JANGAN BERHENTI PADA MUKJIJAT (Fungsi Mukjizat Yesus dalam Pewartaan Injil)
Belum lama ada berita viral di salah satu paroki di Medan tentang ” Hosti yang tidak ada habisnya” saat Misa Natal. Saat itu di tabernakel sangat terbatas sementara umat yang hadir melimpah tetapi apa yang terjadi? Semua umat kebagian komuni bahkan masih bersisa. Mukjijat, itulah yang diviralkan konten kreator. Umat Katolik memang paling suka mukjijat. Akhirnya Pastor Paroki membuat klarifikasi di yutube, kejadian itu bukan mukjijat tetapi berkat kesigapan seorang tokoh umat yang melihat situasi genting, langsung mencari tambahan komuni di kapel susteran dekat gereja sehingga kekurangan hosti bisa terhindarkan.
Mukjizat-mukjizat Yesus menempati tempat penting dalam pewartaan Injil. Namun, Injil tidak pernah menampilkan mukjizat sebagai tujuan utama karya Yesus, seperti pertunjukan sulap atau msgic show, melainkan sebagai tanda (Yunani: sēmeion) yang menunjuk pada sesuatu yang lebih dalam: kehadiran Kerajaan Allah dan kasih Allah yang menyelamatkan manusia. Nerikut fungsi mukjijat dalam pewartaan Injil:
Pertama, mukjizat berfungsi sebagai penegasan pewartaan. Ketika Yesus mewartakan pertobatan, pengampunan, dan kasih Allah, mukjizat menjadi wujud nyata bahwa sabda itu memiliki kuasa. Penyembuhan orang sakit, pengusiran roh jahat, dan kebangkitan orang mati menunjukkan bahwa Kerajaan Allah bukan sekadar kata-kata, melainkan realitas yang bekerja dalam hidup manusia.
Kedua, mukjizat mengungkapkan belaskasih Allah. Yesus tidak melakukan mukjizat untuk memamerkan kuasa ilahi, melainkan karena tergerak oleh belas kasihan terhadap penderitaan manusia. Dalam setiap penyembuhan, Injil menampilkan Allah yang peduli, dekat, dan berpihak pada mereka yang kecil, tersingkir, dan terluka.
Ketiga, mukjizat menjadi undangan untuk beriman. Banyak orang yang menyaksikan mukjizat justru diajak melangkah lebih jauh, dari kekaguman menuju iman sejati. Karena itu Yesus kerap menegaskan bahwa imanlah yang menyelamatkan, bukan mukjizat itu sendiri. Mukjizat membuka pintu hati, tetapi imanlah yang menuntun pada relasi personal dengan Allah.
Akhirnya, Injil juga menunjukkan bahwa mukjizat bisa disalahpahami jika dilepaskan dari pewartaan. Yesus menolak dicari hanya karena roti atau tanda lahiriah. Dengan demikian, mukjizat berfungsi sebagai sarana pedagogis: membantu manusia memahami makna Injil, tetapi tetap menuntun pada pertobatan, iman, dan hidup baru.
Mukjizat Yesus, pada akhirnya, adalah bahasa kasih Allah—tanda yang mengarahkan manusia bukan pada keajaiban itu sendiri, melainkan pada Allah yang hadir dan menyelamatkan dalam diri Yesus Kristus.


Tulisan OmBli Paul ini mengalirkan kedalaman teologis yang menyegarkan, mengungkap bagaimana mukjizat Yesus bukan sekadar keajaiban spektakuler melainkan jembatan untuk menyampaikan inti Injil yang transformatif.
Terima kasih, tulisan ini menjadi pengingat penting bagi setiap pembaca untuk tidak terpaku pada keajaiban semata, tetapi menelusuri makna iman yang lebih dalam di balik setiap karya kasih-Nya yang menghidupkan harapan dan panggilan untuk mengasihi sesama dalam keseharian hidup kita.
Terimkasih Bro, godaan untuk terpesona pada mukjijat cukup besar padahal itu hny tanda dan sarana
Iya benar, banyak umat katolik hanya fokus pada mukjizatnya, bukan pesan lanjutan setelah mukjizat. dan itu terjadi karena katekese hampir di semua paroki tidak pernah membahas hal itu.