MENJADI GURU BIASA SAJA
Serial 3
Belajar dari Kekerasan
SMP Xaverius- Immamuel terletak di kompleks kota tua tambang batubara sejak jaman Belanda. Tertata rapi dengan bangunan- bangunan kuno era kolonial. Aku langsung terpesona. Sekolah berupa satu gedung dengan empat kelas, ruang guru dan kamar mandi, di samping gereja paroki yang juga mungil dijaga Pastor tua dari Inggris, Pastor Carter SCJ. Guru hanya empat orang, aku, pasutri sarjana muda IPI Malang dan istrinya mantan suster, kepala sekolah sarjana muda Sadhar. Keberadaan empat guru mengajar enam kelas ( masing masing kelas paralel A dan B ), ruang kelas hanya ada empat . Artinya aku harus pegang empat bidang studi: Fisika, Biologi, Matematika dan Sejarah, harus masuk pagi dan sore. Benar-benar melelahkan tetapi anehnya aku mulai menyukai pekerjaan ini. Hubunganku dengan para siswa sangat dekat mungkin karena aku masih muda dan bujang. Yang paling njelehi ketika memghadapi anak- anak yang nakalnya kelewatan.
Ada kejadian yang tak terlupakan ketika aku sedang menerangkan materi yang sulit, ada murid yang ngaco. Ia tertawa- tawa sambil mengganggu temannya. Kutegur malah semakin meremehkan , lalu kusuruh pindah duduk di bangku paling depan. Bukan berkurang, malah tertawa- tawa seolah mengejek aku. Kesabaranku habis, spontan kuambil penggaris kayu dan kugebukkan di punggungnya sekuat tenaga. Penggaris hancur berkeping-keping sementara murid itu meringis kesakitan. Lalu ia keluar kelas sambil mengancam. Jujur aku menyesal, tambah takut dengan ancamannya. Anak-anak di sini biasa ke mana mana pisau selalu terselip dipinggang dan kalau ada masalah itu yang maju duluan. Aku keluar melaporkan kejadian ke kepala sekolah, lalu masuk kelas dengan hati tidak tenang. Murid- murid saya kasih tugas sementara aku tetap berdiri dekat kursi sambil mata fokus ke pintu. Pikiranku, kalau ia nanti kembali masuk akan kulempar kursi dan aku sempat menyelamatkan diri!
Dua hari anak ini tidak masuk, hari ketiga aku dipanggil kepala sekolah. Ternyata anak ini sedang menghadap kepala sekolah. Singkatnya, ia minta maaf atas kejadian itu, aku juga minta maaf. Persoalan selesai. Ada yang kupelajari, kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Hari Minggu aku ke kota kabupaten untuk membeli gitar sebab aku tahu anak- anak suka musik dan bernyanyi. Halaman sekolah ada pohon Tanjung yang rindang dan di bawahnya ada tempat duduk. Setiap istirahat kukeluarkan gitar dan anak- anak pun ramai berkumpul sambil nyanyi- nyanyi. Aku mulai menyukai pekerjaanku sebagai guru, ternyata aku dibutuhkan orang lain. Selama ini seperti robot bekerja, sekarang aku mulai melihat dan merasakan ada nilai lain di balik pekerjaanku.


ngeri deh kalau kawasan sono itu