AWAS! TERORIS ADA DI SEKITAR KITA
Terorisme sering dipahami sebagai tindakan sadis seperti pengeboman, penembakan atau penyanderaan. Padahal kata dasar ” teror” berarti sesuatu yang menimbulkan ketakutan, maka ” teroris” adalah orang yang memaksakan kehendak atau mau meraih tujuan dengan ancaman yang menimbulkan ketakutan.
Anak- anak yang jika minta sesuatu dan tidak dikabulkan dengan mengancam mau minggat sehingga orangtua takut juga masuk kategori teroris. Bahkan balita yang nangis gulung koming di depan umum agar orangtua mau menuruti keinginannya juga teroris. Isri yang ngambeg, suami yang suka mengancam juga kaum teroris.
Budaya teror itu berlawanan dengan budaya dialog. Ketrampilan berdialog mesti dilatih sejak dini, belajar negoisasi, kompromi, dan win win solution. Setiap orang punya hak sehingga keinginan tidak boleh menabrak hak orang lain tanpa kompromi.
Toleransi saja tidak cukup karena ada keterpaksaan. Dialog berarti mencoba memahami dan menghargai hak orang lain. Mayoritas seringkali sulit memahami hak- hak minoritas sehingga mudah melakukan teror terhadap minoritas. Dalam masyarakat, pemeluk keyakinan yang berbeda dari keyakinan mayoritas rentan mengalami persekusi atau teror.
Di sekolah, bully bisa dikategorikan teror karena pihak yang kuat memaksakan kehendak dengan ancaman verbal bahkan tindakan fisik.
Nah, selama pencapaian tujuan dilakukan dengan ancaman ketakutan dan tindak kekerasan bisa dikategorikan terorisme apa pun bentuknya.
Anak- anak yang jika minta sesuatu dan tidak dikabulkan dengan mengancam mau minggat sehingga orangtua takut juga masuk kategori teroris. Bahkan balita yang nangis gulung koming di depan umum agar orangtua mau menuruti keinginannya juga teroris. Isri yang ngambeg, suami yang suka mengancam juga kaum teroris.
Budaya teror itu berlawanan dengan budaya dialog. Ketrampilan berdialog mesti dilatih sejak dini, belajar negoisasi, kompromi, dan win win solution. Setiap orang punya hak sehingga keinginan tidak boleh menabrak hak orang lain tanpa kompromi.
Toleransi saja tidak cukup karena ada keterpaksaan. Dialog berarti mencoba memahami dan menghargai hak orang lain. Mayoritas seringkali sulit memahami hak- hak minoritas sehingga mudah melakukan teror terhadap minoritas. Dalam masyarakat, pemeluk keyakinan yang berbeda dari keyakinan mayoritas rentan mengalami persekusi atau teror.
Di sekolah, bully bisa dikategorikan teror karena pihak yang kuat memaksakan kehendak dengan ancaman verbal bahkan tindakan fisik.
Nah, selama pencapaian tujuan dilakukan dengan ancaman ketakutan dan tindak kekerasan bisa dikategorikan terorisme apa pun bentuknya.

