Dua Jiwa, Satu Panggilan Abadi: Mengenang Mas Edi Susilo dan Kristianto

Dua Jiwa, Satu Panggilan Abadi: Mengenang Mas Edi Susilo dan Kristianto

 
Kemarin sore dan hari ini, langit Yogaykarta (meski cerah dan panas) seolah berbisik dalam diam. Di satu sisi, Mas Agustinus Edi Susilo, senior kami di Tarekat Keluarga Kudus, pergi menyusul panggilan-Nya, pukul 15.30 di RSPR Yogyakarta. Di sisi lain, peringatan 100 Kristianto Mateus, sahabat seperjuangan, meninggalkan jejak kasih yang tak terhapus di hati keluarga dan sahabat.

Dua kepergian yang berbeda waktunya, namun menyatu dalam satu kebenaran: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45). Di antara air mata dan doa, kita diingatkan pada pesan Pater JB Berthier: “Kematian bukanlah akhir perjalanan, tetapi pintu gerbang menuju rumah yang sesungguhnya.”

Mas Agustinus Edi Susilo, Sang Pemersatu yang Kini Beristirahat di Pelukan Bapa
Bagi kami para mantan yang pernah bergabung dan dibenum dengan lama yang bervariasi di Tarekat Keluarga Kudus, Mas Edi bukan sekadar senior, ia adalah jembatan kasih yang menghubungkan generasi. Suaranya yang hangat dalam doa Rosario, nasihatnya yang bijak jika dimintai pendapat, dan senyumnya yang tak pernah lekang meski badai hidup menerpa, adalah cermin jiwa yang hidup dalam kepasrahan.

Ia yang juga seorang ahli kimia lulusan UGM tahun 1978 mengajarkan bahwa pelayanan sejati dimulai dari hati yang tulus: “Bukan tentang seberapa besar peran kita, tapi seberapa tulus kita menjadi tangan-Nya bagi sesama.”

Kepergiannya mengingatkan kita pada kata-kata Pater Berthier: “Mereka yang setia dalam hal-hal kecil akan dipercaya dalam hal-hal besar, bahkan dalam kematian yang tenang.” Selamat jalan, Mas Edi. Kami percaya, di surga sana, engkau kini menjadi bintang yang menyinari jalan kami yang masih berjuang di bumi.

(Karangan bunga dari Paguyuban Brayat Minulya Nusantara untuk alm. Mas Edi Susilo. Ini tanda cinta dan kehadiran kami yang tersebar di seluruh Indonesia)

Kristianto Mateus, 100 Hari Menuju Rumah yang Tak Berakhir
Tepatnya tadi malam, genap 100 hari Kristianto Mateus, sahabat seperjuanganku baik di novisiat, skolastikat juga di ladang misi Madagascar, berpulang. Dalam tradisi Jawa, 100 hari adalah momen jiwa melepaskan ikatan duniawi, namun bagi kami, ini adalah undangan untuk merayakan keabadian.

Krist, panggilan akrabnya bagi kami, adalah sosok yang menjalani hidup dengan semangat “srawung”, bergaul tanpa batas, membantu tanpa pamrih dengan senyum selalu menghias bibirnya. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu tuntas mengulurkan bantuan.

Baginya, hidup adalah kesempatan untuk menjadi sahabat bagi yang kesepian. Pesan Pater Berthier kiranya pas saya sematkan untuk Krist, “Di surga, tak ada lagi kata ‘selamat tinggal’, hanya ‘selamat datang’ yang abadi.” Tadi malam saya menyalakan lilin dan keluarga kecilmu merayakan Ekaristi bersama teman kelas kita, Romo Iie bukan untuk berkabung, tapi untuk mengingat: cahayamu masih menyala dalam kenangan kami.

Di Antara Bumi dan Surga, Pesan Pater Berthier untuk Hati yang Merindu
Bagi yang ditinggalkan, kepergian sering terasa seperti luka yang tak kunjung sembuh. Namun Pater JB Berthier, sang pendiri Tarekat Keluarga Kudus yang pernah menulis tentang misi kepada “yang hilang dan terlantar”, mengingatkan: “Allah tak pernah mengambil seseorang tanpa menggantinya dengan kasih yang lebih dalam.”

Bagi keluarga Mas Edi, bagi kami yang merindukan Krist, inilah saatnya merengkuh kepercayaan: mereka bukan lenyap, melainkan pulang lebih dulu. Dalam ritual 100 hari, kami tak hanya menghitung hari, kami menghitung kasih yang tak terukur. Dalam doa sebagaimana yang kita hidupi bersama dalam Tarekat Keluarga Kudus, kami tak hanya mengenang, kami menabur harapan bahwa suatu hari nanti, kami akan bertemu lagi di meja perjamuan surgawi.

***
Malam ini (malam pertama untuk Mas Edi), di bawah langit yang sama, dua jiwa itu kini tenang dalam pelukan-Nya. Mas Edi, yang hidupnya adalah contoh kesetiaan dalam pelayanan; Krist, yang kepergiannya mengajarkan kami arti persahabatan sejati.

Biarlah air mata kami menjadi benih iman: bahwa kematian bukanlah akhir, tapi kelahiran kembali dalam terang-Nya. Seperti kata Pater Berthier, “Setiap kepergian adalah undangan bagi yang masih di sini untuk hidup lebih berani, lebih mengasihi, dan lebih percaya.”

Selamat beristirahat dalam damai abadi, saudara-saudaraku Mas Edi dan Krist. Kami akan terus berjalan, membawa cahaya yang kalian wariskan, hingga nanti, di seberang sana, kita bernyanyi bersama dalam kidung kekal.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

One thought on “Dua Jiwa, Satu Panggilan Abadi: Mengenang Mas Edi Susilo dan Kristianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *