Kebencian Tanpa Dasar

Kebencian Tanpa Dasar

Refleksi Atas Aksi Intoleransi di Jawa Barat

Beberapa waktu lalu, aksi intoleransi kembali mencoreng Jawa Barat. Sebuah rekaman memperlihatkan jemaat yang hendak beribadah dihadang di tengah jalan. Salah satu momen paling miris adalah ketika seorang ibu dengan atribut agama tertentu tertangkap kamera memukul perempuan yang hendak beribadat. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: mengapa kebencian seperti ini bisa berakar begitu dalam?

Benih Kebencian Sejak Dini

Sebuah cerita menarik datang dari seorang imam saat sedang berbincang santai di sebuah angkringan. Ia mengamati serombongan anak PAUD yang melintas. Gurunya berpesan dengan nada peringatan, “Awas, di sebelah kiri ada setan, jangan menoleh!” Namanya anak-anak, rasa penasaran justru memuncak. Mereka celingukan sambil berteriak, “Mana Bu setannya?” Ternyata, di sisi kiri jalan itu berdiri sebuah gereja Katolik dengan berbagai ornamen liturgis, patung, dan salib yang terlihat jelas dari jalan raya.

Pesan dari cerita ini sangat jelas: ada “pendidikan” sistematis dan penanaman stigma buruk terhadap keyakinan orang lain sejak usia dini. Reduplikasi narasi negatif yang dilakukan berulang-ulang membuat publik yang awalnya tidak tahu apa-apa menjadi ikut membenci. Padahal, secara personal mungkin tidak ada masalah.

Ironisnya, mereka yang membenci ini tetap menggunakan HP, mobil, motor, atau berbelanja di toko milik mereka yang berbeda keyakinan tanpa rasa benci. Standar ganda ini menunjukkan bahwa kebencian tersebut sering kali bersifat tebang pilih dan tidak logis.

Dominasi Mimbar dan Narasi Disintegrasi

Dulu, perdebatan mungkin hanya berkutat pada fatwa haramnya ucapan Selamat Natal di era 80-an. Namun, pasca-Reformasi, gelombang ajaran disintegrasi ini kian menguat. Ironisnya, para tokoh yang kerap muncul di media untuk mempropagandakan eksklusivisme sering lupa bahwa platform yang mereka gunakan adalah hasil teknologi dari pihak yang mereka musuhi.

Bahkan, dalam buku kaderisasi sebuah partai politik tertentu, secara lugas diajarkan untuk tidak mengalirkan rezeki ke non-Muslim. Di sana, sejarah Israel dibahas secara mendalam, namun sejarah Indonesia justru dikesampingkan. Sungguh miris melihat organisasi politik dengan pedoman seperti itu masih tetap eksis dan memiliki panggung.

Pengeras suara—yang teknologinya juga diciptakan oleh mereka yang sering disebut “kafir”—kerap menjadi sarana menebarkan kebencian. Alih-alih menyampaikan ajaran moral yang esensial, mimbar sering digunakan untuk mengejek simbol agama lain, seperti menyebut adanya “jin dalam salib” atau mempertanyakan kelahiran Yesus dengan nada merendah. Ujung-ujungnya, jika tersandung hukum, materai sepuluh ribu menjadi senjata sakti untuk meminta maaf.

Indonesia yang Terluka

Indonesia adalah bangsa yang plural. Sayangnya, keberagaman yang ada sering kali dipaksa untuk seragam. Pembiaran terhadap kebencian yang dikemas dengan bungkus agama hanya akan memperburuk keadaan. Konsep toleransi sering kali diputarbalikkan: mayoritas merasa harus selalu benar dan menang, sementara minoritas dipaksa untuk selalu mengerti, mengalah, dan akhirnya kalah.

Di sisi lain, pihak minoritas juga sering terjebak dalam sikap ingah-ingih (takut). Dengan dalih menjaga harmoni, kedamaian, dan prinsip pengampunan, mereka memilih diam dan “menyerahkan pada Tuhan”.

Namun, pertanyaannya: di mana suara kenabian? Di mana suara lembaga seperti PGI dan KWI saat aksi intoleransi nyata terjadi? Mengampuni bukan berarti membiarkan kejahatan merajalela. Atas nama kesalehan, kita tidak boleh membiarkan kebencian terorganisir tumbuh subur. Ingatlah contoh nyata ketika Yesus sendiri menjungkirbalikkan meja para pedagang di Bait Allah sebagai bentuk teguran keras.

Pancasila tampaknya kian menjauh dari jati diri bangsa ini. Penegak hukum sering kali terlihat gamang, takut, dan kalah oleh tekanan massa yang intoleran. Jika terus dibiarkan, siapakah yang akhirnya harus bertanggung jawab atas runtuhnya fondasi kebangsaan kita?

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *