Sehat Jiwa, Sehat Raga

Sehat Jiwa, Sehat Raga

“Di sini, antara ego dan kekuatan diuji.” Begitulah pesan WA yang saya terima dari seorang teman, Minggu sore. Ia baru saja mengikuti Railway Adventure jalur Bedono-Ambarawa yang diselenggarakan komunitas Pilgrim Walkers Semarang (PWS). Sebuah perjalanan kaki menyusuri rel kereta api tua, dari Taman Doa Giliasih Bedono hingga Gereja Santo Yusuf Jago Ambarawa. Sebenarnya ia sudah mengajak saya ikut. Sayang, hari itu ada beberapa kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Beberapa menit kemudian, pesan berikutnya masuk. “Aku nggak sampai finis. Istriku sudah nggak kuat di kilometer 13,5, daerah Jambu. Jalan di rel ternyata berat.” Lalu ia menambahkan sesuatu yang membuat saya tersenyum. “Tapi teman-teman yang lebih senior banyak yang berhasil sampai tujuan.”

Saya tidak terlalu heran. Nama-nama yang ia sebut memang akrab di mata saya. Hampir setiap pagi mereka berjalan kaki. Ada yang melintas di depan rumah. Ada yang tampak menikmati langkah demi langkah, seolah berjalan adalah bagian dari doa.


Saya membayangkan beratnya menyusuri rel kereta. Kita tidak sedang berjalan di trotoar yang rata. Bukan pula di jalan aspal. Kaki harus berpijak di atas bantalan rel yang jaraknya tidak dibuat mengikuti langkah manusia. Terlalu lebar untuk satu langkah, terlalu sempit untuk dua langkah. Lama-lama betis mulai protes. Di sela-sela bantalan terdapat batu-batu balas yang tajam. Salah pijakan sedikit saja, telapak kaki langsung memberi peringatan. Kalau ingin lebih rata, ya berjalan di atas besi rel. Tetapi itu menuntut keseimbangan. Sedikit lengah, bisa turun lagi ke batu-batu. Kalau kebetulan di samping rel ada jalan setapak, rasanya seperti menemukan bonus kecil di tengah perjalanan.

Barangkali benar kata teman saya. Di jalur seperti itu, bukan hanya tenaga yang diuji. Ego juga. Apakah masih ingin terus? Apakah menyerah? Apakah mampu mengalahkan rasa nyaman?


Menariknya, jalur yang kemarin mereka lalui bukan sekadar lintasan kereta api tua. Ia juga menyimpan jejak sejarah Gereja. Bedono pernah menjadi salah satu pusat awal perkembangan Gereja Katolik di Jawa Tengah. Pada tahun 1896-1897, Romo Frans van Lith, SJ pernah berkarya di sana.

Dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia karya Dr. M.P.M. Muskens, Pr., disebutkan bahwa pada tahun 1894-1895, Bedono bersama Semarang menjadi salah satu pusat utama penerimaan umat baru ke dalam Gereja. Fakta itu menunjukkan bahwa benih-benih iman sudah bertumbuh di kawasan ini jauh sebelum berkembang ke berbagai wilayah lain.

Namun sejarah tidak selalu berjalan mulus. Ada kisah yang mengingatkan kita bahwa pelayanan tidak cukup hanya dengan semangat. Pernah terjadi penyalahgunaan kepercayaan oleh seorang katekis yang memanfaatkan niat baik misi Gereja dalam membantu petani menebus sawah mereka. Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa karya Allah selalu membutuhkan orang-orang yang bukan hanya cerdas, tetapi juga jujur.

Iman tidak boleh diperdagangkan. Pelayanan tidak boleh dijadikan jalan mencari keuntungan pribadi. Kepercayaan adalah modal yang jauh lebih mahal daripada uang.

Untunglah, Tuhan tidak berhenti berkarya. Beberapa tahun kemudian, hadir katekis Purwoatmodjo dari Yogyakarta. Dengan kesederhanaan dan ketekunannya, benih iman kembali tumbuh. Pada Hari Natal tahun 1935, lima orang pertama menerima Sakramen Baptis di Gereja Santo Yusuf Ambarawa. Lima orang. Jumlah yang kecil. Tetapi bukankah pohon besar juga selalu berawal dari sebutir benih?

Mungkin itulah pelajaran yang dibawa pulang teman-teman PWS. Rel kereta mengajarkan ketahanan tubuh. Sejarah Bedono mengajarkan ketahanan hati. Keduanya sama-sama penting. Pelayanan Gereja membutuhkan kaki yang kuat untuk melangkah. Tetapi lebih dari itu, membutuhkan hati yang lurus. Tubuh boleh lelah. Napas boleh tersengal. Namun kejujuran tidak boleh goyah. Kesetiaan tidak boleh bergeser. Dan iman jangan sampai tergelincir hanya karena godaan kenyamanan, jabatan, atau keuntungan ekonomi.

Sebab pada akhirnya, perjalanan pelayanan bukanlah perlombaan mencari siapa yang paling cepat sampai. Melainkan perjalanan menjaga agar setiap langkah tetap berada di rel yang benar.

Proficiat untuk seluruh sahabat Pilgrim Walkers Semarang. Semoga setiap langkah yang ditempuh bukan hanya menyehatkan raga, tetapi juga memurnikan jiwa. Buen Camino. (*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *