Romo Sing, Senyum yang Membawa Damai, Dari Kolam Novisiat Sampai Debu Madagascar

Romo Sing, Senyum yang Membawa Damai, Dari Kolam Novisiat Sampai Debu Madagascar

Oleh: (Alfred Jogo Ena) Seorang yang Pernah Dibimbingnya, Disembuhkan oleh PRH-nya, dan Diajak Tertawa Saat Jatuh ke Kolam

Kalau kamu pernah bertemu Rm. Albertus Magnus Tan Thian Sing, MSF, atau lebih akrab disapa Romo Sing, kamu pasti akan ingat satu hal: senyumnya yang tak pernah pudar, bahkan saat dia sendiri sedang lelah atau terguncang.

Bukan senyum sekadar formalitas. Ini senyum yang lahir dari dalam hati, dari kepercayaan bahwa Allah selalu bekerja, bahkan dalam debu, jatuh, dan kegagalan sekalipun.

Saya kenal Romo Sing sejak saya masih frater muda di novisiat. Tahun 1994, saya, seorang anak desa dari Flores, masih canggung dengan sepeda dayung kota. Satu hari, saat latihan bersepeda, plung!… saya jatuh ke kolam. Tidak ada yang menyaksikan kejatuhan saya. Hanya Romo Sing yang sedang lewat. Lalu… Romo Sing tertawa. Bukan mengejek. Tapi tertawa bersama, dengan hangat dan penuh kasih.

“Hahaha! Ini bukan akhir dunia, ini awal keberanianmu!” Katanya menghibur saya yang sedang berusaha keluar dari kolam sambil menaikkan sepeda.

Dan benar. Tawa itu justru jadi pemicu semangat saya. Saya bangkit, bersih-bersih, lalu terus berlatih. Sampai akhirnya bisa melaju dengan percaya diri. Itulah Romo Sing: ia tahu kapan harus diam dalam doa, dan kapan harus tertawa, karena bagi dia, sukacita juga bentuk doa, dan kegagalan adalah undangan rahmat yang terselubung.

Di Atas Pickup Tertutup Terpal, Di Tengah Debu Madagascar

Tapi kenangan saya dengan Romo Sing tak hanya di kolam novisiat. Tahun 1999, saat saya berkesempatan bermisi di pedalaman Madagascar, kami dikunjungi 3 orang dari Jenderalat MSF. Dan siapa yang datang? Romo Wim van der Weiden, MSF (Romo Jenderal), dan Assisten IV Jenderal, Rm. Albertus Tan Thian Sing, MSF serta seorang imam lain yang saya lupa namanya.

Kami berkeliling ke paroki-paroki terpencil dengan pickup tua, tertutup terpal, tanpa AC, tanpa suspensi yang baik. Jalannya berdebu, berbatu, dan panjang. Setiap kali mobil berhenti, kami keluar, bermandikan debu. Rambut, wajah, baju, semuanya berwarna cokelat. Kami saling pandang, lalu tertawa.

Dan di tengah debu-debu itu, Romo Sing, yang waktu itu sudah menjabat Assisten IV Jenderal, tidak protes. Ia tidak mengeluh. Ia malah menyapu debu dari baju frater muda sambil bilang:

“Ini bukan debu biasa. Ini debu kesaksian. Kita membawa Injil, bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan keringat… dan debu.”

Tentu saja dengan gayanya yang khas, tertawa terbahak-bahak.

Imam Keluarga Kudus yang Menghidupkan Kasih dalam Hal-Hal Kecil

Sebagai anggota Missionariorum a Sacra Familia (MSF), Romo Sing hidup dengan kharisma yang sederhana namun dalam: iman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, kasih yang terasa dalam pelayanan setia, dan kegembiraan yang lahir dari kepercayaan penuh pada penyelenggaraan ilahi, nilai-nilai yang ia serap dari teladan St. Yusuf, Maria, dan Yesus di Nazaret.

Ia lahir di Semarang, 22 Februari 1948, anak kedua dari tujuh bersaudara. Masuk Seminari Mertoyudan sejak usia 12 tahun. Ditahbiskan imam pada 3 Desember 1974 oleh Kardinal Justinus Darmojuwono. Selama puluhan tahun, ia melayani di paroki, rumah formasi, dan kepemimpinan tarekat, pernah menjadi Provinsial MSF, Asisten Jenderal, hingga pembimbing rohani para frater.

Romo Sing meninggal dunia pada Kamis, 4 Desember 2025, pukul 08.15 WIB, di RS St. Elisabeth, Semarang, tepat 50 tahun 337 hari setelah ditahbiskan. Upacara Requiem dilangsungkan di Gereja Keluarga Kudus, Semarang, dan pemakamannya di Sasana Golgota, Biara Nazareth Yogyakarta.

Bagi saya, ia bukan hanya guru. Ia adalah sahabat. Pembimbing. Penyembuh. Orang yang mengajarkan bahwa kasih Tuhan tidak datang dalam kemegahan, tapi dalam kehadiran yang tulus, dalam tawa yang jujur, dan dalam debu yang kita bawa bersama-sama.

Untukmu, Romo Sing…

Terima kasih atas tawamu yang membuat kami berani bangkit.
Terima kasih atas kehadiranmu yang membuat kami merasa aman.
Terima kasih atas doamu yang membuat kami merasa dicintai.

Semoga di rumah abadi bersama St. Yusuf dan Maria, kamu tetap tersenyum, dan mungkin, di surga pun, kamu masih mengajak para malaikat bermain sepeda… dan tertawa saat mereka jatuh ke kolam surga.

+ Requiescat in pace.
Dan biarlah senyummu, yang pernah membawa damai dari kolam Novisiat sampai debu Madagascar, terus mengalir dalam hati kita semua.

admin

One thought on “Romo Sing, Senyum yang Membawa Damai, Dari Kolam Novisiat Sampai Debu Madagascar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *