Petualangan Baru

Petualangan Baru

Serial 5
MENJADI GURU BIASA SAJA

Akhirnya impian itu terwujud– menjadi mahasiswa UGM. Rasa bangga dengan buktikan bahwa aku bisa, aku tak sebodoh yang disangkakan orang. Rasa percaya diriku pun pulih kembali. Ini juga membanggakan keluarga, kakak pertama mahasiswa FMIPA – Matematika, kakak kedua fakultas Pertanian, aku FMIPA- Fisika ( nantinya adikku juga menyusul Teknologi Pertanian) dan semuanya UGM. Ingatase cuma anak petani gurem!


Jujur ada kerinduan untuk mengajar anak-anak, dan ini kusalurkan dengan menjadi tutor ( pengajar) pada lembaga Bimbingan Belajar tetapi rasanya beda, kedekatan dengan siswa tidak sama dengan menjadi guru sekolah. Tidak ada totalitas kecuali mengejar jam tayang demi honor.


Ketika masuk semester kedua, rasa jenuh mulai muncul, setiap hari dicekoki dengan berbagai rumus-rumus rumit fisika kwantum, termodinamika, bahkan reaksi berantai atom, tambah kalkulus deferensial integral dan praktikum kimia di laboratorium. Dalam pikiranku, tahun pertama saja sudah seperti ini, apalagi tahun-tahun selanjutnya apa nggak makin mabuk? Belum ditambah dosen- dosen yang tidak komunikatif, cenderung killer. Opo tumon ujian satu kelas tidak lulus semua, nilai D dan E!
Tetapi ada matakuliah yang justru menarik bagiku, Agama Katolik, yang diampu oleh seorang Frater Jesuit. Kuliah biasanya di kapel atau ruang baca Kolsani Kota Baru. Mungkin ini pertama aku bersinggungan dengan komunitas religius. Frater juga menarik cara ngajar dan materinya menantang. Aku sering berkunjung ke perpustakaan Kolsani untuk baca- baca. Bukan buku- buku Fisika, tetapi justru humaniora , spiritual, atau filsafat.


Aku mulai berpikir hidup sebagai biarawan (Jesuit) itu asyik juga. Pastor dan Frater tampak mandiri dan otentik tapi juga pintar. Aku pernah curhat mengenai pikiran/ perasaan ini kepada Frater tetapi tidak dianggap serius. ” Panggilan itu prosesnya panjang, lebih baik kamu fokus kuliah dulu toh di Jesuit ilmu profan juga nantinya dibutuhkan,” katanya. Aku mengiyakan dan melupakan hal itu! Kembali menjadi mahasiswa, seperti biasa bahkan pengalaman setahun menjadi guru hanya tinggal kenangan, tak ada keinginan sama sekali untuk kembali.
Suatu sore aku bermain ke rumah teman kuliah ( tamatan Mertoyudan) di Ganjuran, lalu diajak jalan-jalan ke gereja paroki ( waktu itu belum menjadi tempat ziarah seperti sekarang). Tiba- tiba perhatianku tertuju pada brosur yang ditempel pada papan pengumuman: dibuka pendaftaran Seminari Berthinianum sebagai calon Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Entah mengapa berhari- hari pikiranku dihantui pengumuman itu padahal baru saat itu juga kenal kata MSF. Ada dorongan kuat untuk mendaftar meskipun juga gamang. Aku tahu orangtua pasti tidak setuju, maka kukatakan hanya iseng, coba-coba dan belum tentu diterima. Singkatnya, aku diterima dan kalau mau harus masuk asrama mulai menjalani kehidupan membiara. Sebuah petualangan baru !

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *