Romo Santoso , MSF Romo Magister ingkangย sae.. ๐๐๐ป๐๐ป
Mengenang pengalaman Indah bersama Romo Santoso MSF
Saat pertama kali bertemu Romo Santoso di Berthinianum,beliau terkesan “galak” saat belum begitu akrab,namun seiring perjalanan waktu,saya mulai menyadari bahwa yang nampak dari luar “galak” sebenarnya berhati mulia. Beliau punya empati yang sangat besar terhadap semua anak-anak didiknya di Seminari Berthinianum,saat mendapatkan kiriman makanan dari umat,kami semua yang di Seminari Berthinianum serta kakak Novis selalu mendapatkan bagian yang sama dan merata, demikian pula saat beliau mendapatkan donasi pakaian dari umat,kami semua yang di Seminari Berthinianum serta kakak Novis juga mendapat bagian yang sama.
Romo Santoso adalah pribadi yang tegas, disiplin, murah hati, dan cukup humoris. Saat kami sedang rekreasi bersama main karambol,ย beliau main dengan lepas. “Bodong” ..kalau partner mainnya tidak bisa menusuk masuk ke dalam lubang, tetapi bersorak ” Hore..” lalu “toos ” dua tangan dengan partner main nya,saat tusukan koin karambol nya bisa tepat masuk ke lubang. Saya yang terprovokasi saat jadi lawan main karambol bersama Romo Santoso, menegur partner saya “woo..malah meleset..” Romo Santoso nyelentuk..”Rasah nganggo ngoyot gulune, kami yang main karambol bersama jadi tertawa bersama. Terkadang kalau di saat mengajar di kelas ada suara tamu perempuan yang datang berkunjung, teman-teman di kelas nyelentuk, ada suara sopran Romo, beliau terkadangย ย tergoda berjalan sambil berjingkat melihat tamu yang datang sambil tersenyum, kami semua yg ada di dalam kelas tidak bisa menahan tawa melihat Romo Santoso demikian.
Salah satu peristiwa yang masih saya ingat saat di Novisiat,adalah saat menjalankan tugas sebagai bidel kambing bersama Yudis,kami yang pernah mendapat teguran dari Bruder FIC karena memotong daun pohon gamal tanpa izin, mencoba mencari pakan alternatif buat kambing dengan daun kupu-kupu yang kami ambi di pinggir-pinggir jalan, namun karena kambing peliharaan sudah terbiasa makan daun pohon gamal, mungkin perlu adaptasi dengan daun kupu-kupu, kambing-kambing makannya tidak begitu lahap seperti biasanya. Pastinya karena masih kelaparan, saat malam hewan-hewan tersebut terus mengembik. Keesokan paginya saat setelah selesai mengajar di kelas, Romo Santoso menanyakan kepada kami,”Siapa Bidel kambing..? Itu kambing kenapa semalam ngembek terus..? Dengan raut muka serius,mungkin beliau terganggu istirahatnya karena suara kambing yang mengembik. Yudis yang nama akrab seminarinya kambing, hanya diam saja. Rama San menengok ke arah saya, posisi saya yang sudah berdiri mau keluar meninggalkan kelas mendekat krah Romo Santoso dengan spontan..” Tenang Romo..,kambing memang suara nya begitu Romo..,sambil saya menepuk nepuk pundak Romo Santoso..,Romo Santoso yang juga geli mendengar jawaban spontan saya, apalagi sambil menepuk nepuk pundak Beliau jadi tersenyum..,dan kami sekelas pun tertawa lepas. Cerita ini selalu menjadi kenangan tak terlupakan bagi saya serta teman-teman Novis 2002. Bapak mertua saya yang juga mengenal Romo Santoso merasa geli,mendengar cerita ini dari teman-teman Novis satu angkatan..๐๐
” Sugeng Tindak Sowan Gusti Romo Santoso..,Suwargi Langgeng kagem Romo Santoso ..๐๐๐๐
Timor Leste 6 Februari
Tommy Haryanto Novis 2002

