Masuk Kawah Candradimuka
Serial 6
MENJADI GURU BIASA SAJA
Aku diantar kakak sendiri ke Wisma Nazaret Jalan Kaliurang. Tahun 1983 mulai babak baru hidup dalam biara meskipun status masih ” Postulan”, dengan mengikuti program akademik Seminari Berthinianum di Jalan Kaliurang, Banteng, Yogyakarta. Pertama aku harus bisa adaptasi dari kehidupan bebas di luar ke kehidupan asrama yang teratur dan tertib. Aku juga termasuk senior, teman- teman pada umumnya lulusan SMA fresh. Selain itu, aku juga harus beradaptasi dengan frater- frater senior walaupun interaksi agak terbatas.
Suasana komunal dan kekeluargaan di biara Keluarga Kudus justru membuatku ” canggung” bagi pribadi introvert dan independen sepertiku. Tapi hidup tak cukup hanya dijalani tetapi harus dihayati. Aku coba menghayati model hidup baru ini dengan santai.
Bahasa Latin yang diampu Romo Harjosusanto MSF selaku Direktur Seminari menjadi pelajaran baru dan primadona. Nilaiku selalu A. Selain itu, Bahasa Indonesia yang fokus pada Membaca dan Menulis oleh guru- guru senior SMA de.Britto sangat mengesan. Aku mulai tertarik untuk menulis dengan media buletin yang kami terbitkan setiap bulan. Aku merasa sangat kurang dalam Bahasa Inggris maka aku bertekad untuk belajar mandiri, setiap hari membaca teks berbahasa Inggris dan menghafal kamus 1000 kata. Di Seminari ini artikelku pertama terbit di majalah Busos Surabaya dengan judul ” Dilema Guru Muda” yang merupakan hasil refleksi ketika menjadi guru. Wow dapat wesel honorarium! Setelah itu artikel- artkel lain pun menyusul di beberapa media. Aku merasa punya bakat menulis yang selama ini tidak terpikirkan.
Setahun di seminari Berthinianum lebih mengasah intelektual terutama minat di bidang humaniora semakin tumbuh. Akhirnya Tahun 1984 aku diizinkan untuk lanjut ke Novisiat, masa pembinaan rohani di Salatiga.
Setahun penuh digembleng secara rohani dan psikologis di kawah Candradimuka Wisma Betlehem Salatiga bersama 14 novis dari berbagai daerah, selain lulusan Berthinianum juga ada peserta dari Mertoyudan. Kami sudah diperkenankan mengenakan jubah dan menjalankan ibadat harian ( brevir) layaknya biarawan. Ibadat lima kali sehari, dilanjut dengan studi dan kerja bakti . Kami berlatih hidup dalam kesadaran ( awareness) dibawah suhu alm Romo Tan Thiam Sing MSF. Semua berjalan dengan lancar, hobi menulis makin terasah. Artikel-artikel dimuat di koran dan majalah. Karena di novisiat, novis tidak boleh membawa uang maka honor menulis biasanya kuminta dalam bentuk buku.
Pada akhir tahun masa novisiat para novis harus mengajukan kaul pertama untuk menentukan boleh lanjut atau tidak.
Aku lolos sehingga boleh mengikrarkan kaul pertama dan tahun 1985 mulai kuliah di Institut Filsafat Teologi ( IFT) Kentungan, Yogya. Setiap pagi berangkat dari Banteng dengan sepeda onthel. Bagiku kuliah di IFT ini benar- benar menyenangkan, selain bidang studi sesuai dengan minatku– humaniora– para dosen juga ramah, komunikatif dan dialogal. Teman-teman sesama frater dari berbagai konvik juga sangat baik. Aku semakin asyik dengan kegiatan membaca karena tersedia perpustakaan yang cukup lengkap. Obsesi jadi sarjana sudah ” hilang” karena jika aku terus otomatis akan sarjana bahkan magister ( S2) , tak tertutup bisa studi S3 di luar negeri.
Apakah benih panggilan menjadi guru sudah tergantikan dengan panggilan menjadi Pastor? Dari permukaan ya, bahkan teman- teman frater banyak tertarik melakukan pastoral dengan mengajar agama di sekolah atau mendampingi kegiatan Pramuka. Aku tidak tertarik, lebih suka membaca dan menulis di kamar, kalau suntuk naik sepeda seputaran kota Yogya. Namun demikian, tulisan- tulisanku terutama di majalah pendidikan MNPK banyak mengulas soal- soal pendidikan. Aku juga berkenalan melalui karya- karya tokoh besar pendidikan seperti Paulo Freire dengan Pedagogy for The Opressed, juga John Dewey dengan teori Experiential Learning, pikiran- pikiran Rabendrat Tagore, Ki Hajar Dewantara, Romo Mangunwijaya, Driyarkara, dll. Secara praktis aku memang jauh dari dunia pendidikan, namun secara intelektual aku justru menyelami ( ini nanti, seri mendatang, mulai kuliah dari awal Bahasa Inggris sampai lulus, lanjut mengajar Bahasa Inggris di Bali, ada masa-masa panggilan menjadi guru timbul tenggelam.}


keren ki lika-liku laki-laki ne