Percaya Saja
Guru mengajak para murid melakukan perjalanan. Mereka menyusur jalan dari desa yang satu ke desa lainnya. Pada satu kesempatan, ketika akan meninggalkan wilayah desa tertentu, guru dan para murid harus melewati sebatang bambu. Melalui selonjor bambu itulah, mereka mencapai tebing yang satu dengan tebing lainnya, dan memasuki daerah “Baiklah para saudara berhenti sejenak, saya akan berjalan pada batang bambu ini seorang diri, menuju ke ujung sana dan kembali ke sini. Saya harap kalian memperhatikan bagaimana cara saya menyusurinya,” kata guru. Dengan penuh keyakinan, ia pun menyusuri ruas itu.
Para murid merasa was-was ketika melihat apa yang dilakukan guru mereka. Ia melangkah tenang dan pasti. Fokus pada tujuan. Tak lama kemudian, sang guru berhasil melintas pada tebing yang curam. Para murid berdecak penuh kekaguman. Mereka memberi tepuk tangan dan memujinya. “Hebat Guru!” teriak mereka. “Para saudara, saya akan kembali ke tempat Anda,” seru guru dari seberang sana. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang sama guru berhasil mencapai seberang.
Setelah sampai dan berkumpul kembali dengan para murid, guru berkata, “Nah… kini saya akan mengajak kalian melintasi batang bambu ini. Silakan berjalan satu per satu dan perhatikan apa yang sudah saya ajarkan tadi.” Para murid saling beradu pandang. Melihat gelagat demikian, guru berkata, “Ada apa dengan kalian? Apakah kalian takut melakukannya? Bukankah kalian tadi telah mengelu-elukan kehebatan saya?” Para pertapa diam membisu. Segala teladan dan ajaran dari guru ternyata belum mampu mereka laksanakan.***
Anak-anak membutuhkan kekuatan untuk bersandar, membutuhkan pundak untuk menangis dan membutuhkan contoh untuk mempelajari sesuatu dari seseorang.
– Anonim –

