Romo Sing, MSF: Pribadi Tekun, Murah Senyum, Rendah hati

Romo Sing, MSF: Pribadi Tekun, Murah Senyum, Rendah hati

Kabar berpulangnya Romo Albertus Tan Thian Sing, MSF cepat menyebar dari grup ke grup whatsapp. Banyak pribadi yang kehilangan atas berpulangnya Romo Albertus Tan Thian Sing MSF. Kerahaman, kerendahhatian, keteladanan hidup membiara dan pendampingan beliau pada setiap pribadi sungguh mengesan. Banyak doa dipanjatkan untuk Romo Sing MSF, semoga beliau beristirahat dalam damai dan hidup kekal abadi di Kerajaan Surga.

Berikut ini kesan yang terungkap dalam tulisan :

“Terima kasih Romo Sing turut hadir pada Pengucapan Kaul Kekal anak kami Sr. Roberta OCSO di Pertapaan Maria Pemersatu Gedono pada 25 Maret 2019,” tutur Herman JD.

Siswantoro menulis pengalamannya tahun 1985 dibimbing Romo Sing, ketika masa Novisiat (anggota baru MSF) : “Jangan mengencingi WC,” pesan Romo Sing. Ketika mendengar kalimat itu, reaksiku berontak. Mosok WC tidak boleh dikencingi. Bukankah untuk itulah WC dibuat?

Sebagai Magister Novisiat Romo Sing sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian Siswantoro melatih kami tentang kesadaran, awareness. “Aku bersyukur boleh mengalami pendampingan beliau sehingga ketika meninggalkan panggilan tidak merasa rugi kehilangan tahun-tahun berlalu. Setahun bersama beliau merubah sekian belas tahun yang lain,” tutur Siswantoro.

Kesadaran dan integritas diteladankan dan diajarkan dalam hal sederhana dan praktis. Sangat dirasakan oleh Siswantoro. Salah satu yang sangat terngiang adalah kalimat di atas: “Jangan mengencingi WC.” Mengencingi WC, meskipun sudah diguyur aromanya tidak akan mudah hilang. Mengencingi WC berarti tidak fokus pada aktifitasmu. Hiduplah hic et nunc: di sini dan kini. Mengencingi WC berarti tidak peduli pada orang lain: yang membuat WC itu, yang akan memakai berikutnya, dll… Kencinglah di WC, jangan mengencingi WC. Sadarlah, fokus.

Yohanes Haryanto mengenal Romo Sing saat menjadi frater teologan (yang sedang studi teologi) di Intitute Filsafat Teologi, Kentungan, Yogyakarta. Tahun 1975 ia mengenal Romo Sing sebagai Frater Theologan MSF di Wisma Nazareth Banteng, Yogyakarta. Saya bersama dengan teman-teman seangkatan baru saja bergabung dengan MSF di tahun pertama selepas dari Seminari Menengah. Tentu kami hormat kepada Frater Senior.

Hebatnya frater senior yang satu ini, Fr. Sing, mempesona karakternya: tampak tekun dalam studi, hidup berkomunitas, pelayanan pastoral, dan latihan beladiri karate. Beliau itu Karateka tangguh. Yang membuat kami para yunior makin tertarik pada beliau adalah sifat murah senyum -nya. Kepada siapapun yg beliau temui : tersenyum ramah, hangat bersahabat. Sebagai frater theologan siap ditahbiskan menjadi Imam misionaris Keluarga Kudus (MSF) beliau santai dan rendah hati di hadapan dan dalam pergaulan dengan kami para yunior.

Tahun 1976 sebagai imam muda MSF baru saja ditahbiskan, ditunjuk sebagai pendamping para novis membantu magister novis waktu itu : Rm Adi Wijaya MSF. Selama kami, para novis MSF 1976, di Sinewente, Bandungan, Rm Sing mendampingi kami dengan ketekunan, murah senyum, dan kerendahan hatinya.

Kenangan menerima komuni dari Romo Tan Thiang Sing MSF. (Koleksi Robby)

FA Adihendro, adik kelas Romo Sing di biara MSF menuturkan demikian: ketika saya masih Berthinianis (Seminaris Berthinianum/Postulan MSF), Frater Sing sudah tingkat 5 atau 6  di Institut Filsafat Teologi, Kentungan, Yogyakarta. (Saat itu Seminari Berthinianum berlokasi di komplek Biara Nazareth, Jl Kaliurang KM 7,5, Yogya, Red.). Kalau makan siang atau malam, beliau selalu duduk di meja kelompok para Frater tingkat 5 atau 6. Ada Fr. Tjokro, Fr. Pung dll, di ujung sebelah kiri dekat pintu utara refter, sebagai tempat refter tetap. Anehnya mereka, termasuk Fr. Sing, apabila ada kursi kosong selalu mengajak saya duduk di kelompoknya

Sangat sering, sesudah doa kompletorium (doa malam), Fr. Sing dan Fr. Padmowidodo, mengajak saya ke ruang bawah panggung aula badminton, untuk minta diajari olah nafas dalam karateka, karena beliau-beliau mengenal saya sebagai karateka di Paroki Purwosari, Solo.

Romo Sing, sesudah ditahbisan, sering mengundang saya ke kamarnya, di Biara Nazaret, Lantai 2, dekat Ruang Rekreasi, untuk diskusi soal karate, wushu, jiejittzu, dan olah nafas.

Di sampingi itu, Romo Sing juga sering mengajak kami para novis Angkatan 1976 untuk meditasi di Bukit Ungaran (Tanggulangsi) agar bisa merasakan kehadiran yang ilahi. Sesudah saya di Jakarta, pernah ikut sesi Romo Sing yang gencar mempromosikan cara Meditasi Kristiani yang benar, dengan tarikan nafas dan bunyi genta.

Romo Tan Thiang Sing juga menjadi romo pendamping kelompok Meditasi Kristiani, termasuk yang ada di Paroki Karangpanas. Banyak kesan disampaikan para peserta Meditasi Kristiani.

Ibu Christiana, yang tinggal di Wilayah Semeru, menuturkan Romo Sing menjadi romo keluarganya. “Dasi sebelum saya menikah, Romo Sing yang membawa seluruh keluarga saya dekat dengan Tuhan dan mengajarkan saya meditasi secara pribadi sebelum dibentuk di Semarang,” tutur Bu Christiana. Karenanya, Ibu Christiana bersama beberapa donator turut memberikan kebutuhan yang diperlukan Romo Sing saat sakit dan memerlukan perawatan Kesehatan.

Lucia Indah, yang aktif di Komunitas Meditasi Kristiani, Paroki Karangpanas, mengaku mengenal Romo Sing ketita kuliah di UKSW, Salatiga. “Saya merasakan setiap ketemu Romo Sing terasa damai. Orangnya selalu tersenyum, sederhana, rendah hati dana renungan-renungannya sangat mendalam.  dan tak lupa selipan joke-nya yang kemudian  disertai gerakan “tutup mulut” menjadi kekhasan Romo Sing,” kata Indah.

Sewaktu sehat, demikian Indah, Romo SIng bepergian ke mana-mana dengan mengendarai sepeda motornya, sebagai  wujud kesederhanaan Romo Sing. Romo Sing selalu mengutamakan kepentingan buat orang lain di atas kepentingan diri sendiri, selalu bersedia untuk melayani jika jadwal memungkinkan. (*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *