Terpaksa Jadi Guru
Serial 2
MENJADI GURU BIASA SAJA
Kuliah di Diploma 1 kujalani setengah hati, kadang jengkel dan jealous dengan mahasiswa S1 yang meremehkan. Mestinya aku di sana, kata dalam hati. Tampilanku tetap slengekan dan cuek, dengan rambut gondrong gak ada potongan calon guru. Lho siapa yang pingin jadi guru? Aku tidak pernah tertarik menjadi guru walaupun Bapak juga mantan guru. Kalau kuliah , jangankan bawa tas, buka dan alat pun tak ada. Oglangan! Tetapi aku rajin masuk, kuliah sore. Ada kejadian lucu, kalau sore di masing- masing ruang dosen disiapkan segelas teh. Karena haus, aku sering masuk ruang dosen ( sepi) dan minum teh jatah dosen. Mungkin karena sering, suatu hari seorang dosen ( kalau nggak salah Romo Susila SJ) , di kelas menyinggung kalau ada mahasiswa yang suka minum tehnya dosen. Semua diam, tetapi beberapa yang tahu cuma menahan tawa. Aku jalani rutinitas yang membosankan, hiburannya ada mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia yang kelihatannya suka sama aku, kebetulan nglaju dari Bantul. Ah, tiap hari ngampiri dan mulangkan. Lumayan!
Ada yang menarik selama setahun kuliah aku menghabiskan tiga kartu perpustakaan, dan tak satu pun buku Fisika yang kupinjam. Semua tentang sastra dan karya sastra. Nggak tahu aku bisa keranjingan baca karya sastra. Saat itu belum terbersit menulis, tapi rakus membaca.
Memasuki semester 2, ada mata kuliah Praktek Mengajar selama tiga bulan. Anehnya, aku jalani biasa saja, tidak ada takut atau kuatir. Mungkin pembawaanku yang cuek padahal aku mengajar di SMP Stella Duce yang cewek semua, usiaku baru 19 tahun! Yang terasa aneh ketika dipanggil ” Pak”. Ah, peduli amat aku tetap belum tertarik jadi guru!
Aku tamat pertama karena tidak ada mata kuliah yang mengulang dan nilai- nilainya bagus. Ada yang bilang aku itu mahasiswa ” nyentrik”, tapi pinter, apalagi aku suka pakai pakaian hitam. Mbuh raweruh! Yang jelas selama kuliah di Diploma, diam- diam aku menjauhi pacarku karena merasa minder dan kecewa dengan diri sendiri.
Tidak sabar menuggu pengangkatan PNS, aku mencari lowongan sendiri dan diterima di Yayasan Xaverius Sumatra Selatan dibawah Kongregasi SCJ. Aku hanya pingin cepat- cepat pergi jauh dari rumah maka kuterima tawaran itu. Singkatnya, aku berangkat ke Sumatera dengan tujuan kota Baturaja. Sambil menunggu pergantian semester, sementara aku mengajar Fisika dan Matematika di SMP Xaverius Baturaja selama tiga bulan. Yang menyenangkan hampir semua guru berasal dari Jawa, bahkan kepala sekolah dari Yogya. Kujalani mengajar tanpa perasaan tanpa motivasi seperti robot. Kalau ingat itu, kog berani ya aku saat itu? Selama tiga bulan di Baturaja tidak ada hal istimewa mungkin juga karena statusku yang sementara. Selama aku jauh dari rumah, konon Simbok merass kehilangan dan Bapak merasa bersalah karena tidak bisa menguliahkan aku.
Libur panjang pergantian semester sebulan aku ditawari oleh Romo Delegatus Pendidikan Keuskupan Palembang untuk turne ke stasi- stasi pelosok, keliling daerah Sumatera Selatan. Aku bisa melihat Belitang , warga transmigrasi zaman Belanda dengan hamparan sawah subur dan irigasi yang teratur, daerahnya disebut Bendungan 1,2,3 dst. Nama desa- desa di Jawa lengkap dengan tradisinya. Gereja maju pesat di sini. Rupanya Belanda menyiapkan lahan dan infrastruktur dengan baik, sangat beda dengan daerah transmigrasi bikinan pemerintah Indonesia. Pengalaman yang mengasyikkan menjelajah daerah dari stasi ke stasi ( mungkin, sekali lagi mungkin pengalaman ini nantinya yang mempengaruhi keinginan bergabung ke MSF). Ada stasi kecil namanya Tanjung Sakti di ketinggian Gunung Dempo yang sangat dingin, umat hanya bebera orang asli Sumatera dan Cina. Pastor berkunjung ke rumah- rumah umat. Ada susteran kecil dengan karya klinik kesehatan. Tempat yang terpencil tetapi indah apalagi aku ke sana pas musim kopi berbunga. Sepanjang jalan dinaungi pohon kopi dengan bunga- bunga putih bak melati. Aromanya wangi…
Pulangnya ada Suster manis dan ramah dari Klepu numpang mau ke Palembang. Lumayan ada teman ngobrol. Semoga Suster ( lupa namanya) sehat- sehat saja dan masih setia dengan panggilannya.Awal semester Juli 1981 secara sah dan formal aku diangkat sebagai guru SMP Xaverius Tanjung Enim.

