Hak dan Kewajiban: Membedakan Egois dan Self-Love

Hak dan Kewajiban: Membedakan Egois dan Self-Love

Belajar dari Fenomena Ibu-ibu Ngamuk di Angkutan Umum

Miris rasanya melihat etika hidup bersama belakangan ini. Sebuah video viral menunjukkan seorang ibu mengamuk karena tidak diberi tempat duduk oleh penumpang muda. Padahal, si anak muda sudah menjelaskan bahwa ia sedang tidak enak badan dan mengalami sakit kepala hebat. Namun, si ibu tetap tidak terima; ia merasa karena faktor usia, ia mutlak berhak atas kursi tersebut.

Tanpa bermaksud memihak, fenomena ini memperlihatkan kecenderungan masyarakat kita yang haus akan hak dan penghormatan, namun abai terhadap kewajiban dan rasa hormat kepada sesama.

Dilema Kursi Prioritas

Dalam aturan angkutan umum, kursi prioritas memiliki peruntukan khusus. Namun, dalam kasus ini, si anak muda duduk di kursi reguler. Secara aturan, ia tidak melanggar apa pun. Memberikan tempat duduk di kursi reguler adalah tindakan sukarela—sebuah bentuk empati dan etika, bukan kewajiban hukum yang memaksa.

Melihat tayangan tersebut, legitimasi “hak” si ibu sebenarnya gugur seketika saat ia mulai melontarkan makian. Ada kontradiksi di sana: ia meminta dihormati, namun caranya sangat tidak hormat. “Wong minta kok songong,” istilahnya. Akan sangat berbeda jika ia meminta dengan wajah teduh dan ramah; empati orang lain pasti akan terketuk.

Bahkan, si ibu sampai menuntut melihat KTP penumpang tersebut. Ini sudah melampaui batas wewenangnya. Ia menuntut haknya sebagai orang tua, namun lupa akan kewajibannya sebagai orang tua untuk menjaga laku, ucapan, dan sikap. Jika ia memang selemah itu hingga harus duduk, logikanya ia tak akan punya energi untuk memaki-maki dengan beringas.

Antara Egois dan Self-Love

Sering kali dalam hidup bermasyarakat, seseorang dianggap egois padahal ia sedang mempraktikkan self-love. Apa bedanya?

  • Egois: Hanya memikirkan diri sendiri tanpa memedulikan dampak bagi orang lain. Fokusnya adalah “aku harus diutamakan di atas segalanya.”
  • Self-Love (Cinta Diri): Mampu menghargai batasan diri sendiri. Jika memang lelah atau sakit, ya beristirahat. Kita tidak wajib menyenangkan semua orang jika itu menyiksa diri sendiri.

Tindakan si anak muda yang mempertahankan kursinya karena sakit adalah bentuk self-love. Mengasihi diri sendiri itu perlu; yang keliru adalah atas nama “kebaikan” atau “tak enak hati”, kita membiarkan diri kita sendiri menderita.

Jebakan “Takut Religius”

Hal serupa sering terjadi dalam ranah spiritual. Sebagai orang beriman, kita sering diajarkan untuk selalu mengalah dan mengampuni. Namun, sering kali “mengalah” ini hanyalah kedok dari rasa takut akan konflik atau sekadar mencari aman.

Harmoni dan damai memang baik, namun konfrontasi yang benar juga diperbolehkan. Perilaku intoleran atau kesewenang-wenangan sering merajalela bukan hanya karena hukum yang lemah, tetapi karena orang-orang baik (termasuk umat beriman) tidak berani bersikap tegas.

Tuhan Yesus adalah model hidup kita. Ia menyatakan sikap dengan gamblang. Saat melihat Bait Allah dijadikan tempat berdagang, Ia tidak diam. Ia menjungkirbalikkan meja-meja pedagang. Itu adalah tindakan tegas, bukan kompromi yang semu. Yesus tidak merasa bersalah karena bertindak benar.

Mengembalikan Logika Berpikir

Kekacauan logika kita sering terlihat saat kita membela hal yang salah hanya karena satu sisi emosional. Contohnya, membela debt collector yang menggunakan kekerasan hanya dengan alasan “mencari nafkah halal”. Kita sering mengedepankan satu sisi dan mengabaikan sisi kemanusiaan yang lain.

Mari kita luruskan kembali logika hidup bersama. Menghormati yang tua adalah kewajiban moral, namun menjaga martabat melalui perilaku yang baik adalah kewajiban bagi setiap orang, berapa pun usianya. Jangan campur adukkan egoisme dengan hak, dan jangan takut mencintai diri sendiri di tengah tuntutan dunia yang sering kali tidak masuk akal.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *