Memulai Lagi.. .

Memulai Lagi.. .

Serial. 8
MENJADI GURU BIASA SAJA

Suatu hari di tahun 1992 aku mengunjungi kakak pertama yang sudah menjadi dosen di Mipa Matematika Universitas Udayana. Dari ngobrol diinfokan kalau Politeknik sedang buka lowongan dosen. Tanpa ada rencana, mumpung berada di kampus, kami pun ke kampus Politeknik yang waktu itu masih bagian dari Udayana. Ternyata sedang berlangsung tes tertulis, dan kami iseng tanya apakah aku boleh ikut tes, administrasi akan diurus kakak. Gak nyangka, diijinkan dan aku pun mengikuti tes tertulis. Tidak sampai satu bulan, ada surat pemberitahuan kalau saya lolos dan diminta segera tes interviu. Singkat cerita aku diterima sebagai dosen PNS Politeknik. Kupikir proses masih lama sampai menunggu SK penugasan ternyata aku diminta segera kerja dengan gaji dari proyek Australia yang mengelola Politeknik waktu itu. Masalah pun timbul karena aku masih terikat kontrak ikatan dinas dengan Yayasan. Ada ketegangan, akhirnya ada win win solution, aku tetap mengajar di Yayasan sebagai bentuk balik jasa tetapi turun status dari guru tetap menjadi honorer. Kalau dipikir- pikir Tuhan selalu membuka jalan baru bagiku tetapi ada yang bilang aku hanya bisa memulai tapi tidak bisa mengakhiri. Bahkan istri pernah cerita, sebelum menikah seorang Romo mengingatkan agar hati- hati karena aku orang yang tidak konsisten, suka pindah- pindah. Jangan-jangan istri juga suka ganti- ganti. Ya terserah kalau nggak percaya, ya nggak jadi nikah aja, jawabku waktu itu.
Aku memulai babak baru sebagai. dosen PNS– sesuatu yang tidak pernah kuharapkan karena aku sadar sebagai anak yang bapaknya dilabeli ” Tersangkut” sudah tidak bisa jadi pegawai negeri. Salah satu alasan kuat mengapa kami pergi jauh dari rumah untuk menghilangkan jejak, dan memulai lembaran baru. Kakak nomor 2 sebenarnya sudah jadi dosen di Universitas Brawijaya Malang, tetapi hati tidak tenang siapa tahu ada orang sentimen lalu melaporkannya. Daripada dipecat lebih baik mundur.
Tantangan mulai muncul karena aku tinggal di Singaraja ( masih punya tanggungjawab ngajar di Yayasan) sementara kampus di Bukit Jimbaran Denpasar yang berjarak 100 km. Selain itu gaji dosen baru juga sedikit, mk istri tetap menjadi tulang punggung finansial. Nglaju 100km naik turun gunung Bedugul benar- benar melelahkan. Gaji hanya cukup untuk biaya transpor. Ketika bosan istri mengingatkan agar aku bertahan. Mempertahankan profesi dosen ternyata mahal harganya! Saat itu kami sudah bisa punya mobil seken Colt sehingga pulang ngajar aku bisa kulakan sayur di Bedugul dan telur di Tabanan, di rumah buka warung yang diurus pembantu. Pada titik ini, aku hanya dosen biasa, datang pada jam mengajar dan pulang, tidak ikut kegiatan lain.
Sekitar tahun 2004 muncul persoalan di tempat kerja istri, pergantian manajemen: dulu semua operasional dipegang owner sebagai perusahaan keluarga dan istri dipercaya memegang bidang keuangan ( accounting), sekarang dipegang manajer dari luar sebagai operasional. Owner tetap mempertahankan istri di keuangan sebagai perwakilan keluarga sementara manajer tidak suka ada orangnya owner di bidang yang vital sebagai ” mata- mata”. Karena merasa terjepit dan banyak tekanan dari manajer yang baru istri resign. Sebenarnya secara ekonomi hidup kami cukup layak, sudah memiliki rumah di komplek yg menurut ukuran kota kecil ” elit”, mobil walaupun seken punya. Namun dengan mundurnya istri pasti akan berpengaruh besar terhadap kondisi ekonomi. Apa yang harus kulakukan? Apa arah dan kehendak Tuhan di balik semua ini?

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *