Memilih Menjadi Freelancer: Kebebasan adalah Pilihan
Beberapa tahun lalu, saat menjadi P3K belum sepopuler sekarang, prosesnya tergolong sederhana. Cukup dengan dua rekomendasi—dari Pastor Paroki dan Penyelenggara Agama di kantor Kemenag setempat—peluang itu sudah terbuka lebar. Rekan-rekan menyarankan saya mengambilnya. Ada dua formasi yang tersedia, dan mereka yakin saya bisa lolos dengan relatif mudah.
Nomor telepon Pastor Paroki sudah di tangan. Namun, selama beberapa hari, rasanya berat sekali untuk sekadar menghubungi beliau. Ada keengganan yang mendalam, bahkan perasaan saya cenderung emosional saat memikirkannya.
Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan menjadi abdi negara tersebut. Begitu keputusan diambil, hati saya justru terasa tenang dan tidak lagi kemrungsung (gelisah). Mengapa demikian?
1. Ketidakcocokan Karakter
Ternyata, saya memang tidak cocok menjadi pegawai negara. Begitu banyak ketidaksinkronan antara aturan birokrasi dengan kebiasaan serta pilihan hidup yang selama ini saya jalani. Konflik kepentingan ini rasanya sulit untuk dijembatani.
2. Independensi dalam Menulis
Saya terbiasa menulis dan mengkritik cara bernegara dengan keras dan lugas. Jika saya masuk ke dalam sistem, tajamnya pena saya tentu akan tumpul. Saya memegang prinsip: jangan mau kalah dengan babi. Seekor babi tidak akan memakan kembali makanan yang sudah terkena ludahnya. Sebagai manusia, saya tidak ingin “meludahi piring makan sendiri” dengan mengkritik instansi yang memberi saya makan.
3. Kebebasan Jiwa vs Keamanan Finansial
P3K mungkin menawarkan keamanan finansial, namun bagi jiwa saya, kemandirian lebih utama. Menjadi pegawai berisiko menghambat kebebasan saya dalam menuangkan gagasan secara jujur.
4. Melayani dengan Merdeka
Saat ini, saya mengajar Pendidikan Agama Katolik di sebuah SMK hanya pada hari Jumat. Seorang rekan menyebutnya sebagai “Rela-ne hari Jumat” (Rela/Sukelawannya hanya hari Jumat). Bagi saya, ini jauh lebih memerdekakan jiwa. Tidak ada ketegangan antara idealisme diri dan tuntutan institusi.
5. Ruang Kreativitas yang Meluas
Dengan memilih jalan ini, kreativitas saya justru berkembang pesat. Saya bisa membuat anggur (wine), mengisi kegiatan rekoleksi, dan aktif menjadi kontributor di berbagai media—mulai dari Kompasiana, Katolikana, Web PBMN, Brayatminulyo.net, Suryapos, hingga mengelola web pribadi Susyharyawan.com.
Saya juga punya waktu untuk mengembangkan hobi: berkebun serta memelihara sugar glider, landak mini, ikan, hingga ayam. Semua itu menjadi sumber sukacita. Saya pun bisa membaca buku sepuasnya, baik buku baru maupun membaca ulang buku lama untuk menimba inspirasi dan mempertajam analisis terhadap suatu peristiwa.
6. Kendali Penuh atas Waktu
Kebebasan penuh berarti semua dalam kendali sendiri. Jam kerja, waktu istirahat, piknik, hingga sekadar rebahan bisa dilakukan tanpa rasa khawatir akan merugikan lembaga atau rekan kerja. Ini bukan soal malas, melainkan konsekuensi logis dari sebuah pilihan.
Tanggung Jawab atas Konsekuensi
Tentu saja, pilihan ini memiliki kendala. Kondisi keuangan tidak se-stabil jika menjadi pegawai tetap. Seorang rekan pernah bertanya apakah saya tidak ingin seperti teman-teman lain di Kementerian Agama. Dengan tegas saya jawab: Tidak. Ini adalah pilihan yang sudah saya ambil jauh sebelum ada pengangkatan pegawai. Memilih berarti berani bertanggung jawab. Kebahagiaan setiap orang berbeda. Ada yang bahagia dengan gaji tetap, ada pula yang tetap bisa bahagia meski kadang harus berpikir, “Besok beli pulsa pakai apa?” saat pemasukan belum ada. Pernah terjadi, makan apa besok? Ngakak.
Mendewasakan dan Membahagiakan
Hidup sebagai freelancer mengajarkan saya memilah mana kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Hidup saya tidak lagi dipenuhi ambisi memiliki segalanya. Tanpa banyak “keinginan” yang membebani, hidup menjadi tidak ribet.
Seringkali muncul pertanyaan: ingin mati tua dengan kondisi fisik yang menurun atau mati muda dalam keadaan baik-baik saja? Saya menjawab: mati muda. Sejak usia 30-an, saya sudah siap jika sewaktu-waktu Tuhan menghendaki saya pulang. Bagi saya, semuanya sudah cukup.
Salam JMJ
Susy Haryawan

