Romo Sing, Cek dan Kesadaran

Romo Sing, Cek dan Kesadaran

Cek dalam diri kalian kalau ada seseorang kebingungan dan ragu ragu mau menyajikan minum.

Apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya? Coba cek itu.

Dua puluh satu tahun lalu, 2004, walaupun kalimat lengkapnya saya coba saya ingat ingat sulit

sekali tetapi intinya masih mengena sampai sekarang.

Pada bulan Juli 2004 saya menjadi novis di wisma Betlehem. Suatu ketika saya diminta untuk

menyuguhkan minuman. Saat itu saya benar benar belum paham bagaimana menyuguhkan

minuman di biara. Saya merasa takut salah. Akhirnya saya merasa kikuk dan bingung sendiri.

Bolak balik ke dapur untuk mengambil tutup gelas maupun alas gelas. Rupanya kejadian itu

menjadi pengamatan bagi Romo Sing, yang saat itu berada di refter (ruang makan). Saat kelas,

kejadian tersebut dibahas tapi tanpa menyebutkan nama saya. Demikianlah Romo Sing, romo

socius kami, tegurannya halus tapi mengena.

Pada kelas kelas selanjutnya teguran teguran itu selalu datang entah kepada siapapun yang

memang kena. Teguran itu selalu halus dan selalu menggunakan perumpamaan. Kadang para

frater belum paham saat itu tetapi akan paham setelahnya (kemudian biasanya merasa malu) .

Suatu hari, Romo Sing bercerita tentang seseorang yang masih muda tetapi jalannya seperti

orangtua. Ia selalu menyeret kakinya. Hidupnya seakan akan mau berakhir padahal umurnya

belum seberapa. Romo kemudian mengajak untuk ngecek panggilan sebagai imam apakah

memang terpanggil atau tidak.

Kami para frater waktu itu tahu siapa yang kena teguran romo. Dua puluh orang frater novis

saling mengenal satu sama lain. Kami bisa menebak siapa yang memiliki perilaku tersebut.

Akhirnya kita sering bergurau ke salah seorang frater yang kena teguran. Biasanya kami para

frater meniru gerakan tangan romo sing. Jari tengah dan telunjuk tangan kanan menunjuk

setengah ke arah depan sambil mengatakan cek dulu dirimu atau panggilanmu.

Candaan ini kemudian menjadi bahan keakraban bagi kami para frater. Tidak ada sama sekali

rasa tersinggung diantara kami para frater yang bercanda soal teguran romo. Kami sadar bahwa

kami frater novis dan Romo Sing adalah socius kami. Romo Sing merupakan teman yang

membimbing dan memberikan koreksi.

Kelas kelas Romo Sing kemudian (bagi saya) menjadi kelas yang menyenangkan dan

mendebarkan. Di satu sisi, Romo Sing memberikan banyak pengolahan diri bahkan wawasan luas  terkait dengan situasi sosial politik. Di satu sisi yang lain, banyak koreksi terhadap perilaku

maupun cara berpikir kami. Siapa yang saat itu mendapatkan pembahasan pasti merasa malu

sendiri walaupun romo tidak pernah menunjuk atau menyebutkan nama frater yang dimaksud.

Puncaknya, kami mendapatkan pengolahan psikologi dengan metode PRH (Personality and

Human Relation) selama dua minggu. Kami para frater dibagi dalam dua kelompok masing

masing sepuluh orang. Bergantian jika satu kelompok mengikuti PRH maka kelompok lain

menggantikan kerja.

Saya merasa senang dengan pengolahan PRH dan sangat berkesan. Sejak di Mertoyudan

memang saya selalu tertarik dengan kepribadian dan psikologi. Pengolahan PRH seperti momen

luar biasa. Saya masih ingat waktu itu di kelas gedung Grave, romo membagikan kertas berisi

pertanyaan pertanyaan kemudian meminta kami menuliskan jawaban secara jujur sesuai dengan situasi diri kami masing masing. Secara sabar dan penuh perhatian romo Sing mendengarkan sharing dari kami.

Sampai hari ini, buku catatan pengolahan itu masih saya simpan. Saya merasa catatan catatan

itu penting dan mungkin menjadi salah satu kompas hidup saya. Satu hal yang masih membekas soal PRH adalah soal hati nurani. Hati nurani adalah Cahaya yang menggerakan kehidupan kita tentang siapa sebenarnya. Blok atau halangan munculnya diri kita sesungguhnya karena ada hambatan yang terbentuk dari luar mulai pola asuh, pengalaman maupun lingkungan. Tugas kita menyadari dan mengolah sehingga tidak menjadi masalah ke depan. Pengolahan perasaan, pikiran, ingatan dst menjadi hal hal yang penting. Hebatnya romo tidak pernah memaksa untuk mengungkapkan atau membagikan jika tidak siap.

Kesadaran diri lewat PRH ini kemudian Romo Sing ajarkan juga dalam konteks sosial dan solidaritas dengan sesama baik lingkungan, manusia maupun makhluk hidup lainnya. Pernah suatu kali romo membahas soal bagaimana cara mengusir anjing atau kucing supaya

tidak buang air di teras. Romo meminta para frater menyiram minyak di tempat buang air. Cara

ini saya pakai sampai sekarang dan cukup efektif alih alih memukul hewan supaya tidak buang

air lagi.

Ada juga cerita soal Romo Sing yang melihat anak kecil bersama orangtua mudik mengendarai

motor dan kehilangan salah satu sandalnya. Bagaimana romo bisa menceritakan rasa empatinya

dengan situasi keluarga tersebut. Bahkan romo sing selalu mengingatkan para frater untuk tidak

menjadi egois. Mau jadi imam atau berkeluarga harus bisa berempati dan memiliki sudut padang jika kita berada di posisi orang tersebut. Jika masih egois mending tidak usah menikah atau jadi imam karena menyusahkan dan menyiksa orang lain.

Yang paling unik dan sampai saat ini membuat saya selalu takjub dengan Romo Sing adalah

analisis sosial politik dunia. Pertama Romo Sing pernah mencermati bagaimana udara Salatiga

semakin berubah menjadi panas dan berdebu. Romo kemudian membahas perubahan iklim yang sangat buruk sekali. Dua puluh tahun kemudian ketika beliau wafat terjadi siklon yang memporak porandakan tiga provinsi di Sumatera.

Selain itu, romo sing juga meramalkan kejayaan negara China yang saat itu mulai bergerak

membangun negara pada saat yang sama Indonesia sedang pada era reformasi dan terjadi

kerusuhan. Dua puluh tahun kemudian terbukti bagaimana negara China sekarang menjadi

negara adidaya penantang Amerika.

Romo juga memberikan kritik kepada Gereja Katolik di Indonesia yang tidak memberikan

dukungan kepada Gus Dur ketika dilengserkan sebagai presiden. Gus Dur yang sangat

membantu umat Katolik kenapa dibiarkan mendapatkan ketidakadilan padahal sudah dipilih oleh rakyat. Pada akhirnya waktu menjawab dan Gus Dur adalah salah satu presiden terbaik untuk Indonesia.

Ah masih banyak sekali ingatan saya dengan romo sing walaupun cuma sembilan bulan berada

di Novisiat MSF. Saya bersyukur bahwa pernah mendapatkan socius Romo Albertus Magnus Tan

Thian Sing, MSF. Beristirahat dalam Damai Romo. Tetaplah mengingatkan kami untuk selalu

dalam kesadaran dan cek untuk setiap hidup kami.

Yandu Novis 2004

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *