#08 – Akhirnya Menjadi Guru
SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
-0-
Ketika berkuliah di jurusan pendidikan bahasa dan sastra, saya hanya ingin belajar bahasa untuk menjadi jurnalis. Kesadaran bahwa saya dididik menjadi guru baru muncul saat semester enam akan mengikuti PPL (program pengalaman lapangan). Kala itu setiap mahasiswa boleh mendaftarkan sekolah pilihannya untuk ber-PPL. Setibanya hari penempatan kepada semua mahasiswa, dosen koordinator program menyebut, “Anda bisa PPL sesuai sekolah pilihan sendiri. Kecuali, karena SMA De Britto tidak ada yang memilih sebagai tempat PPL …” Lalu, tersebutlah namaku sebagai salah satu yang ditempatkan di sana. Duuuh, padahal saya mendaftar untuk praktik di sekolah yang muridnya perempuan saja, sedangkan SMA De Britto bermurid lelaki semua.
Selama satu semester berada di kelas-kelas SMA De Britto, saya menemukan dunia murid-murid yang tidak biasa terjumpai di sekolah-sekolah yang pernah saya alami. Murid-murid yang “pentalitan”, tanpa baju seragam, sebagian berambut gondrong, ada pula yang berperangai sangar, itulah perjumpaan harianku. Namun, dunia seperti itu menjungkir-balikkan hati calon guru yang semula tidak bercita-cita jadi guru. Tampilan luaran yang serba tidak teratur itu berubah senyap-takzim penuh perhatian kalau saya berseru “Perhatikan!” Artinya, ada hal penting yang ingin saya tekankan, dan mereka mau mendengarkan.
Orang-orang muda yang orisinal dengan segala kebebasannya itu memang kritis, tapi berselera humor juga. Dalam satu sesi praktik mengajar, saya hendak berlagak menerangkan muasal kata “mesohor” sebagai bentukan kata yang keliru analisis. Pengaruh tulisan Arab Melayu tanpa huruf vokal menjadi “mshr” dari masyhur, lalu menganggap sohor sebagai kata dasar, saya terangkan dengan tulisan Arab di papan tulis. Ada murid nyeletuk ”Ngapalinnya tiga malam, ya Pak?” sembari balik badan pasang muka serius menatap murid itu, “Siapa bilang, tiga semester saya baru hapal dan lulus!” Tawa murid satu kelas itu yang saya rindukan, menertawakan guru diri sendiri tanpa meruntuhkan wibawa.
Calon guru yang tak bercita-cita jadi guru itu berlanjut menggantikan guru pembimbing PPL meneruskan mengajar hingga 34 tahun kemudian. Berjumpa murid yang setiap hari ada “kebaruan” itu menjadi “terminal rahmat” bagi saya. Akhirnya, saya pun berterima kasih pada Pak B Rachmanto yang “memaksa” saya praktik mengajar di SMA De Britto. Dan, cita-cita menjadi jurnalis tetap berjalan seiring sebagai “guru yang menulis”. ***


pengalaman yang menyenangkan
..dan mengharukan