Menjadi Rumah bagi Jiwa yang Haus Makna
Sang pastor yang tak hanya berdiri di mimbar, tetapi duduk bersila di antara umat, matanya berbinar seperti bintang yang tak pernah lelah menyinari malam.Romo Sing, begitu banyak orang memanggilnya, bukan sekadar guru rohani atau pengkhotbah. Ia Adalah pendengar ulung, sahabat yang mengubah ruang percakapan biasa menjadi altar kejujuran. Ketika ia menatap Anda, dunia seolah berhenti. Senyumnya yanghangat mengajak Anda bicara, sementara tangannya
yang terbuka seakan berkata, “Di sini, kamu aman, teruskan ceritamu.”
Kenangan ini kembali muncul ketika mengikuti misa requiem-nya di Gereja Biara Nasareth Banteng hari ini, Jumat 5 Desember 2025. Misa yang dipimpin oleh Romo YB Risdiyanto, MSF selaku Provinsial MSF Provinsi Jawa ini dihadiri puluhan Romo dan Frater MSF serta ratusan umat yang mengenal maupun yang dilayani oleh almarhum. Mendengar khotbah yang disampaikan Romo Risdy tentang Romo Sing sebagai sahabat, guru dan imam mengingatkan saya akan pengalaman bersama beliau saat saya dan 29 teman lain di Novisiat MSF Salatiga. Di tengah kesibukan dan jam terbang yang tinggi dalam melayani umat, Romo Sing tetap hangat peduli dan mengenal dekat setiap fraternya. Saya termasuk yang beruntung.
Dalam beberapa kali kesempatan saya mencukur rambutnya, yang tentu saja akan mendapat coklat atau sabun mandi serta odol, beliau suka bercerita yang lucu dengan gaya yang kadang membuat kita agak telat untuk merespon dan berpikir dua kali apa maksudnya. Setelah dia tertawa baru kita paham maksudnya.
Bahasa Hati yang Sederhana
Dari singgungan Romo Risdy tentang sahabat, guru dan imam saya melihat bahwa apa pun yang Romo Sing sentuh (latihan meditasi, kelas filsafat, atau homili Minggu pagi) seakan ia menyulapnya menjadi cerita yang lekat di hati.Ia tak pernah bersembunyi di balik jargon teologis atau teori rumit. Baginya, iman bukanlah teka-teki untuk dipecahkan, tapi jendela untuk dilihat bersama. “Ya… ya… terus bagaimana?” gumamnya ketika mendengar pergumulan seseorang, seolah mengajak kita menggali lebih dalam, bukan hanya mendengar, tapi merasakan. Nasihatnya tak pernah menghakimi; ia seperti tukang kebun yang sabar menanti bunga mekar, bukan memaksanya.
Manusia, Bukan Topik Penelitian
Di tengah dunia yang kerap mereduksi orang menjadi kasus atau data, Romo Sing tetap teguh: setiap jiwa adalah misteri yang utuh. Baginya, manusia bukan objek untuk dianalisis, tapi subjek yang layak didengar. Ia tak mengukur keimanan dengan skala doktrin, melainkan dengan pertanyaan sederhana:“Bagaimana perasaanmu hari ini?”Di lain pihak, sebagaimana diungkap Kang Hari Padmo dalam WAG, pendekatannya (yang dikaitkan dengan Psikologi Humanis Rogers dan Maslow) memang sempat menuai kritik. Sebagian pembina, seperti Rm. Margo Murwanto, lebih percaya pada Antropologi Kristiani yang kaku atau bahkan Latihan Rohani Ignasian pun dianggap tidak bisa menyelesaikan persoalan. Mereka khawatir metode Romo Sing “terlalu lunak” untuk menyentuh luka psikologis terdalam.
Tapi di sinilah keajaibannya: Romo Sing tak menyangkal teori. Ia hanya percaya bahwa kehadiran yang tulus sering kali lebih revolusioner daripada metode sempurna. Ia tak mengabaikan dimensi III dalam jiwa manusia, ia justru memulai dari sana, dengan mengizinkan orang menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menjadi “kasus” yang diperbaiki. “Eksistensi seseorang,” katanya suatu hari, “bukanlah rumus matematika. Ia adalah lagu yang butuh didengar, bukan dinilai.”
Keberanian untuk Tak Sempurna Kritik yang datang bukan tak ia dengar. Ada yang menyebut pendekatannya “terlalu individualis”, terlalu memuja kebebasan ala Adler atau Fromm. Tapi Romo Sing tak gentar. Baginya, iman yang hidup Adalah iman yang berani salah, berani bertanya, dan berani tidak tahu. Ia mengingatkan kita pada pesan Victor Frankl: “Manusia bukanlah robot yang harus diatur-atur, ia adalah petualang yang sedang mencari makna.”
Di balik senyumnya yang teduh, Romo Sing membawa revolusi kecil: mengembalikan martabat manusia sebagai ciptaan yang utuh. Ia tak memaksa jawaban dari luar; ia menyalakan lilin dalam gelap, lalu berbisik, “Lihatlah, terang itu sudah ada dalam dirimu.”
Warisan yang Tak Tergoyahkan
Hari ini, di tengah zaman yang dipenuhi algoritma dan kecepatan, Romo Sing mengajarkan kebenaran kuno yang sering terlupa: kehadiran fisik dan hati yang hadir penuh adalah obat terampuh bagi kesepian jiwa. Ia mungkin tak memiliki laboratorium psikologi atau buku teks tebal, tapi ia punya sesuatu yang lebih langka, kemampuan untuk membuat setiap orang merasa dilihat, bukan hanya dilihat, tapi dipahami.
Bagi mereka yang pernah duduk di hadapannya, Romo Sing adalah bukti nyata bahwa spiritualitas sejati tak lahir dari kesempurnaan doktrin atau dari pendekatan teori psikologi tertentu yang kaku dan formil, tapi dari keberanian untuk bersimpuh di tanah manusia, mendengar deburan hati yang tak terucap, lalu berkata dengan lembut: “Aku di sini. Mari kita temukan jalan itu bersama.” Dan di situlah, dalam ruang sederhana antara dua jiwa yang saling menghormati, iman sejati mulai bernapas.
Semoga kenangan akan senyuman Romo Sing dan perspektif yang diberikan Kang Hari Padmo membuat Romo Sing semakin nyaman melenggang ke surga karena apa yang ditanamkannya di bumi mulai berhasil dipanen para muridnya.
Alfred Jogo Ena

