“Kuk yang Enak” di Jalan Panjang Pendidikan Vokasi.

“Kuk yang Enak” di Jalan Panjang Pendidikan Vokasi.

Sebuah refleksi sederhana dari Matius 11:28–30


Ada sebuah keheningan khusus setiap kali merenungkan Matius 11:28–30, sebuah bisikan
lembut dari Tuhan yang terasa sangat pribadi: “Datanglah kepada-Ku… Aku akan memberi
kelegaan.” Dalam sebuah retret singkat di akhir masa Paskah, Romo Albertus Than Thian Sing,
MSF memberikan perikop kitab suci ini. Dan ketika ayat itu bertemu dengan perjalanan panjang
saya pasca keluar dari Novisiat MSF Salatiga, rasanya seperti dua aliran air yang menyatu menjadi
satu cerita yang utuh.


Pengalaman Pasca-Novisiat: Antara Kegalauan, Keheningan, dan Pencarian Arah
Keluar dari novisiat bukan langkah kecil. Itu sebuah robekan, sebuah pemutusan arah hidup
yang belum pernah saya bayangkan. Ada rasa kehilangan ritme doa, komunitas, dan identitas. Ada
pergulatan antara “apakah ini jalan kebenaran?” dan “apa yang Tuhan mau dari saya sekarang?”
Dan di situ, ayat Matius 11:28 tak lagi terdengar sebagai undangan umum, tapi personal:
“Datanglah… kamu yang letih lesu dan berbeban berat…” Karena memang ada beban: beban
ekspektasi, beban kekecewaan keluarga, beban menata ulang masa depan.
Namun secara misterius, itulah saat Tuhan memasang kuk yang baru. Bukan kuk religius
dalam bentuk hidup membiara, tetapi kuk panggilan yang sama sekali lain – kuk pelayanan dalam
dunia pendidikan vokasi.


Politeknik ATMI: Tempat Kuk Itu Menjadi Jalan
Selama 17 tahun mengabdi di Politeknik ATMI, saya tidak hanya bekerja di sebuah institusi, tetapi
berjalan dalam sebuah sejarah hidup—sejarah yang dimulai puluhan tahun lalu ketika para misionaris Jesuit merintis pendidikan teknik yang berakar pada pembentukan karakter, etos kerja, dan kemanusiaan. ATMI tidak lahir hanya untuk melatih keterampilan industri; ia lahir dari visi bahwa pekerja yang baik harus pertama-tama menjadi manusia yang utuh.
Di kampus kecil yang sederhana namun penuh energi itu, saya belajar bahwa budaya tepat waktu,
tertib, rapi, dan bersih bukan sekadar aturan, melainkan manifestasi spiritualitas: cara konkret menemukan Tuhan dalam hal-hal kecil. Dari mesin-mesin praktikum yang berdengung, meja gambar yang dipenuhi sketsa teknis, hingga ruang-ruang kelas yang menyaksikan pergulatan mahasiswa dengan tugas-tugasnya— saya melihat jejak panjang semangat Ignasian: “menjadi lebih, berbuat lebih, untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar.”
ATMI selalu membawa napas cura personalis—kepedulian menyeluruh terhadap setiap pribadi. Nilai
ini meresap dalam cara para dosen mendampingi mahasiswa bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi
sebagai anak-anak muda yang sedang mencari jati diri. Saya ikut masuk ke dalam tradisi itu: mendengar,
memandu, menegur, menguatkan, dan kadang hanya sekadar hadir ketika mereka tersesat arah.
Sejarah ATMI adalah sejarah formasi karakter. Spiritualitas magis—kerinduan untuk selalu menjadi
lebih baik—tertanam dalam setiap proses: dari penilaian berbasis kompetensi hingga ritme harian bengkel produksi. Dan di tengah semua itu, saya menemukan tempat bagi panggilan saya yang dipurnakan. ATMI menjadi ruang latihan rohani yang baru, tempat saya belajar kesetiaan tanpa sorotan dan ketekunan tanpa tepuk tangan.
Di institusi yang dibangun oleh semangat Jesuit untuk memanusiakan pendidikan vokasi ini, kuk
yang Tuhan berikan terasa sangat nyata—menguatkan, meneguhkan, dan menuntun langkah saya dari hari ke hari. ATMI tidak hanya membentuk mahasiswa; ia membentuk orang-orang yang melayaninya. Dan lewat perjalanan panjang itu, saya merasakan bagaimana Tuhan membimbing saya dalam perjalanan
formasi yang baru—formasi yang berlangsung di tengah dunia kerja, disiplin industri, dan pergulatan
generasi muda yang terus berubah. Dan justru di dunia yang tampak “sekuler” ini, kuk itu terasa nyata:
 bukan menekan, tapi mengarahkan;
 bukan membatasi, tapi meneguhkan;
 bukan memaksa, tapi memampukan.
Matius 11:29 menyebut: “Belajarlah pada-Ku.” Dan saya sungguh belajar:
 Belajar kesabaran saat mendampingi mahasiswa yang keras kepala atau putus arah.
 Belajar kelembutan saat menghadapi rekan kerja dengan dinamika karakter dan
kepentingannya.

