Romo Tan Thian Sing, MSF dalam Kenangan

Romo Tan Thian Sing, MSF dalam Kenangan

SAYA MENCATAT, MENGINGAT, DAN MEMBIASAKAN

St. Kartono

Masih rapi di sela-sela koleksi buku, ada catatan harian setahun di Salatiga dididik Rama A. Tan Thian Siang, MSF (Rama Sing). Sejumlah fakta berupa ucapan, catatan, nasihat, atau pelajaran di kelas, bahkan interaksi bersama Rama Sing (tentu saja bersama sesama novis kala itu) masih bisa saya temukan. Fakta dalam dunia jurnalistik bersifat “suci” – karena tak dicampur dengan persepsi atau tafsir penulisnya. Sepenggal catatan fakta saya kutipkan di sini.

30 Mei 1985

Pagi-pagi sekali mulai jalan kaki dari Muwardi menyibak Rawapening menuju Kerep……….

Selesai misa dan doa pribadi 12.30 makan siang. Masing-masing habis arem-arem dua. Arem-arem yang kubungkusi kemarin menimbulkan heboh, Rama Sing bilang “Wah, mangan sego thok.”  Fajar (Himawan) pun nambahi “Endi to iki isine?” … rupanya isi arem-arem saking sedikitnya sembunyi di satu ujung.

Seloroh Rama Sing di Kerep itu fakta, tapi bisa ditafsir sebagai kritik “jeru”- dalem pada pembuat arem-arem yang tidak sempurna. Padahal, isi daging atau tempe juga cukup tersedia. Tidak lagi teringat perasaanku saat itu.   Ah, masih ada arem-arem yang akan lewat lagi.

Tersurat juga di satu tanggal berbeda, ketika teman-teman lain berkendaraan umum menuju Boyolali untuk melayat keluarga – saya membonceng Honda GL metallic Rama Sing. Setiba di Pasar Tengaran – parkir mobil yang berjejer di jalan depan pasar menghalangi pandang pengendara di jalan besar – tak dinyana ada penyeberang, dalam hitungan sepersekian detik laju kencang motor Romo Sing bisa menghajar orang itu (untung tidak). Spontan Rama Sing berseru, “Baj*ngannnnn!” – itulah satu-satunya umpatan alias pisuhan Rama Magister yang tercatat. Kelak di kemudian hari ketika saya menekuni dunia linguistik, anatomi pisuhan atau umpatan itu sebagai cara berbahasa untuk melepas ketegangan. Memang fungsional, tapi saya yakin Rama Sing tidak biasa begitu.

***

Masih saya ingat, Rama Sing membawa piring beserta sendok dan garpu ke kelas. Beliau menunjukkan cara memegang sendok dan garpu, ekspresi jika lawan bicara semeja menyampaikan sesuatu. Perilaku di meja makan itu bukan sekadar pengetahuan untuk diingat, tapi mesti dibiasakan. Karena telah menjadi “muscle memory”, puluhan tahun kemudian ingatan akan pelajaran itu kembali muncul. Usai menghadiri undangan makan siang terbatas, seorang teman berkirim pesan padaku meneruskan pertanyaan pengundang, “Mas Kartono itu dulu pendidikannya apa? Saat orang lain bicara, dia perhatikan itu, pasti sendoknya dia taruh sembari menatap lawan bicara”. Jawaban dalam hati saya bahwa itu hasil pembiasaan yang diajarkan Rama Sing.

Pelajaran dari Rama Sing yang saya alami (bersama teman seangkatan) jika dibingkai dalam teori Thomas Lickona mengenai pendidikan karakter, adalah pembiasaan. Karakter adalah hasil pembiasaan. Mau menjadikan seseorang berkarakter teliti, respek pada orang lain, cinta lingkungan, jujur, ataupun menampilkan diri di hadapan pihak lain, semuanya itu harus dibiasakan. Yeach, nemo dat quod non habet – tak seorang pun bisa memberi jika ia tidak memiliki. Agar muridnya peduli dan penuh respek, Rama Sing selalu terlebih dahulu melakukannya. Terbukti: pertama kali berjumpa Rama Sing di pelataran Biara Nazareth – 25 tahun setelah pamitan Beliau di pintu biara, katanya “Kartono, saya baca tulisan-tulisanmu di KOMPAS – kamu rupanya mendalami pendidikan, ya. Teruskan itu.”. Ah, Rama Sing tetap peduli juga – saya pun peduli mendengarkan cerita panjang Beliau menjalani berbagai terapi penyembuhan perihal sakitnya. Terima kasih, Rama Sing – pendidik karakter sejati. Selamat jalan menuju keabadian, Rama. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

One thought on “Romo Tan Thian Sing, MSF dalam Kenangan

  1. Ternyata pengalaman “mendidik” cara makan dan berkomunikasi yang benar saat makan masih diteruskan pada angkatan saya, ketika Rama Sing menjadi sosius setahun sebelum terpilih menjadi Asisten IV Jenderal MSF. Luar biasa OmGuru atas catatannya. Rama Sing selalu ingat detail kita. “Fred, kamu sudah lancar bersepeda?” tanyanya ketika jumpa lagi di Ambalavo, Madagascar tahun 1999.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *