Berenang dalam Ketenangan, Sedikit Memoar Bersama Rm. A.M. Tan Thian Sing MSF

Berenang dalam Ketenangan, Sedikit Memoar Bersama Rm. A.M. Tan Thian Sing MSF

“Oh, yaa, yaaa, ini William ya?”, sebuah sapaan personal yang diucapkan oleh Rama Sing, saat kami berjumpa kembali di tahun 2018. Waktu itu, saya masih menjadi frater tingkat dua di Skolastikat MSF – Biara Nazaret. Beliau menatap saya dengan sorot mata yang penuh kesejukan: tenang, namun mendalam. Sorot mata yang itu tidak pudar, sama seperti saat pertama kali saya mengenalnya ketika masa Novisiat, tahun 2016.

“Bagaimana, masih sering renang?”, adalah sapaan kedua yang diberikan kepada saya. Saya bahkan sudah lupa, pada saat seperti apa dan bagaimana, saya bercerita pada Rama Sing bahwa saya memiliki hobi renang. Saya tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, malahan terhenyak dan kagum. Saya kagum, Rama Sing masih mengingat cerita sepele yang entah kapan saya ceritakan.

Pertemuan pada tahun 2018 tersebut berlangsung sangat singkat, karena terjadi ketika momen Tahbisan Imam MSF sedang berlangsung. Saya masih menjadi anggota MSF dan masih menjadi anggota domus Skolastikat, yang tentunya pasti tidak bisa terlalu banyak leren karena sedang punya gawe. Ternyata, itulah pertemuan terakhir saya dengan Rama Sing, sebuah pertemuan yang singkat namun akan selalu saya ingat.

Mengapa sepenting itu pertemuan singkat di tahun 2018 itu? Sampai tahun 2020, bahkan ketika saya sudah lepas jubah karena dinilai tidak layak menjadi bagian resmi dari MSF, saya jarang menjumpai formator yang memandang seseorang dengan sangat positif, tanpa pertama-tama menyebutkan keburukannya. Rama Sing, adalah satu dari beberapa formator yang menurut saya mampu menilai setiap orang dengan sudut pandang yang positif dan tanpa penghakiman. Tidak mengherankan, karena sependek saya tahu, beliau sudah lama bergulat sebagai edukator Personnalité et Relations Humaines (PRH), yang materinya seringkali dibagikan kepada para formandi sebagai salah satu bekal utama dalam fondasi hidup membiara.

Nah, pertemuan di tahun 2018 itu juga mengingatkan saya pada momen pengolahan diri yang saya alami bersama teman-teman seangkatan di Novisiat, yang disampaikan Rama Sing dengan menggunakan bahan-bahan PRH. Sepanjang pembinaan saya di MSF, momen rekoleksi dengan bahan PRH itulah yang paling berdampak untuk saya. Bersama Rama Sing dalam bahan-bahan PRH tersebut, saya merasa dikenali, dicintai, didengarkan, dan dicarikan solusi; bukan diinterogasi dan dihakimi. Dengan hati kebapakan yang penuh kelembutan dan cinta, Rama Sing mengajari saya untuk “menggunakan hati” dalam keseluruhan hidup, kapanpun dan di manapun.

Keutamaan ini tidak hanya nampak melalui nilai-nilai yang dibicarakan dalam ruang-ruang tertutup atau colloquium semata. Pertanyaan “bagaimana, masih sering renang?”, adalah sebuah teladan paling nyata nan sederhana yang lahir dari hati kebapakannya. Ia dekat dan hangat. Sorot matanya selalu teduh. Tawanya renyah, menenangkan.

Selamat jalan, Rama Sing. Selamat beristirahat dalam keabadian [William]

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *