Pertobatan itu Berbalik Arah
Renungan Harian
Jumat, 3 Oktober 2025
Oleh Susy Haryawan
Bacaan Injil: Lukas 10:13-16 Barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.
Saudara terkasih, bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan sabda Tuhan agar kita mau bertobat. Apa yang Tuhan Yesus nyatakan adalah gambaran kota-kota yang pernah mengalami kutukan karena kedegilan atau kekerasan hati mereka. Apa yang Yesus hadapi kali ini, dalam konteks zaman Yesus malah jauh lebih keras lagi hatinya.
Mereka menolak, merasa tidak perlu mendengarkan kesaksian yang dibawa para utusan termasuk Yesus. Akibat atau dampak yang bisa terjadi adalah, tanggungan mereka lebih berat karena kedegilan hatinya. Keras hati berbeda dengan tekad yang kuat. Meskipun sama-sama untuk gigih dan kuat dalam pendirian.
Degil hati itu tidak mau mendengarkan apa yang telah berkali ulang untuk diperbaiki, direvisi, dan dibenahi agar menjadi lebih baik lagi. Secara khusus berkaitan dengan moral dan hidup bersama. Apalagi yang menyampaikan adalah utusan, dalam konteks ini adalah utusan dari Yang Kuasa.
Saudara terkasih, nasihat untuk memperbaiki diri, membenahi apa yang dirasakan tidak tepat, dan membuat lebih baik peri hidup itu sebuah hal yang baik. Namun tidak seperti apa yang dikatakan, lebih sulit menerima, mendengarkan, apalagi mengubahnya. Sudah tabiat manusia. Ego yang tersentil membuat meradang. Lebih susah lagi jika bicara untuk bertobat.
Apa itu tobat? Berbalik arah dari laku jahat menjadi lebih baik. Sederhana kata dan pengertiannya, namun melakukan atau menjalankannya tidak serta merta mudah seperti itu. Mengapa?
Ego. Susah ketika manusia yang masih terlalu kuat egonya diberi tahu. Seolah menyerang pribadi, padahal yang ditegur adalah perilakunya yang tidak semestinya. Meradang karena egonya tersinggung.
Merasa sudah atau paling benar. Lebih sulit lagi, sama juga dengan mengisi gelas penuh. Tumpah, dalam kaitan untuk tobat dan memperbaiki diri jadinya adalah penolakan atau mental. Mau merasa belum sempurna, baru bisa ada nasihat dan perubahan diri.
Lemahnya budaya reflektif. Merasa benar, sudah terbaik itu terjadi karena lemahnya budaya menilik, menilai, dan mengevaluasi diri. Apa yang terjadi adalah melihat apa yang dilakukan sudah paling benar dan sudah sempurna.
Bebal. Jika ini yang terjadi ya susah. Karena sudah tidak lagi mendengarkan, tidak mau membuka mata, apalagi hatinya. Semua sudah tumpul, bagaimana bisa refleksi, dan mau memperbaiki diri. Bebal bukan sekadar otaknya, namun juga hatinya. Keduanya sudah tidak lagi bisa dipakai.
Apa yang bisa dilakukan?
Mendengarkan sabda Tuhan. Setiap hari mendengarkan firman Tuhan. Ditambah dengan renungan-renungan yang banyak di media baik media sosial ataupun media lainnya.
Berdoa secara rutin. Mengadakan komunikasi dengan Sang Khalik, merasa diri sebagai hamba yang tidak berguna, mengosongkan diri di hadapan Allah.
Berbuat baik pada siapa saja dan kapan saja. Ini adalah buah dari membaca Kitab Suci dan berdoa. Buah dari apa yang dilakukan secara personal, berhubungan dengan yang komunal.
Memeriksa batin. Melihat, apakah yang dilakukan sudah bijaksana baik untuk diri, sesame-keluarga, Tuhan, dan alam. Jangan sampai ada yang dirugikan, demi melakukan untuk sesame ataupun Tuhan.
Doa: Tuhan Maharahim, ajarlah kami setiap hari untuk mampu melakukan perihidup yang baik. Berani berjalan di jalan yang kadang tidak populer demi menjaga kebenaran dan keadilan sosial. Sekiranya kami lalai, tersesat, atau terseret arus utama yang tidak semestinya, ajari kami mampu bertobat, berbalik arah menuju kepada kebaikan sebagaimana Engkau kehendaki, bukan semata yang kami atau khalayak umum yakini. Amin
Salam JMJ