Belajar rendah hati saat tugas administratif maupun pendampingan terasa tidak dihargai.
 Belajar setia bahkan ketika ada godaan untuk meninggalkan dunia pendidikan karena
jenuh atau lelah.


Ketika tantangan pekerjaan, tekanan administrasi, drama institusi, dan pergulatan pribadi
bercampur menjadi satu, di situlah sabda itu kembali membisiki: “Kuk yang Kupasang itu enak
dan beban-Ku pun ringan.”
Bukan karena beban pekerjaan ringan – justru berat – tetapi karena saya tidak memikulnya
sendirian, ada campur tangan Tuhan dan sahabat-sajabat yang selalu ada serta mendukung satu
sama lain.


Panggilan yang Dipurnakan, Bukan Ditiadakan
Di sepanjang perjalanan batin dan profesional itu, saya mengenang sosok yang begitu
memberi warna dalam formasi hidup saya: Romo Albertus Than Thian Sing, MSF dan Rm. Petrus
Santoso Ponco Prasetyo. MSF. Beliau berdua bukan hanya seorang formator, tetapi sebuah
kehadiran yang membentuk arah langkah dengan keteduhan, ketegasan, dan kasih yang tidak
pernah berisik namun selalu bekerja.
Romo Sing selalu mengajarkan bahwa panggilan tidak berhenti ketika seseorang
meninggalkan tembok novisiat; panggilan justru diuji, dimurnikan, dan ditajamkan ketika
seseorang melangkah kembali ke tengah dunia. Kata-katanya yang pelan namun tegas masih
terngiang: “Kesetiaan itu bukan soal tempatmu berada, tetapi soal siapa yang kau ikuti dan
bagaimana kau menghidupinya.”
Keteladanannya- dalam kesabaran mendengarkan, dalam kelembutan menegur, dan dalam
kesetiaan pada tugas sehari-hari – menjadi cahaya yang terus menyala dalam perjalanan saya di
dunia pendidikan vokasi. Banyak kali, di tengah riuh pekerjaan, saya merasa seperti mendengar
ulang nasihat beliau: tetaplah jujur, tetaplah tekun, tetaplah setia pada hal-hal kecil karena di
sanalah Tuhan berdiam.
Dengan mengenang Romo Sing, saya seperti diingatkan kembali bahwa panggilan yang saya
hidupi sekarang adalah kesinambungan dari formasi yang beliau tanamkan: formasi yang tidak
berhenti pada struktur hidup membiara, tetapi berbuah dalam pengabdian bagi mahasiswa, kolega,
dan karya yang dipercayakan Tuhan.


Kelegaan yang Sesungguhnya
Kelegaan yang ditawarkan Yesus bukanlah libur panjang atau hilangnya tantangan, tetapi:
 kejelasan arah,
 keteguhan batin,
 dan keberanian untuk tetap melangkah.
Jika ada saat-saat Saya gemetar, bingung, ingin menyerah, maka justru kuk itu sedang bekerja—
menguatkan, meneguhkan, dan mengajak Saya tetap melangkah lurus.


Sebuah Syukur yang Dalam
Kini ketika Saya melihat ke belakang – 17 tahun perjalanan di Politeknik ATMI – Saya
menyadari:
Saya tidak pernah benar-benar “keluar” dari formasi. Saya hanya dipanggil untuk masuk ke formasi yang baru – dalam dunia nyata, dalam kerasnya dinamika vokasi, dalam kehidupan sehari- hari yang penuh perjuangan namun penuh makna.

Dan sepanjang jalan itu, Tuhan yang sama selalu berbisik lembut:
“Tetaplah bersama-Ku. Kuk ini untukmu. Dan Aku menyertainya.”

Oemux 10121982

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *