Natal Di Antara Mic dan Nasib: Saat Karoke Menjadi Gereja

Natal Di Antara Mic dan Nasib: Saat Karoke Menjadi Gereja

Natal di Antara Mic dan Nasib: Saat Karaoke Menjadi Gereja

Di bawah langit Surakarta yang pekat oleh asap knalpot dan deru taksi online, Natal tahun ini datang seperti secangkir kopi yang terlalu pahit. Putri semata wayang mengirim video pendek dari Bandung: lampu pohon Natal berkedip riang, tapi suaranya tersapu jaringan yang tak stabil. Istriku terbaring di kamar, demamnya mengubur rencana misa tengah malam. Tak ada lingkungan yang mengirim parcel, tak ada wilayah yang mengetuk pintu untuk arisan Natal. Hanya aku, kalender yang lembarannya menghitung hari sepi, dan undangan dari grup Karaoke Mania Wong Ngisoran di sebuah warung tenda pinggir kali.

(hasil olahan Gemini, dokpri)


Malam itu, hujan gerimis mengubah trotoar menjadi cermin yang memantulkan neon warung Pakde Juna. Aku duduk di bangku plastik retak, menghirup uap bakso kuah yang terlalu asin, sementara di layar TV butek, nama “Cinta Kita” berkedip menunggu penyanyi.

Di sebelahku, Mas Bowo, teman karaoke dari HIK yang dulu sama-sama di-PHK, mengernyitkan dahi sambil mengatur playlist. “Natal jangan murung, Pakde! Aja nganti ilang ganteng!” serunya sambil menyodorkan mic berlapis lakban.

Lalu dia datang: seorang biduan berkebaya merah menyala, riasan matanya tebal seperti lukisan wayang. “Mbak Dian, mau nyanyi Last Christmas?” tanyaku ragu. Dia tertawa renyah, suaranya mengalahkan deru mesin genset. “Ini lagu saya, Pakde! Tapi sebentar ya, nanti saya harus ke jagongan nikahan di Ciledug. Bayarannya lumayan buat beli susu anak!” Sebelum lagu dimulai, dia berbisik: “Katolik juga to, saya? Dulu komsion di gereja kampung. Tapi nasib… hidup ini kadang jadi biduan, kadang jadi malaikat.”

Di antara dentuman bass dan teriakan lirik yang fals, sesuatu berubah. Saat Mbak Dian menyanyikan bait “I don’t want to miss you like this”, Mas Bowo menggenggam bahuku, matanya berkaca-kaca. Seorang ibu penjual cilok ikut berjoget dengan wajah letih, sementara tukang parkir yang biasa marah-marah malah menyumbang lagu rohani Gloria dengan suara serak.

Di sana, di bawah tenda compang-camping yang bocor oleh hujan, aku menyadari: Natal tak selalu tentang altar marmer atau paduan suara berjas. Kadang ia bersembunyi di balik mic yang berdebu, di senyum seorang biduan yang terburu-buru ke pesta pernikahan, di tangan-tangan kasar yang mengangkat gelas teh botol sambil berteriak, “Untuk yang di rumah sakit, cepat sembuh ya!”

Saat pulang, jam sudah lewat tengah malam. Istriku tertidur lelap, tapi di meja makan ada secangkir susu hangat dan secarik kertas: “Papa, jangan lupa besok kita video call misa pagi. Aku bawa host dalam kantong, host digital, hehe.” Aku tersenyum. Di luar, langit masih gelap, tapi di saku jaket, ada nomor WA Mbak Dian: “Kalau istri sudah sehat, ajak karaoke bareng! Gratis, lagi dapat proyek jagongan nikahan!”

Nasib. Nasib.

***

Natal bukanlah tentang kesempurnaan pertemuan, tapi tentang keberanian menemukan terang di tempat-tempat yang tak terduga. Di antara orang-orang “ngisoran” yang hidupnya sibuk mengais rezeki dari mic dan panggung darat, justru terasa kehangatan yang sering kali hilang di antara ritual yang terlalu suci. Tuhan mungkin sedang tertawa lepas di sana, melihat kami yang mencari-Nya di gereja-gereja megah, padahal Ia sedang duduk di warung tenda, memesan bakso, dan ikut berjoget saat Last Christmas diputar untuk kelima kalinya.

Nasib memang seperti lagu dangdut: kadang fals, kadang mengharu biru, tapi selalu punya irama yang membuat kita ingin nyambung sekali lagi. Dan mungkin, di balik semua ini, ada pesan kecil: Jangan pernah menutup pintu, karena malaikat sering datang menyamar sebagai biduan yang terburu-buru ke pesta pernikahan. (inspirasi tulisan Mas Tono Tirta)

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

One thought on “Natal Di Antara Mic dan Nasib: Saat Karoke Menjadi Gereja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *