Keluarga, Perahu di Tengah Badai
Banjir bandang mungkin menghanyutkan rumah, mengubur kenangan, dan memisahkan yang hidup dari yang pergi. Tapi dalam kekacauan itu, satu kekuatan tak tergoyahkan tetap tegak bernama keluarga. Baik keluarga inti maupun keluarga besar (yang dibentuk berdasarkan darah maupun yang dibentuk oleh solidaritas) menjadi perahu penyelamat di lautan kesedihan.
Dalam pengalaman semacam ini, saya merasakan pesan abadi Pater JB. Berthier, pendiri Kongregasi Keluarga Kudus (MSF), bergema relevan: “Keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tapi altar iman tempat kasih Allah diwujudkan dalam kebersamaan.” (La famille n’est point un simple lieu d’habitation, mais un autel de foi, où l’amour de Dieu se rend présent dans la communion des cœurs.)
Bagi Pater Berthier, keluarga adalah “Gereja Rumah Tangga” (pinjam istilahnya Paus Yohanes Paulus II), ruang bagi Yesus, Maria, dan Yusuf menjadi teladan ketangguhan. Ketika badai menghantam, keluarga dipanggil untuk meniru Keluarga Nazaret: saling berpegangan tangan dalam ketidakpastian, berbagi roti terakhir, dan percaya bahwa kegelapan takkan abadi. Kita bisa belajar dari Yusuf dan Maria yang “pantang panting” mencari Yesus yang hilang saat berusia dua belas tahun.

Di tempat-tempat pengungsian Sumut, Sumbar, dan Aceh, kita melihat ajaran Pater Berthier itu hidup. Ibu yang memeluk anaknya sambil berbisik doa Bapa Kami (atau doa lain sesuai keyakinan mereka), kakek yang membagikan nasi seadanya kepada tetangga, remaja yang menghibur adiknya dengan cerita lama, mereka adalah wajah Keluarga Kudus masa kini. Pater Berthier mengingatkan: dalam duka, keluarga bukan hanya penopang emosional, tapi juga “saluran rahmat” yang membuat Allah hadir dalam kelelahan, air mata, dan kepasrahan.
Dalam situasi serba tidak pasti akibat badai yang menghantam, saya membayangkan Pater JB Berthier mengirim surat gembala kepada para misionarisnya baik yang religius maupun yang seperti kita (karena pernah merasakan benumannya dalam Tarekat MSF). Kira-kira Pater Berthier akan menulis demikian, “Di saat dunia runtuh, keluarga yang berdoa bersama takkan pernah benar-benar hancur.” Pesan ini bisa menjadi undangan konkret untuk menjadikan cinta sebagai senjata melawan keputusasaan.
Namun, solidaritas keluarga tak boleh berhenti pada batas darah. Pater Berthier menekankan bahwa keluarga Kristiani adalah jaring, setiap simpul saling menopang. Ketika satu rumah hancur, seratus tangan mengulurkan bantuan. Ketika satu nama hilang, seribu suara menyebutnya dalam doa. Inilah makna “Keluarga Kudus” yang universal: tak mengenal suku atau agama, tapi hanya hati yang mau berbelas kasih.
Di tengah reruntuhan, pesan Pater Berthier mengajak kita pada satu kebenaran: bencana mungkin menguji iman, tetapi keluarga (dalam segala bentuknya) adalah jawaban iman itu sendiri. Dengan memegang tangan sesama, kita tak hanya membangun kembali rumah dari kayu dan semen, tapi juga merajut kembali keyakinan bahwa kasih lebih kuat dari air bah. Seperti Yusuf yang memimpin Maria dan Yesus melewati badai pengungsian, hari ini pun keluarga adalah pemimpin harapan. Di dalamnya, Allah berbisik: “Aku takkan meninggalkanmu, Aku tinggal di sini, di antara kalian yang saling mengasihi.”

