09 – Berbekal Buku yang Heroik

09 – Berbekal Buku yang Heroik

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang

menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap

pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan,

dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.

-0-

Waktu masih terus bergulir, catatan kecil ini sekadar media berbagi sepotong kisah. Hampir

sepuluh tahun lampau kedua anak gadisku satu demi satu meninggalkan rumah, baik

melanjutkan belajar maupun memulai karya. Selepas mereka beranjak pergi saya menyelisik

kamarnya dan menemukan secarik kertas yang tertempel di dinding.

Cepat skripsinya

lalu pergi yang jauh

– st kartono

Sementara di kamar yang lain ada bentangan kertas yang berisi lini masa mengenai rencana

hidupnya dari tahun ke tahun hingga target-target yang diimpikannya, bahkan kini sedang

dijalaninya. Saya cek ulang kepadanya, benarkah bapak mengatakan hal itu? Begitulah, katanya.

Inspirasi mana yang saya embuskan kepada anak-anak agar pergi yang jauh? Rupanya

buku Chris Lowney (2006) yang membahas kepemimpinan heroik itu kami (saya dan istri) pakai

(meski tak sempurna) membesarkan anak-anak di rumah. Di bawah bab “Seluruh Dunia

Menjadi Rumah Kita” Lowney meyakinkan bagaimana ingenuitas memicu inovasi, kreativitas,

dan mentalitas global. Satu anekdot penjelasnya adalah kisah misionaris agung yang dikenal di

negeri ini yakni Fransiskus Xaverius pada awal diutus. Ingenuitas Xaverius berupa kesiapan

untuk menyeberangi dunia bila diminta dalam upaya sepenuh hati mengejar peluang yang baik

disertai kebebasan pribadi dan optimisme.

Saat mereka telah menjelajah berbagai tempat di lima benua dan berbagai sudut negeri

sendiri, padahal tempat itu hanya impian bagi bapak ibunya, kami pun berulang-ulang

meyakinkannya bahwa “seluruh dunia itu rumah kita”, kalian punya masa depan dan bapak ibu

punya masa tua yang (moga-moga, sembari berdoa dan berupaya) tak perlu merepotkanmu.

Pater Wim van der Weiden MSF (2011) menengarai anak-anak demikian sebagai person of

present dan person of beyond, berani melampaui kebudayaan mereka sendiri, sejarah, nilai,

bahasa ibu, simbol suku. Di zaman lampau, keberanian menembus batas-batas geografis dan

melintasi batas-batas tanah air biasanya dimiliki oleh para misionaris, hingga orang-orang yang

berani melampaui batas-batas itu layak disebut berjiwa misioner. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *