Untukmu, Sobat (Siapapun yang Dekat dalam Hati dan Doa Kita)
Sore hari ini, sebelum hujan mengguyur sebagian utara Yogayakarta, sambil menunggu putra pertama pulang tugas komsos dalam misa Natal sore ini di Gereja Santo Petrus dan Paulus Paroki Minomartani, saya membuka-buka kembali buku Ngumpulke Balung Pisah yang berisi daftar nama anggota paguyuban. Tahun ini bertambah lagi beberapa saudara yang masuk dalam daftar yang akan didoakan (in memoriam). Salah satunya sahabat karibku, Kristianto Mateus.
Kami bertemu pertama kali 12 Agustus 1994, dua hari sebelum misa penerimaan busana sebagai frater novis MSF di Salatiga. Kami kamar berdekatan. Ketika saya datang tanpa jubah, dia yang mencarikan di lemari yang berada gudang novisiat dekat tempat cuci pakaian jubah yang cocok dengan tubuh saya yang saat itu masih kurus. Ia mendapatkan sebuah jubah yang tidak terlalu panjang dan itu nampak agak menggantung antara betis dan lutut. Tidak masalah, yang penting ada.

Sekian tahun kami bersama. Belajar di kampus yang sama. Makan di ruang makan yang sama. Bahkan mendapat perutusan untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral di tempat yang sama, nun jauh di sana. Kami pulang dengan selamat, meski di tanah misi kami memiliki kisah-kisah yang tidak saling tahu karena kondisi dan keadaan (belum ada HP seperti sekarang). Tinggal berjauhan tidak mengurangi kesatuan dan kepekaan kami sebagai sahabat. Saat berjumpa saling meneguhkan dengan pengalaman yang kami alami di tempat praktek kami yang berjauhan.
Pulang TOP kami melanjutkan studi teologi. Dan menjelang akhir ternyata tanpa saling komunikasi, kami merefleksikan hal yang sama dan kami sama-sama keluar menjalani hidup kami yang baru dengan segala jatuh dan bangunnya.
Nostalgia senja ini sampai pada pengalaman natal. Dan selanjutnya refleksi berikut lebih bersifat umum dan bisa disesuaikan dengan konteks pengalaman kita sendiri dengan orang-orang yang kita kenal dan sayangi yang tidak lagi natal bersama kita. Bagi yang kenal sahabatku (teruntuk keluarganya) ini hanya sebuah anamnesis yang meneguhkan relasi yang tidak kelihatan.
***
Natal selalu datang membawa gemerlap yang kontras dengan sepi di sudut hati. Di balik nyanyian pujian dan hangatnya secangkir kopi yang mengepul, ada kursi kosong yang diam-diam berbicara tentang kepergianmu.

Hari raya yang seharusnya mengumpulkan tawa kini menyisakan ruang untuk rindu, rindu pada suara sapaanmu, pada kebiasaanmu menyelipkan cokelat di saku anak-anak, atau pada cara matamu berbinar saat menyanyikan “Gloria in Excelsis Deo.” Dalam diam, kami belajar bahwa kesedihan dan sukacita bisa berjalan beriringan: satu mengingatkan kami pada kehilangan, yang lain pada keabadian kenangan yang kau ukir.
Puisi ini adalah surat yang tak tersampaikan, secercah cahaya untuk menerangi jarak antara bumi dan surga. Di setiap baitnya, kami mencoba menggapai bayanganmu yang lembut, sebagai sahabat yang setia mendengar keluh, suami yang tak lelah menguatkan, dan ayah yang mengajar kami arti kasih tanpa syarat. Natal mungkin tak lagi utuh tanpamu, tapi di sini, kami memilih untuk merayakan hidupmu, bukan hanya kepergianmu.
Di surga, kini kau rayakan Natal dalam damai,
Bintang-bintang berbisik tentang senyummu yang abadi.
Di sini, kami merindu tawa renyahmu yang hangat,
Cahaya lilin redup, tapi terangmu tak pernah padam.
Dahulu, tanganmu menggenggam erat tangan kekasih jiwamu,
Setiap nasi hangat, doa diam-diam kau ukir di meja.
Kebaikanmu mengalir seperti hujan di musim kemarau
Kini jadi malaikat kecil yang menjaga mereka.
Untuk anakmu, kau ajarkan sabar dan tawa,
Dongeng di malam sunyi, pelukan yang tak kenal lelah.|
Surga memanggilmu pulang lebih dini, sahabatku,
Tapi cintamu tetap bintang Natal: abadi, menghangatkan jiwa.
Salam rindu dari bumi,
Di mana kenanganmu hidup dalam setiap desau doa.

Meski tubuhmu kini bersemayam di tempat yang jauh dari jangkauan kami, jiwa-jiwa yang pernah kau sentuh tak pernah benar-benar kehilanganmu. Keterhubungan kita bukanlah sekadar kenangan, melainkan benih kasih yang terus tumbuh dalam doa, dalam cerita yang diulang di meja makan, bahkan dalam desau angin yang tiba-tiba menggetarkan daun jendela.
Surga mungkin mengambil ragamu, tapi kelembutanmu sebagai suami yang penuh perhatian, ayah yang sabar, dan sahabat yang rendah hati tetap hidup, menjadi kompas bagi kami yang masih berjalan di bumi.
Natal mengajarkan kami bahwa cinta sejati tak mengenal batas ruang atau waktu. Saat kami menyalakan lilin di gereja atau meletakkan bintang di pucuk pohon, kami merasakan hadirmu dalam keheningan yang penuh makna. Kau bukan lagi sosok yang bisa diraih, tapi kau adalah nyanyian di balik setiap pujian, adalah kehangatan dalam setiap pelukan yang kami berikan pada anak-anakmu.
Dalam keyakinan ini, kesedihan kami perlahan berubah menjadi syukur: karena meski fisikmu tiada, jiwamu tetap merajut kehangatan di antara kami, mengingatkan bahwa kematian hanyalah pintu bagi cinta untuk menjelma menjadi sesuatu yang lebih abadi.

