Belajar dari Badut

Belajar dari Badut

Seorang murid datang ke ruang tamu pendopo guru dan berkeluh kesah, “Guru, akhir-akhir ini saya merasa tertekan. Saya tidak nyaman dengan diri sendiri. Apa saja yang saya lakukan menjadi tidak berarti. Saya tidak tahu harus berbuat apa?”

Sang Guru memandang sejenak muridnya, dan berkata, “Mari ikutilah saya.” Murid memenuhi ajakan guru dan mengikutinya. Sesampai di halaman pertapaan yang berada di bukit agak tinggi, sambil mengulurkan telunjuk, guru berkata, “Apakah Anda melihat tenda di kejauhan sana? Nah, di sana sedang ada pertunjukkan sirkus. Sirkus yang bagus. Ada banyak pertunjukkan yang dapat kita tonton, khususnya aksi badut. Ada seorang badut yang sungguh-sungguh lucu. Dia tidak hanya akan membuat Anda tersenyum. Anda akan terpingkal-pingkal. Ceria. Pergilah dan tontonlah badut itu. Barangkali Anda akan terhibur, dan Anda mendapat alasan untuk tidak depresi lagi.”

Murid itu menoleh kearah gurunya dengan tatapan mata sedih dan berkata, “Tetapi Guru, akulah salah satu badut yang pernah berada di sirkus itu.”***

Penderitaan membekali manusia untuk menjadi lebih dewasa. 

Dietrich Bonhoeffer

C. IsmulCokro

C. IsmulCokro (CB. Ismulyadi), tinggal Sleman. Pernah studi di Fak Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Fakultas Teologi Wedha Bhakti) dan Ilmu Religi Budaya USD. Sampai saat ini masih berkarya sebagai ASN. Giat dalam dunia penulisan sebagai writerpreneur, editor freelance, redaksi salah satu tabloid dan memotivasi berbagai kalangan yang akan berproses menulis dan menerbitkannya. Email: cokroismul@gmail.com. FB. Carolus ismulcokro

2 thoughts on “Belajar dari Badut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *