Tahu Diri
Laki-laki lanjut usia berpakaian sederhana berjalan tenang menuju gerbang pertapaan. Meskipun tampak renta, langkahnya tetap tegap berwibawa. Penampilannya bersahaja. Sesekali, ia membenahi bungkusan bekal yang dipanggul di pundaknya. Sesampai di depan gerbang, seorang murid, kebetulan bertugas menjaga gerbang, menemui dan bertanya kepadanya, “Siapa dan apa keperluan Bapak datang ke pertapaan ini?” Bapak tua itu memperkenalkan diri sebagai salah satu tamu kehormatan guru pemimpin pertapaan. Si murid merasa tidak percaya. Tampaknya, ia meragukan jawaban lawan bicaranya. Dengan sok gaya, iapun mulai bersikap adikuasa dan melontarkan beragam pertanyaan.
Dari jauh, guru pemimpin pertapaan melihat percakapan di antara mereka. Ia tertarik untuk mendekat dan mengetahui apa yang sedang mereka perbincangkan. Alangkah terkejutnya sang guru, ketika mengetahui siapa yang berdiri di depan gerbang pertapaan. Ia segera mempercepat langkah, menuju ke arah bapak tua, menjabat dan mencium tangannya. “Selamat datang Guru Utama. Semoga perjalanan Anda menyenangkan,” kata guru pemimpin pertapaan.
Murid mendengar dialog antara guru pemimpin pertapaan dengan tamunya. Ia mulai merasa bersalah dan khawatir. “Mengapa Anda tidak segera mempersilakan Beliau untuk masuk atau mengundang saya untuk menyongsongnya?” tanya guru kepada muridnya. Sebelum ia menjawab pertanyaan gurunya, guru utama segera berkata, “Guru muda saya senang bisa bercakap-cakap dengan murid Anda yang ramah dan bijaksana. Ia tadi juga menceritakan pengalaman dan perasaan syukur bisa belajar di pertapaan Anda.”***
Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar dari orang yang berkedudukan lebih rendah darinya.
– Confucius

