Benih Itu Mulai Tumbuh

Benih Itu Mulai Tumbuh

Serial 4
MENJADI GURU BIASA SAJA

Di kota tua Tanjung Enim ini benih panggilanku menjadi guru mulai tumbuh. Aku merasakan ada rasa bahagia dan kepuasan batin setiap kali mengajar dan berinteraksi dengan anak anak yang lagi beranjak dewasa. Aku merasakan hidupku berguna dan dibutuhkan orang lain. Sebagai guru Fisika aku berinovasi menciptakan alat- alat peraga sederhana sehingga anak- anak bisa belajar bereksperimen. Lembar kerja stensilan dari alat seperti sablon. Menyaksikan anak- anak antusias belajar rasanya menyenangkan.

Termasuk ngompori anak- anak agar lanjut SMA di Yogya. Ternyata jadi guru itu asyik ! Namun rupanya gejolak ambisi dan obsesi menjadi sarjana tidak pernah padam. Konflik batin ini terus bergolak: antara panggilan menjadi guru versus meraih sarjana. Aku merasa layak mendapatkannya, tidak hanya pada posisi ini ( Diploma1). Akhirnya, aku juga win win solution: aku mau jadi guru dengan syarat diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah hingga sarjana.

Untuk meredam gejolak batin, kusampaikan ide ini ke Romo Ketua Yayasan. Romo memgapreasi semangat belajarku tetapi tidak memberi solusi. Belum ada preseden guru dikirim kuliah lagi oleh Yayasan. Prioritas masih memenuhi kekurangan guru terutama di daerah. Kecewa, ya karena aku harus memilih: lanjut atau mundur. Akhirnya kuputuskan untuk mundur dengan alasan: aku masih muda, mumpung belum menikah. Aku tidak mau menyesal seumur hidup karena tidak bisa sarjana, selagi masih ada peluang.


Singkatnya, aku mundur dari Yayasan sebagai guru SMP Xaverius per Juli 1982 dan mendaftar di MIPA Fisika UGM. Aku pulang ke Yogya juga dititipi tiga siswa yang mau lanjut SMA di sanal. Benih yang baru tumbuh itu pun akhirnya tertimbun pasir. Aku pun diterima di UGM.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *