Belajar dari Santo Yusuf dalam Diam dan Penyerahan
Saudara-saudara Brayat Minulyo, bacaan Injil hari ini menarik untuk direfleksikan lebih lanjut. Ada satu pesan yang menarik untuk diulik lebih mendalam. Dalam kecemasan dan pergulatan logika, Santo Yusuf mengingatkan kita, “Jangan memutuskan dalam gelap, biarkan Allah bicara dalam diam.”
Menurut refleksi saya, setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa dipetik oleh para bapak, khususnya kita yang bergabung dalam perseduluran Brayat Minulyo Nusantara.
Pertama, istirahatlah sebagai ruang kudus. Yusuf tak bertindak gegabah saat hati bimbang. Ia tidur dan justru di sanalah malaikat mendatanginya (Mat 1:20). Keputusan besar lahir bukan dari kelelahan pikiran, tapi dari ketenangan yang membuka pintu bagi Roh Kudus. Dalam tidur, kita membiarkan Allah bekerja dalam roh kita.

Kedua, percayalah ketika logika gagal. Yusuf mengubur rencana manusiawinya: ia mengambil Maria, meski dunia mencibir. Iman sejati justru bersinar ketika akal buntu seperti Yusuf yang memilih Imanuel (“Allah menyertai”) alih-alih penjelasan rasional mengapa tunangannya sudah mengandung dari Roh Kudus. Yusuf tidak perlu menggugat Allah, mengapa Allah tidak meminta izin padanya.
Ketiga, jadilah penjaga yang diam-diam setia. Yusuf tak pernah memegang mikrofon, tapi ia menjaga Sang Juruselamat dengan kerja tangan dan doa. Kepemimpinan sejati bukan tentang kontrol, tapi tentang melindungi ruang bagi karya Allah bertumbuh dalam keluarga.
Catatan senada paling kurang pernah digarisbawahi oleh Pater JB. Berthier pendiri MSF, tempat kita dulu menimba spiritualitas Keluarga Kudus. Tentu bukan soal lama atau singkatnya kita dibenum, tetapi bagaimana kita membuka hati pada nasihatnya. Saya membayangkan Pater Berthier menasihati “anak-anaknya” baik yang masih di dalam maupun yang sudah di luar seperti kita:
“Keluarga Kudus adalah sekolah kerendahan hati. Di sana, Yusuf mengajari kita: kekuatan seorang bapak terletak pada keberaniannya melepaskan diri dari keinginan mengatur segalanya, dan percaya bahwa Allah lebih tahu. Tidurlah dalam damai-Nya di sanalah rencana-Nya mulai bersinar.”
Saudara-saudara, dalam persaudaraan Brayat Minulyo, ingatlah: setiap malam yang dilewati dalam penyerahan adalah kesempatan Allah menyusun kembali hatimu. Seperti Yusuf, biarkan Allah bekerja lewat diammu. Sebab di balik ketulusan yang lelah, Imanuel menunggu untuk lahir kembali dalam keluargamu. “Dalam tangan bapak yang mampu berhenti, Allah menggenggam masa depan.”
Para sedulur Bramin yang terkasih, di ambang perayaan ini, biarkan keluarga kita menjadi “Betlehem” kecil, tempat kecemasan dititipkan pada-Nya, dan diammu dipenuhi keyakinan: Allah sudah dekat. Seperti Yusuf menyiapkan palungan bagi Sang Sabda, persiapkanlah hati lewat kebersamaan, doa sederhana, dan kerelaan melepaskan kendali.
Natal bukan sekadar hari yang ditunggu, melainkan kehadiran yang mengubahkan rumah kita menjadi bait kasih-Nya. Selamat datang, Yesus lahirlah dalam hati kami yang rela diam seperti Yusuf. Di sana, di antara gelak tawa anak-anak dan senyum istri yang letih, Kau nyatakan: Aku menyertai.

