Perjumpaan dengan Rm. Sing dalam Beberapa Episode

Perjumpaan dengan Rm. Sing dalam Beberapa Episode

Rama yang halus, saleh, rendah hati dan murah senyum. Pertama kali melihat ketika Misa di Gereja St. Paulus Miki, Salatiga. Kotbah yang gandang, mudah dicerna, dan sangat ringkas namun mengena. Berharap selalu beliau yang memimpin Ekaristi kala itu.

Pas sudah di dalam biara, perjumpaan pertama masih piyek postulant atau Seminari Menengah Berthier, beliau asisten jenderal dari Roma. Percakapan sederhana, melihat Rama Sing mencuci sendiri, saya sok berani bertanya, mengapa mencuci sendiri, jawabannya di luar dugaan, kan ada Rinso, tagline-nya adalah mencuci sendiri. Sederhana dan tepat, ajaran pertama yang mengesan.

Ketemu lagi, beberapa bulan kemudian, sudah ada di novis, beliau makan malam dengan mengenakan celana pendek dan sandal jepit. Padahal magister kami kala itu meminta para novis kalau makan harus mengenakan baju minimal kaos berkerah dan sandal sepatu, bukan sandal jepit. Santai dan apa adanya, yang esensi, bukan sekadar hal yang artifisial.

Suatu siang, masih masa novisiat, hujan datang, jemuran di sotoh, atap banyak kain yang sedang dijemur. Ada beliau yang sedang juga mengangkati jemuran. Saya yang masih anak baru, beliau baru pulang dari Roma selaku asisten jenderal mau menyeret rak jemuran, beliau berkomentar dengan sangat halus, merawat itu tidak mudah, ayo diangkat bareng. Kira-kira demikian, tepatnya lupa. Lagi-lagi halus dan rendah hati.

Sekian lama setelah dikick dari skolastikat, suatu sore menjelang Misa, saya melihat beliau bercengkerama dengan satpam di GPM. Saya datang mengucapkan salam, dan lho kamu kog mengejar saya, sambil mengelus rambutnya yang sudah putih semua. Pun saya juga menjadi Mang Uban, masih sama, cara melihat dan tertawanya. Lain dengan rama-rama lainnya, yang sering tidak lagi seramah itu.

Kisah yang Terdengar dan Terlihat

Beliau, sering terlihat Misa di tengah-tengah umat, di gereja St. Paulus Miki Salatiga. Dengan mengenakan pakaian andalan beliau, kaos berkerah. Duduk bersama umat, banyak yang tidak tahu juga beliau seorang imam. Terlihat mengikuti dengan sangat khusuk, dan mendengarkan kotbah juga dengan serius.

Spiritualitas mendalam, wajar beliau menjadi pembimbing yang banyak disukai, walaupun ada beberapa yang sakit hati. Reputasinya besar, namun beliau juga masih belajar dari yuniornya. Ini luar biasa dan tidak banyak.

Masa novisiat ada rekan berkisah, bahwa ada tiga rekan kami yang nguping ketika Rama Sing sedang bertelpon, rekan ini mengangkat gagang telpon di lantai dua, dan entah setan mana yang menghinggapi mereka, sehingga cekikikan dan Rama Sing mencari siapa pelakunya. Saya lupa persis, apakah mereka mengaku, yang jelas tidak pernah ada pembicaraan di acara komunitas atau teguran di meja makan, ataupun konferensi bersama magister kala itu. Besar hati yang benar-benar baik. Hal yang bisa menjadi alasan untuk mendepak rekan Angkatan saya, namun tidak beliau lakukan. Mereka masih semua, baik yang berkisah ataupun pelakunya.

Beberapa sedulur PBMN memang masih ada yang merasa sakit hati atas apa yang Rama Tan Tian Sing, namun banyak sedulur yang menyebut, mereka keliru dalam memahami peran dan siapa yang sebetulnya menjadi “pelaku” yang seharusnya dijengkeli itu.

Melihat begitu banyak kesaksian di grup dan yang meminta untuk ditayangkan di web, terlihat bagaimana keberadaan Rama Sing mengesan di dalam hati para muridnya. Pendidikan yang menyentuh pribadi-pribadi.

Selamat Jalan Rama Sing, ngaso kanthi tentrem.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

2 thoughts on “Perjumpaan dengan Rm. Sing dalam Beberapa Episode

  1. Betul Romo Susy. Kesaksian tentang Romo Sing tiada berakhir, dan seringkali personal. Bagi yang belum kenal candaannya bisa memerah kuping atau malah baper dan sakit hati, tapi sesungguhnya beliau jujur tentang kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *