Berawal dari Keterpaksaan Menjadi Cuan

Berawal dari Keterpaksaan Menjadi Cuan

Dari “terpaksa” jadi luar biasa! Kisah nyata mengubah beban mengajar & menulis menjadi cuan & prestasi.

Seni Mengajar, Menulis, dan Mengisi Rekoleksi

Pagi ini teringat saat duduk di Tingkat II, masa praktik mengajar pun tiba. Setelah menyelesaikan mata kuliah Katekese di Tingkat I, saatnya teori tersebut diterapkan di lapangan. Di komunitas, kami melakukan undian untuk menentukan lokasi praktik. Banyak rekan yang enggan mendapatkan penempatan di SMP Imaculata karena adanya kewajiban tambahan: mengisi rekoleksi dan retret.

Saatnya Belajar dari “Ketidaksengajaan”

Kehendak Semesta berkata lain, nama saya justru keluar untuk praktik di SMP Maria Imaculata. Sambil bersungut-sungut, saya membatin, “Mau apa lagi?” Ini adalah pengalaman pertama, dan rasanya begitu berat. Namun, tugas tetaplah tugas.

Suatu hari, komunitas kedatangan siswi-siswi dari SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Lagi-lagi, saya mendapat “sampur” (tugas) untuk mengisi salah satu sesi rekoleksi singkat. Beruntung, ada pendampingan dan pembekalan materi dari Moderator Kerasulan Keluarga Skolastikat, Rm. Pung.

Meski sudah bersiap, jantung tetap berdegup kencang. Saya tahu betul reputasi dan kapasitas siswi sekolah tersebut. Agenda yang seharusnya hanya 15-20 menit ternyata molor hingga 30 menit. Luar biasa, para peserta justru ndomblong (terpaku), menyimak dengan antusias. Tema “Moral Seksualitas” yang saya bawakan sukses menarik perhatian mereka. Pengalaman ini menjadi suntikan kepercayaan diri yang luar biasa; bahwa segalanya bisa dilakukan jika kita berani mencoba. Sejak itu, mengisi retret dan rekoleksi berubah dari beban menjadi kegemaran.

Menemukan Suara dalam Tulisan

Banyak kakak tingkat dan penerbit besar memiliki buku materi rekoleksi. Namun, seringkali materi tersebut sulit diterapkan dalam sesi atau kurang bisa dengan mudah saat disampaikan. Hal ini memicu keinginan saya untuk menulis ulang materi dengan bahasa dan gaya saya sendiri.

Awalnya, saya menulis hanya untuk mempermudah penyampaian materi saat rekoleksi. Siapa sangka, kebiasaan kecil ini justru mengantar saya menjadi seorang penulis seperti sekarang. Padahal, dulu saya sangat tidak percaya diri. Setiap membuat paper atau karya tulis, nilai saya tidak pernah ekselen—sekadar lulus, paling-paling nilai C. Mendapat nilai B saja tidak pernah, apalagi “B Gemuk”. Menulis untuk Majalah Skolastikat pun tidak berani, apalagi mengirim tulisan ke media nasional. Rasa takut akan tulisan yang saya kira akan dinilai jelek benar-benar membelenggu kreativitas saya.

Transformasi di Kompasiana

Titik balik terjadi saat saya mengenal Kompasiana. Saya menantang diri untuk menulis setiap hari. Pada tahun-tahun awal, saya menargetkan 500 tulisan per tahun, dan saya berhasil konsisten selama tiga tahun pertama.

Tulisan pertama yang mendongkrak kepercayaan diri berjudul “Pluralisme itu Haram?”. Tulisan itu lahir dari keresahan membaca berita di Kompas.com. Tak disangka, pembacanya mencapai hampir 1.000 orang—sebuah angka fantastis bagi pemula. Saya bahkan sempat bingung merespons komentar-komentar yang tajam. Ada seorang profesor yang berkomentar sangat panjang melampaui artikel aslinya. Ia berargumen dari sisi dogma agama, sementara saya bertahan pada sudut pandang Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk menghindari debat kusir yang tak berujung.

Puncaknya, pada tahun 2016, saya meraih penghargaan Best in Opinion. Kemudian di tahun 2019, saya memperoleh jumlah pembaca terbanyak sepanjang tahun dengan angka mencapai lebih dari setengah juta pembaca. Di antara lima juta lebih akun terdaftar, capaian ini sungguh di luar dugaan.

Mengelola Konten dan Menebar Inspirasi

Kini, aktivitas menulis saya semakin luas. Seorang teman kuliah angkatan ’98 membantu membuatkan web. Ia mengelola teknisnya, saya mengisi kontennya. Saat ini, tulisan saya tersebar di berbagai platform seperti Bramin, Katolikana, Surya Pos, hingga platform lama seperti Ngawursiana dan Spartan Nusantara. Di Kompasiana saja, saya telah menghasilkan lebih dari 3.500 artikel selama hampir 12 tahun.

Meski buku personal secara mandiri belum terbit, beberapa buku antologi (keroyokan) dan tiga buku terjemahan sudah beredar. Saya teringat kejadian tahun 2005, sesaat setelah saya keluar dari biara. Saat hendak mengambil surat di kampus, saya membeli koran Kompas. Seorang mahasiswa menyindir, “Bacanya Kompas, tulisannya sudah menembus mana, Mas?” Waktu itu, saya hanya bisa diam karena memang baru sebatas membaca.

Kini, keadaan sudah berubah. Saat diundang oleh guru-guru Agama Katolik di Salatiga untuk berbagi pengalaman menulis, saya hanya memberikan prinsip sederhana: Menulis itu, lakukan saja. Huruf hanya ada 26. Susunlah huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi paragraf. Selesai.

Kuncinya hanya dua: Konsistensi dan banyak membaca. Membaca untuk mencari gagasan dari mana saja, dan konsisten menulis untuk mengasah keterampilan.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *