyak orang di lingkungan istananya, tetapi dia tetap merasa cemas, karena banyak orang yang mengatakan juga bahwa Yohanes, Elia, atau Yeremia telah hadir kembali sebagai Mesias yang mereka nantikan. Herodes cemas karena dia ingat apa yang telah dilakukannya terhadap Yohanes. Herodes sombong, gila kuasa dan kesenangan duniawi karenanya dia tidak sungguh ingin bertemu dengan Yesus, untuk melakukan pertobatan. Dia ingin tetap merasakan kenyamanannya untuk tetap tinggal di dalam istana dengan berbagai kemewahan dan kenikmatan yang mudah didapatkannya. Meskipun hatinya tidak pernah merasa tenteram. Herodes memiliki hati yang bengkok. Hatinya tidak lurus.
Herodes ingin bertemu dengan Yesus, bukan untuk mempercayainya, tetapi untuk melihat mukjijat-Nya yang membuat hatinya merasa senang sebagaimana banyak orang. Yesus tidak sudi menemuinya, murid-murid Yohanes pernah melaporkan kematian gurunya kepada Yesus. Mereka mengharapkan agar Yesus menyingkir jauh-jauh dari penguasa yang tamak yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri ini. Belum saatnya Yesus bertemu dengannya.
Herodes akhirnya bertemu dengan Yesus setelah Ia ditangkap (Lukas 23:8-12). Diadili dihadapan Pilatus penguasa Yudea. Karena Pilatus mengetahui bahwa Yesus adalah orang Galilea yang ada di bawah kewenangan Herodes Antipas, yang sedang berada di Yerusalem, maka Pilatus mengirimkan Yesus kepada Herodes. Herodes sangat girang bertemu dengan Yesus karena sudah lama dia ingin bertemu dengan-Nya. Dia sudah sering mendengar tentang Dia. Mengharapkan dapat melihat mukjijat-Nya. Banyak pertanyaan diajukannya kepada Yesus. Tetapi Yesus tidak memberikan jawaban apapun. Oleh sebab itu dia bersama pasukannya kemudian menista dan mengolok-olok Yesus (ayat 9-11). Mengenakan jubah kebesaran dan mengirimkannya kembali kepada Pilatus.
Yesus tidak memberikan jawaban apapun kepada Herodes karena Ia tidak ingin mukjijatnya hanya membuat orang menjadi terpesona. Kedatangan-Nya di dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, bukan sekadar mendapatkan reputasi sebagai seorang pembuat mukjizat yang hebat. Yesus ingin menjadi penebus bagi orang berdosa. Mukjizat-mukjizat itu merupakan tanda-tanda untuk membantu orang-orang percaya bahwa Dia adalah “Mesias, Anak Allah” ( Yohanes 20:30-31 ). Yesus tidak melakukan mukjizat untuk pamer kuasa dan kemampuan rohani, melainkan untuk membantu orang-orang mengatasi masalah-masalah besar mereka dan menyatakan bahwa Dia datang dari Allah.
Tuhan jadikan kami orang yang lurus hati. Ajarlah kami selalu rendah hati seperti-Mu. Tidak memamerkan harta milik, jabatan, kekuasaan dan kemampuan. Tidak menjadi tamak dan haus kuasa dan popularitas. Tetapi seperti apapun hidup kami, kami selalu hidup dengan sederhana dan ugahari. Memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan sesama kami dimanapun kami kau tempatkan di dunia ini. Selalu ingin melakukan pertobatan dan memperbaiki kualitas hidup orang orang-orang di sekitar kami. Kuatkanlah kami selalu untuk mempercayaimu dalam hidup kami, meskipun kami tidak pernah melihat mukjijat yang Engkau lakukan. Sabda-Mu yang dapat kami baca dalam kitab Suci dan Buku Doa yang kami miliki sudah cukup bagi kami menjadi pegangan untuk mempercayai-Mu sepanjang hidup kami.
Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

