#15 – Berbasa-basi

#15 – Berbasa-basi

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

#15 – Berbasa-basi

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini hanyalah sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar berguna bagi sesama.

-0-

Tempo hari saya ikut melayat keluarga kolega di Bantul. Seusai ibadat, saya pun beranjak mendekat peti bersama rombongan memberikan penghormatan terakhir. Di teras rumah duka itu saya menyaksikan dua pastor saling-bersapa, “Basa Jawa romo tadi bagus, lho.” Begitu kalimat pembuka satu rama (pastor) untuk rama yang memimpin ibadat dengan bahasa Jawa. Saya tidak menyangka kalimat pembuka itu muncul ringan di antara orang-orang yang levelnya penting (di mata saya). Saya melihat sisi lain sosok-sosok penting yang memanfaatkan hal sederhana (yang sejatinya tidak sederhana) seperti bahasa yang dipakai untuk mengalirkan pembicaraan ke hal-hal lain.

Di zaman kini, sapaan rama pertama itu tergolong basa-basi. Yang mengesan, dalam rumusan Eileen Rachman, ternyata basa-basi tidak dengan ungkapan-ungkapan berat karena basa-basi tidak menuntut kepintaran, melainkan kehadiran. Bukan pernyataan hebat yang membuat orang terkesan, melainkan karena menunjukkan minat yang nyata. Dalam banyak pengalaman, orang-orang yang terbingkai oleh jabatan tidak mudah untuk meluncurkan ungkapan-ungkapan ringan, entah dalam percakapan, berelasi, atau pun dalam grup di jagad maya.

Sungguh saya banyak kali “gagu” ketika masuk atau berada dalam satu lingkungan, entah nyata maupun maya. Tidak mudah untuk mengikisnya. Karena terbatas bersemuka, jagad maya pun tidak boleh kehilangan gurauan dan basa-basi. Dalam banyak tahun mengikuti beberapa grup percakapan WhatsApp, saya berusaha memecah kebekuan, sesekali melontarkan kuiz dengan pertanyaan yang mengundang partisipasi anggota. Pertanyaan yang jawabannya tidak bisa ditemukan di mesin pelacak saya sampaikan dengan jaminan hadiah 3 pak mi Gacoan (tak bermaksud mengiklan) bagi yang menjawab sesuai selera saya. Atau, di lain kesempatan saya kirimkan pindaian teks-teks pendek yang sesuai kebutuhan anggota grup, masih terus hingga kini.

Gillian Sandstrom meyakinkan saya lewat risetnya bahwa percakapan (kuis/temuan teks) singkat yang seolah untuk membunuh waktu itu ternyata dapat membahagiakan orang karena membuat mereka merasa lebih terhubung dan lebih baik secara emosional. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *