Dianggap “Tak Berpotensi Apapun”, Menjadi Pijakan Titian Masa Depan

Dianggap “Tak Berpotensi Apapun”, Menjadi Pijakan Titian Masa Depan


(Refleksi atas Teladan Rm. Albertus Magnus Tan Thian Sing, MSF)
oleh Tono Tirta


Ketika kabar kepulangan Rm. Sing ke rumah Bapa tersebar, banjir doa, kenangan, dan pujian mengalir
dari segala penjuru, terutama dari keluarga besar MSF dan Paguyuban Brayat Minulya Nusantara
(PBMN). Wajar saja. Rm. Sing dikenal sebagai sosok yang murah senyum, rendah hati, dan penuh
kelembutan, ciri khas orang yang tulus.
Banyak yang menyebutnya Sang Maha Guru. Saya sempat terhenyak mendengarnya, sebab bagi saya,
gelar itu hanya pantas bagi Sang Junjungan, Tuhan Yesus Kristus. Namun, justru di sanalah saya mulai
menyadari: kebaikan yang menyentuh hati begitu dalam, kerap kali membuat orang melampaui batas
kata untuk mengungkapkannya.
Beberapa hari setelah itu, di grup WhatsApp PBMN muncul inisiatif untuk menulis kenangan pribadi
tentang Rm. Sing, sebagai persembahan dalam peringatan 40 hari. Awalnya, saya ragu. Bahkan enggan.
Bagaimana tidak? Kenangan masa novisiat bersamanya, ketika ia menjadi magister novis saya, adalah
masa yang penuh pergulatan.
Saat keputusan harus diambil, dan saya harus meninggalkan novisiat setelah wawancara malam yang
penuh ketegangan, saya merasa seperti batu yang ditolak, dianggap “tak cocok”, bahkan “tak
berpotensi” untuk melanjutkan jalan hidup dalam kaul. Kata-kata itu, saat itu, terasa seperti palu yang
menghantam mimpi.
Namun, justru di situlah titik balik saya dimulai, bukan sebagai akhir, melainkan sebagai pijakan awal.
Dorongan dari beberapa sedulur PBMN untuk menulis (dan satu suara yang justru menyarankan saya
diam) membuat saya tersenyum. Dalam diam itu, saya merenung: Kenangan pahit pun bisa menjadi
pupuk. Luka pun bisa jadi pintu masuk bagi berkat yang tak terduga. Maka, saya memutuskan menulis,
bukan untuk menyalahkan, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengakui hikmah. Bahwa Rm. Sing,
dengan kejujurannya yang khas (tegas, objektif, tanpa basa-basi) sesungguhnya memberi saya hadiah
yang tak terbayangkan: kebebasan untuk membuktikan diri di jalan yang lain.
Ya, saya bukan satu-satunya yang berhenti di bawah kepemimpinannya. Tapi bagi saya, keputusannya
bukan penghakiman, melainkan pembedaan roh yang tajam. Ia melihat sesuatu dalam diri saya yang
mungkin bahkan saya sendiri belum siap akui: bahwa jalan panggilan saya bukan di dalam tembok biara,
melainkan di tengah umat, dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Dan itu (sungguh) adalah bentuk
kasih yang sulit dimengerti saat itu, tapi kini saya rasakan sebagai berkat yang membentuk karakter.
Saya masih ingat, beberapa waktu setelah meninggalkan novisiat, saya memberanikan diri menemuinya
di biara MASF, Gentan. Saya datang dengan ragu, bahkan trauma. Namun, dengan senyum khasnya yang
teduh, ia menyambut bahkan mendengarkan tanpa menghakimi. Kala itu, saya belum sepenuhnya
“sembuh”. Tapi setidaknya, saya mulai belajar: bukan semua hal harus diselesaikan dengan kata-kata;
kadang, kehadiran yang tulus sudah cukup menjadi rekonsiliasi.
Memang, luka itu sempat kembali menganga, ketika ibu bercerita bahwa Rm. Sing pernah mengatakan
saya “tidak cocok untuk hidup berumah tangga”. Saat itu, amarah muncul. Tapi justru di sanalah tekad saya makin mengeras: Saya akan hidup berguna, tanpa harus mengenakan jubah suci. Saya akan
membuktikan bahwa kesetiaan, pelayanan, dan kasih tidak hanya dimiliki oleh mereka yang
mengikrarkan kaul.
Dan Tuhan memberkati tekad itu, bukan karena saya hebat, tapi karena rahmat-Nya mengalir lewat
setiap keputusan, bahkan yang pahit sekalipun.
Hari ini, di usia yang tak lagi muda, saya bersyukur bisa memandang kembali ke belakang dan berkata:
Pertama, Saya menyelesaikan studi dengan baik. Kedua, Saya diberi kesempatan melayani Gereja:
menjadi organis, pelatih koor, pemandu pendalaman iman, bahkan Ketua Mudika paroki. Ketiga, Saya
aktif di masyarakat (dari RT hingga RW) dan dipercaya menjadi penghubung antara warga dan
kelurahan. Dan Keempat, Saya menikah dengan penuh kasih, membangun keluarga yang utuh, dan
(tentu saja oleh rahmat Tuhan) berhasil mendampingi putri kami hingga lulus magna cum laude dari
ATMi, menjadi salah satu wisudawan terbaik.
Semua ini bukan untuk membanggakan diri. Tapi untuk menghormati proses dan mengakui bahwa
kadang, “tidak” yang tegas justru membuka pintu “ya” yang lebih luas. Rm. Sing tidak menghentikan
saya. Ia justru sudah mengalihkan saya ke jalur yang ternyata lebih sesuai dengan karunia dan misi hidup
saya. Sekian puluh tahun kemudian, saya justru merasakan makna kata-kata Rm Tan, yang seakan
menjadi vitamin penguat bagi perjalanan hidup saya. Maka, dengan hati yang penuh syukur dan damai,
izinkan saya mengucapkan:
Selamat jalan, Rm. Sing yang terkasih. Jika engkau kini berada di surga, jangan lupa sampaikan salamku
pada para kudus dan mintakan tempat bagiku kelak, di antara mereka yang setia dalam cara masing-
masing. Jika engkau masih di api penyucian, percayalah: doaku menyertainya, sebab kasih sejati tak
pernah berakhir, bahkan oleh waktu atau keputusan masa lalu.


Karena pada akhirnya, bukan “potensi” yang dilihat orang pada kita yang menentukan hidup kita,
tapi bagaimana kita menanggapi setiap “tidak” yang mungkin dilihat dan dikatakan orang lain tentang
kita, kemudian menjadikannya pijakan untuk melangkah lebih tinggi.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *