Romo Tan Thian Sing, “Grapyak”

Romo Tan Thian Sing, “Grapyak”

Oleh FA Adihendro

KABAR duka meninggalnya Romo Albertus Magnus Tan Thian Sing, MSF, saya terima dari kiriman whatsapp dari WAG Keluarga. Keluarga saya ikut merasakan duka yang mendalam, karena keluarga kami adalah salah satu dari keluarga yang dekat secara personal dengan Romo Sing (demikian kami memanggil beliau).

Perkenalan keluarga kami dengan Romo Sing berawal ketika Romo Sing memulai awal karyanya di Paroki kami sebagai imam muda, di  Gereja Santo Petrus dan Paulus, Paroki Purwosari, Solo, sekitar tahun 1975-1977. Pada acara sambut dan pisah Romo baru diadakan acara penyambutan di halaman belakang gereja kami, persis di depan Pastoran. Dalam acara itu, saya dan kakak saya sempat mengisi acara “demonstration show” bela diri ala anak muda. Ketika itu saya sebagai OMK yang kebetulan menjadi Pelatih Beladiri untuk anak-anak misdinar Paroki Purwosari, yang latihannya setiap hari Sabtu pagi, di halaman belakang  gereja.

Mulai dari sinilah saya berkenalan dengan Romo Sing, ketika itu Romo sebagai imam muda, baru saja ditahbiskan. Semula saya tidak tahu bahwa Romo Sing punya minat dan ketertarikan pada olah raga bela diri. Pada acara show itu saya dan kawan-kawan Pelatih (termasuk kakak saya, Mas Setyo) mendemonstasikan pemecahan balok es dengan siku, memecah beberapa ubin dengan tangan, memecah bola kelapa dengan dahi, dan pencak silat hingga peragaan yudo dan jie jit tzu. Romo Sing pada waktu itu sangat ramah, mendatangi kami, menyalami dengan senyumnya yang khas dan sapaan yang renyah bersabahat. Mungkin karena itulah saya kemudian tertarik untuk menjadi seorang Romo.

Singkat kata, setelah lulus dari SMA St, Yosef Solo, saya masuk Berhinianum (Seminari milik Kongregasi MSF, Red) dan menjalani masa Novisiat MSF di Salatiga tahun 1976. Dalam masa Novisiat, pada masa Magister Novis Romo Adi Wijaya, MSF, pada suatu kesempatan Romo Tan Thian Sing mendampingi retret kami para Novis angkatan 1976 yang diselenggarakan di Wisma Sinewente, Bandungan, Kabupaten Semarang. Kami diajak naik ke Bukit Tanggulangsi, Ungaran, untuk melakukan meditasi di alam terbuka, dan mengalami Hadirat Tuhan dalam alam semesta sekaligus memuji karya Agung-Nya.

Dari sinilah kami bisa merasakan bahwa Romo Sing sangat relijius dan sangat menekuni meditasi. Kecintaannya pada meditasi diwujudkan dengan mengusulkan adanya Ruang Doa di Skolastikat (biara tempat tinggal frater MSF Studi) di Jl Kaliurang KM 7,5, Yogyakarta. Maka disulaplah ruangan di samping sakristi menjadi Ruang Doa dan Adorasi untuk para frater. Sekaligus menjadi oase para frater yang penat dengan studi.

Setelah Novisiat, saya masuk Skolastikat sebagai Mahasiswa IFT. Dalam masa ini, saya diminta untuk menjalankan pastoral pembinaan misdinar di Paroki Banteng, sekaligus dipercaya menjadi Pelatih Beladiri untuk misdinar dan kaum muda di Paroki Banteng. Bersama Fr. Hardosuyatno MSF, kami melatih misdinar dan kaum muda setiap hari Sabtu malam. Di sinilah saya mulai dekat dengan Romo Sing, yang pada waktu itu menjabat sebagai Direktur Seminari Berthinianum, yang ternyata tertarik dengan olah raga beladiri, termasuk karate.Dalam kedekatan ini membuat saya memilih Romo Sing menjadi Bapa Rohani saya selama masa Skolastikat.

Seringkali Romo Sing mengundang saya memasuki kamarnya, di Lantai 2 dekat Ruang Rekreasi, untuk sekadar menunjukkan koleksi buku-buku Karate dan Wushu. Kita berdiskusi bareng cara-cara pengoalahan nafas untuk bisa membantu doa dan meditasi. Yang menarik dari Romo Sing adalah daya tahan ketika meditasi dan berdiam diri  selama berjam-jam. Memejamkan mata, hening, mengatur nafas sesuai dengan irama detak jantung. Saya justru belajar banyak dalam hal ini.

Dari Romo Sing saya mendapat pelajaran askese, dengan “puasa mutih” (hanya makan nasi putih dan garam saja) untuk merasakan hidup prihatin orang-orang kecil.

Saya sangat tertarik dengan pribadi Romo Sing yang sangat rendah hati, “grapyak” mau menyapa siapa saja, dari pelbagai usia tanpa membeda-bedakan. Dari usia anak-anak, remaja, dewasa, hingga opa-ama, merasa “friendly” apabila berhadapan dengan Romo Sing. Orang bisa berlama-lama bila sudah berbicara dengan Romo Sing, yang siap mendengarkan daripada berbicara. Yang khas dari Romo Sing, yang berkacamata tebal ini, adalah seringkali membetulkan kacamatanya yang tebal, dan dengan senyumnya yang polos sambil memejamkan mata (atau mata beliau memang sipit karena keturunan?).

Selama pembinaan masa Skolatikat lebih dari 7 tahun, Romo Sing tidak pernah memaksakan suatu gagasan kepada saya. Romo Sing lebih mengajak saya bisa mengenal diri sendiri dan menemukan pemecahan masalah sendiri. Hingga pada saat saya telah menamatkan studi di IFT, saya mengalami krisis panggilan yang luar biasa. Saya tidak bisa membuat keputusan mau meneruskan jadi imam atau tidak. Saya masih ingat betul, Romo Sing menasihati saya, “Frater, dalam situasi krisis, sebaiknya jangan membuat keputusan apapun. Ibaratnya kita biduk di tengah lautan, yang sedang diombang-ambingkan gelombang besar. Badai menerpa, kita tidak tahu arah ke mana melaju. Maka. jangan menaikkan layar, sebaliknya turun layar! Apabila badai telah mereda, akan kelihatan langit cerah. Dan kita bisa melihat arah yang mau kita tuju.”  Kata-kata itu terpatri dalam sanubari saya. Sehingga memutuskan menjalankan Retret Pribadi selama 30 hari di Roncalli,  Salatiga, sebelum membuat keputusan mau ditahbiskan atau tidak.

Setelah retret pribadi itu, saya tidak kembali ke Skolastikat, tetapi menjalankan pastoral di Paroki Atmodirono, Semarang. Dari sanalah, saya membuat keputusan yang tanpa beban meninggalkan jubah saya pada tahun 1984. Terima kasih, Romo Tan Thian Sing yang membantu saya menemukan diri saya sebenarnya. Jadilah pendoa kami dari surga.

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *