KULIAH PROYEK: HARAPAN – EKARISTI – SOSIAL
BRAMIN 20
Proyek Harapan
Setelah masuk di Tingkat IV, kami mengalami Kuliah Proyek yang diajar oleh Tim Teaching
beberapa dosen dan juga didatangkan sharing narasumber ke dalam kelas. Tim teaching yang
mengajar kami adalah Rm. Kieser SJ, Rm. Tom Jacob SJ dan Rm. Bonowiratmo SJ. Narasumber
tamu yang didatangkan ke Kampus Rm. Suyudanto SJ. Romo Suyudanto sedang menjalani
perawatan karena seminggu sekali harus menjalani cuci darah.
Inti “Proyek Harapan” di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan adalah bagian dari program
pastoral (praktik kerja lapangan) bagi para frater (calon imam), khususnya di tingkat IV dalam
masa pembinaan mereka. Semua mahasiswa baik calon imam atau bukan wajib mengikuti mata
kuliah ini. mata kuliah ini menjadi dasar nanti untuk melakukan pastoral care di rumah sakit.
Kegiatan ini bukan kuliah dalam artian kelas formal di dalam kampus, melainkan penugasan di
luar seminari, di mana para frater diterjunkan langsung ke masyarakat atau institusi tertentu
untuk mendapatkan pengalaman pastoral nyata.
Penugasan di rumah sakit untuk mendampingi dan melayani mereka yang sakit atau
membutuhkan dukungan spiritual.
Kegiatan ini dirancang untuk memberikan wawasan dan pengalaman praktis kepada para frater
dan mahasiswa lainnya mengenai karya pastoral di luar lingkungan paroki biasa, melatih
kepekaan dan kemampuan mereka dalam melayani berbagai lapisan masyarakat. Khususnya
yang sedang sakit.
Rumusan orang sakit, bukan hanya yang bersangkutan yang sedang sakit. Tetapi juga
menyangkut keluarganya yang merawat menjadi sakit. Sakit pikirannya-perasaannya- dan juga
kantong ekonominya. Karena harus merawat anggota keluarganya: ayah-ibu, suami-istri anak-
anak atau saudaranya yang sakit. Menjaga orang sakit itu melelahkan.
Pengalaman itu saya rasakan Ketika mendapat penugasan di rumah sakit untuk ikut terlibat
melayani orang yang sakit. Tentu pihak kampus sudah melakukan kerja sama untuk
mendapatkan izin agar mahasiswanya mendapat kesempatan untuk turut “bekerja”. Melayani dan
menjaga orang sakit yang bukan – siapa-siapanya. Ada yang di rumah sakit umum baik swasta
maupun RS. Pemerintah. Ada juga yang mendapatkan tugas di rumah sakit jiwa. Lali Jiwo
Pakem.
Saat penugasan saya mendapatkan tugas di RSUD Purworejo. Tetapi saya mendapatkan tukar
tempat dengan Fr. Kusmartono yang mendapatkan tempat di RSUD Morangan- Medari- Sleman.
Kami bertukar tempat saling menguntngkan karena Fr. Kusmartono di RSUD Purworejo dekat
dengan rumah saudaranya, sedangkan saya di RSUD Morangan-Medari Sleman dekat dengan
tempat tinggal saya di Tempel Sleman. Saya berdua dengan Fr. Luhur Pribadi Pr, dari
Keuskupan Agung Semarang. Dia bertempat tinggal di rumahnya di paroki Salam. Saya sangat
berterima kasih untuk perubahan ini karena dengan demikian saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menginap selama 10 hari dan mungkin lebih. Saya cukup ngaju dari rumah ke
tempat lokasi Proyek yang hanya 6 km saja. Biaya menjadi sangat hemat. Begitulah cara Tuhan
menyediakan tempat belajar bagi saya.
Selama 10 hari itu kami berdua pernah mendapatkan tugas jaga malam selama 2 hari. Kami
sungguh merasakan tugas seorang perawat di rumah sakit. Dalam tugas jaga malam – pekerjaan
yang didapatkan tidak banyak. Karena malam hari kebanyakan pasien istirarat sehingga kami
yang berjaga tidak harus melayani kebutuhan pasien. Tetapi saat berjaga siang dari pagi sampai
sore tugas untuk melayani pasien itu cukup banyak. Membantu menengoknya – melayani obat-
obat yang sudah disediakan di tempat tidurnya – mengambilkan makanan yang sudah disediakan
di meja pasien, jika pasien tidak dapat bangun mengambil sendiri makanannya dan tidak ada
keluarganya yang menjaganya. Para perawat dan para medis tidak mungkin melayani dan
menungguinya satu persatu. Kami berdua sebagai mahasiswa praktek dalam proyek harapan ini
bisa lebih bebas memilih pasien terutama mereka yang lebih membutuhkan pelayanan karena
tidak ada keluarga yang melayaninya. Dan mereka merasa senang – kami dapat merasakan juga
kenapa para perawat sering kali cuek kepada pasien karena ada juga pasien yang manja. Jika
diberi sedikit perhatian lalu meminta pelayanan yang lebih. Kami bisa melayani demikian tetapi
perawat yang bertahun-tahun pekerjaannya demikian seringkali menganggap pasien seperti objek
saja. Kami maklum. Mereka sudah lelah menjalankan tugasnya sehari-hari.
Meskipun mengganggap pasien sebagai objek seperti barang benda yang tidak punya perasaan
juga tidak tepat. Tetapi saya dapat memaklumi mengapa mereka bersikap demikian kepada
pasien karena lebih berat dibebani oleh tugasnya yang rutin dan juga dapat melelahkan. Maka
setiap kali mereka selesai bertugas malam. Mereka mendapatkan libur selama 2 hari. Saya dan
Fr. Luhur sudah mengalami hal itu setelah tugas malam walaupun dari sisi pekerjaan tidak lebih
banyak – tetapi karena harus berjaga – pemulihan kelelahan fisik membutuhkan waktu lebih
banyak.
Sebagai materi kuliah sebelum diterjunkan ke lapangan dalam mendampingi orang sakit kami
juga mendapatkan teori yang tertulis dalam diktat Stensilan. Antara lain Teori Kübler-Ross, yang
sering disebut lima tahap kesedihan, menggambarkan respons emosional umum terhadap
kehilangan, termasuk penyakit terminal, kematian, atau perubahan besar dalam hidup lainnya.
Dikembangkan oleh psikiater Elisabeth Kübler-Ross, tahapan-tahapan tersebut adalah
penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.
Teori ini, yang tidak selalu linear dan dapat dialami dalam urutan yang berbeda, dengan beberapa
tahap dilewati, memberikan kerangka kerja untuk memahami reaksi emosional terhadap
kehilangan.
Lima tahap kesedihan
- Penyangkalan: Tahap pertama, di mana seseorang menolak untuk menerima kenyataan
kehilangan. - Kemarahan: Saat penyangkalan memudar, individu tersebut mungkin merasa marah dan
frustrasi, bertanya “mengapa saya?”. - Tawar-menawar: Pada tahap ini, orang tersebut mencoba bernegosiasi atau membuat
kesepakatan, seringkali dengan kekuatan yang lebih tinggi, untuk menunda hal yang tak
terelakkan atau mengubah hasilnya. - Depresi: Kenyataan kehilangan mulai terasa, yang menyebabkan kesedihan, penarikan diri,
dan rasa tidak berdaya. - Penerimaan: Ini bukan tentang “baik-baik saja” menghadapi kehilangan, tetapi tentang
menerima kenyataan bahwa kehilangan itu permanen dan belajar hidup dengan normal baru.
Pertimbangan penting: Kübler-Ross menekankan bahwa tahapan-tahapan ini tidak selalu dialami
dalam urutan yang tetap (bukan proses linear), dan orang-orang dapat berpindah-pindah di antara
tahapan-tahapan tersebut.
Teori ini tampaknya pernah dijelaskan oleh Rm. Tan Thian Sing MSF saat beliau mendampingi
Rm. The Tjun An yang sakit terminal illness pada waktu itu. Romo menceritakan – saat Rm. The
Tjun An belum dapat menerima keadaannya, dia sempat marah kepada Tuhan. Bisa jadi waktu
itu kondisinya ada pada tahap ke 2. Mengapa saya yang sudah menyerahkan diri seutuhnya
menjadi imam-Nya dan masih muda harus menderita sakit seperti ini. Apa kekurangan saya?
Dst. Romo The Tjun An melakukan protes kepada Tuhan. Tidak seorangpun boleh
menjenguknya kecuali Rm. Tan Thian Sing MSF yang menjadi Bapa Rohani dan sahabatnya.
Tetapi disaat menjalang akhir sampai pada tahap ke 5. Rm. The Tjun An dapat menerima, semua
orang boleh menengoknya dan semua orang yang datang diberikan berkat melalui tangannya.
Dia dapat bersyukur meskipun juga menyadari usianya tidak akan lama lagi. Tetapi bisa
menerima keadaannya dengan tenang dan senyuman sampai kemudian dipanggil Tuhan.
(Sekarang Rm. Tan Thian Sing MSF dan The Tjun An MSF sudah bertemu di surga dan Bersatu
dengan Allah yang diabdinya sepanjang hidupnya. Bahagia selalu Romo berdua).
Teori ini juga yang kami bawa dalam tugas pendampingan kepada orang sakit di rumah sakit.
Beberapa teman mendapatkan pengalaman berhadapan dengan pasien pada terminal illness yang
mungkin dapat menggunakan teori itu untuk refleksinya menghadapi pasien. Saya rasa itu juga
Rahmat bagi teman-teman yang dapat menemukan pengalaman itu. Mendampingi orang yang
menghadapi sakratul maut dalam pengalaman tugasnya melalui proyek harapan. Saya dan Fr.
Luhur Pribadi tidak menemukan pengalaman itu. Pengalamannya datar saja. Seperti tidak ada
peristiwa yang berkesan. Yang kami temukan pada suatu hari adalah pasien yang tampaknya
sudah segar bugar dan sehat kembali teryata pada hari berikutnya tempat tidurnya sudah kosong
– bukan karena sudah sembuh dan pulang ke rumah. Tetapi sudah pulang ke rumah karena
meninggal dunia. Tentu kami tidak mengetahui penyebab sakitnya karena kami bukan perawat
atau dokter yang memberikan obat dan menangani penyakit pasien. Tetapi kami datang dan hadir
hanya untuk mengamati keterbatasan manusia dalam menghayati pengalaman sakit. Yang ketika
harus merumuskan pengalaman di ambang keterbatasan manusiawi melalui mata kuliah ini kami
sulit juga merumuskan ungkapan refleksinya.
Romo Suyudanto SJ memberikan perspektif yang tepat melalui refleksinya yang dihadirkan di
dalam kelas. Katanya: orang sakit seperti saya masih belum sampai pada ambang batasnya. Saya
harus cuci darah seminggu sekali (dengan menunjukkan ikatan verban pada pergelangan
tangannya) karena sebagai seorang imam. Saya masih ada Lembaga yang membiayai saya.
Meskipun sebenarnya saya sadar usia saya tidak akan panjang lagi – tetapi dengan haemodialisis ini nyatanya dapat memperpanjang umur saya. Bagi orang tertentu penyakit yang saya derita ini bisa jadi sudah menjadi ambang batasnya. Apalagi jika tidak memiliki biaya untukpengobatannya. Hanya dapat menerima dengan pasrah- jika ia memiliki iman dan harapan. Pengalaman Romo Suyudanto SJ itu mengingatkan saya pengalaman saya menemukan seorangibu dari umat di Stasi Sebamban Blok B pada Top Tahun ke-2 di Kotabaru Pulau Laut itu.Ambang batas kehidupan dan kemampuan seseorang yang tidak selalu sama. Pengalaman yang berkesan justru dari cerita teman-teman dalam kuliah proyek ini. Seperti mas Nursih yang mendapat tugas di RS. Jika di Pakem – sempat mendapatkan bogem mentah dari pasien yang memang lupa akan dirinya. Kakak kelas pernah bercerita untuk pengalaman dari mata kuliah proyek ini membantu paramedis untuk mencukur rambut pada bagian istimewa dari pasien yang akan menjalani operasi. Sahabat saya satu kelas Mas Enang Raharjanto, eks Frater OMI, dapat menggunakan pengalaman pastoral care ini dalam pekerjaan/ profesinya karena setelah lulus dari kentungan dia menjadi tenaga pastoral di RS. St. Carolus Jakarta, sampai purna baktinya. Mas Haryo dan Mas Wisnu bisa jadi juga menggunakan pengalaman ini karena sempat berdua bekerja sebagai tenaga pastoral care di Rs. Katolik Santa Maria yang dikelola oleh Suster-suster PBHK di Pemalang. Pada durasi 2 hari, selama sepuluh hari menjalankan tugas kuliah Proyek tahun 1991 ini, saya bertemu adik kelas di SMA dan dia mengenali saya lebih dahulu. Saat saya berkeliling di bangsal pasien, saya menemukan seorang nenek yang di rawat. Cucunya yang menjaga neneknya. Cucu ini sudah menjadi mahasiswi Sastra Inggris Universitas Gajahmada di tingkat akhir. Saat saya hadir dalam ruangan itu dia menyatakan apakah saya frater yang pernah berkunjung di tempat KKN nya di Gemawang daerah Temanggung 3 tahun yang lalu. Saya menyatakan bahwa ingatannya tidak salah. Jujur saya mengatakan saya bukan lagi seorang Frater. Dia yang kemudian mengingatkan peristiwa itu bahwa dia satu rumah dengan Mbak Eny yang kemudian menjadi istri mas Dwiko dan juga satu kelas dengannya. Saya ingat kembali pengalaman itutahun 1987 memang ada mahasiswa KKN di wilayah Temanggung. Saya mengenal beberapa diantaranya karena berasal dari Paroki Banteng. Mas Gunawan Mhs Pertanian yang ber KKN di Stasi Gondang dekat dengan Ngadirejo. Mbak Eny di Gemawang. Teman SMP saya dari Kalasan Yohanes Sutanto dari Fakultas Farmasi UGM yang ber KKN di daerah Kranggan. Salah satu mahasiswa Katolik dari Fakultas Teknik Mesin setelah lulus UGM masuk menjadi anggota Yesuit. Saya sempat menengok mereka semua saat itu. Dia menambah perkenalannya bahwa dia Esti Rudati alumni dari SMAN 1 Medari satu almamater dengan saya. Juga kakaknya perempuan Siti Arini (Nunuk) yang adalah teman saya satu Angkatan beda jurusan IPA-IPS di SMAN yang sama. Kakaknya sudah menjadi Guru Bahasa Inggris di salah satu SMP Negeri di Blora. Kenangan ini sebenarnya yang kemudian menyambungkan pengalaman hidup saya dengan berbagai pengalaman lanjutan yang akhirnya saya mendapatkan berkat Tuhan setelah saya menjadi seorang Guru di SMEA St. Louis Randublatung Blora tahun 1993 – 1995 itu. Secara tidak langsung sebenarnya saya medapatkan jodoh puteri dari Randublatung – berawal dari kuliah Proyek Harapan ini. Akhirnya hidup saya jadi penuh dengan harapan.
Red Top Hotel – Pasarbaru – Jakarta, 6 Desember 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

