Satu Frekuensi: Familiaritas
Refleksi sederhana pada ulang tahun pernikahan
Pagi ini, 26 Desember, saya “mruput” berangkat ke Gereja Keluarga Kudus, Parakan. Berharap masih “nyandak” mengikuti perayaan Ekaristi Harian pada jam 05.30.
“Mangunsari ke Parakan 30 menit nyampai gak ya?” tanya saya kepada istri. Lalu lintas dari Ngadirejo menuju Gereja Keluarga Kudus Parakan relatif longgar. Saya bisa agak cepat mengemudikan kendaraan.
Sayup terdengar dari parkiran depan gereja, umat berdoa sebelum misa. Saya bergegas keluar dari kendaraan dan berlari kecil ke arah Sakristi. Romo Andita MSF dan Romo Suryahadi MSF tengah mempersiapkan diri.
“Selamat pagi Romo,” salam sapa saya sok akrab kepada beliau berdua.
Satu romo agak tercengang. Barangkali beliau kaget dan hanya membatin, siapa yang datang secara tiba-tiba. Romo lain menyebut nama saya. Ternyata, saya masih dikenal. Deo Gracias!
“Romo, saya ndherek ujub misa ulang tahun pernikahan,” kata saya sembari menyerahkan stipendium.
Perayaan Ekaristi berlangsung khusyuk. Selain merayakan Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama, saya mensyukuri pengalaman hidup berkeluarga selama 21 tahun. Kali ini, saya memperingatinya di gereja yang dikelola Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF).
Doa Penyerahan kepada Keluarga Kudus dilantunkan. Romo Andita memberikan berkat penutup. Misa selesai. Saya dan istri berdoa.
Kami merasa lega dan keluar gereja dengan mantab, serta menemui para romo yang berdiri menyapa umat. Kami pun “nimbrung” di antara mereka.
Kami duduk berjejer di bangku luar gereja dan berbincang-bincang. “Ayo Ismul, ngopi dulu,” ajak Romo Suryahadi kepada saya. Saya mengiyakan undangan beliau. Seperti berada di lingkungan sendiri, saya menyusul Romo Suryahadi yang berjalan mendahului menuju pastoran.
Suasana ruang pastoran tidak asing bagi saya. Setidaknya, saya pernah datang beberapa kali ke tempat ini.
Romo Suryahadi mengajak saya ke dapur pastoran. Saya sebetulnya mencoba membantu beliau untuk menyiapkan kopi, menggiling, dan menyeduhnya dengan air panas mendidih. Gerakan Romo Suryahadi “sat set”. Beliau menyiapkan 3 cangkir kopi. Satu untuk saya. Satu untuk istri. Satu lagi untuk beliau sendiri.
Kami melanjutkan perbincangan di ruang tamu pastoran. Obrolan tentang keluarga, karya, dan peristiwa aktual lainnya. Hangat. Akrab. Semangat familiaritas mencuat. Antene saya merasakannya. Satu frekuensi.
Para Romo mempunyai agenda pagi ini. Sebagai tamu yang baik, saya dan istri mencoba menempatkan diri. Saya pamit kepada beliau berdua dengan sukacita. Setidaknya, saya masih merasakan semangat yang sama.*


HWA Mgr
Selamat merayakan mas Ismul. Keluarga yg bahagia, sejahtera dan menginspirasi. Selalu. Berkah Dalem