AKTIVITAS DI DALAM KOTA DAN PERJALANAN NON PASTORAL SEBELUM MENGAKHIRI MASA TOP DI KOTABARU

AKTIVITAS DI DALAM KOTA DAN PERJALANAN NON PASTORAL SEBELUM MENGAKHIRI MASA TOP DI KOTABARU

BRAMIN 17


Saat Berada Di Dalam Kota
Saat saya sedang berada di dalam kota, tidak sedang melakukan turne ke stasi-stasi yang ada di
daratan Kalimantan, saya mengajar anak-anak SMA Negeri 1 Kotabaru. Cukup banyak juga
jumlah mereka. Sekitar 25-30 siswa. SMAN 1 Di Kotabaru ini kualitasnya cukup bagus. Sepupu
saya yang mengambil studi S-1 Farmasi di UGM pernah menceritakan kepada saya bahwa salah
satu temannya adalah alumni SMAN 1 Kotabaru Pulau Laut tempat saya bertugas saat itu. Selain
itu juga gabungan anak-anak SMP Swasta. Sekali waktu saya arahkan mereka untuk mengikuti
perayaan ekaristi di Gereja. Meskipun kebanyakan belum menjadi Katolik – kelak di kemudian
hari setelah saya meninggalkan Kotabaru saya mendapat kabar sebagian dari murid-murid yang
saya ajar akhirnya menjadi Katolik.


Di pastoran kadang ada tamu-tamu yang kepingin curhat. Saya mendengarkan beberapa
diantaranya misalnya:
Seorang dokter Katolik dari Yogya yang sedang menjalankan tugas PTT, menceritakan
pengalaman kerjanya. Sebagai dokter PTT di Kabupaten Kotabaru dia harus berkeliling ke
masyarakat yang dilayaninya di beberapa tempat, tetapi ternyata tidak mudah juga menjalankan
tugas keliling itu. Ada resistensi dari teman-teman mitra kerjanya. Juru rawat negeri yang sudah
praktek mandiri di daerah yang dia layani kadang kala merasa tersaingi dan membuat provokasi
yang berakibat masyarakat kurang percaya kepada dokternya daripada kepada mantri- juru
rawatnya. Di Puskesmas yang dia kunjungi seringkali tidak tersedia obat, karena obat-obat yang
ada dibawa pulang oleh petugas perawat untuk membuka praktek di rumahnya. Yang
diprihatinkan oleh dokter ini adalah orang-orang yang bekerja ditambang emas illegal,
kebanyakan dari mereka terkena paparan limbah mercuri dari sisa proses penambangan. Praktek
pengobatan tradisional juga masih cukup kuat di daerah pedalaman yang lebih percaya kepada
pengobatan dari dukun.
Dia juga curhat tentang pencarian calon pasangan pendamping hidup yang seiman. Baginya sulit
sekali mencari calon pendamping hidup yang seiman sejak masih kuliah di UGM. Jika ada yang
seiman sulit cocok dengan perasaan hatinya. Dari pengalamannya lebih sering mudah cocok
dengan seseorang yang tidak seiman. Bagaimana harus disikapi? Saya tidak dapat memberikan
saran atau panduan untuknya.
Ada juga seorang dokter asli dari Muntilan. Dia datang di Kotabaru untuk numpang nikah. Oleh
Romo Marto Setyoko MSF pernikahan mereka diberkati. Yang hadir dalam upacara pernikahan
itu hanya dua orang saksi dari umat yang ada di Kotabaru ini. Saya. Dan Romo sebagai pejabat
Gereja. Setelah upacara pernikahan di gereja dilanjutkan perayaan pestanya dalam jumlah
terbatas di suatu restoran di Kotabaru. Pengantin wanita berasal dari Semarang, putri seorang
tokoh DPRD yang muslim, yang tidak menyetujui pernikahan putrinya secara Katolik di
Semarang. Tetapi pernikahan itu dilaksanakan di Kotabaru – tempat calon suaminya bertugas
sebagai dokter PTT. Keluarganya akan merayakan pestanya setelah mereka kembali ke Semarang. Saat saya sudah pulang ke Tempel setelah selesai TOP di Kotabaru, saya sempat bertemu dengan dokter yang menikah di Kotabaru ini pada saat saya mengikuti Misa di Gereja Paroki Muntilan. Dokter sudah selesai menjalankan tugas PTT nya di Kotabaru dan melanjutkan studi Spesialis di Undip. Kemungkinan dokter ini warga umat dari paroki Muntilan.


Saya juga kadang menggantikan Romo Marto mengajar katekumen calon baptis dewasa seorang
karyawan pabrik udang di Kotabaru ini. Suatu saat dalam perjalanan pulang dari Banjarmasin,
saya mampir makan siang di daerah sungai Danau, dengan menu udang goreng yang
menimbulkan selera. Udang tepung yang besar-besar dan warnanya merah menarik serta enak
rasanya. Tetapi malam hari setelah saya sampai di pastoran Kotabaru badan saya terasa gatal.
Pukul 23.00 terpaksa Romo Marto membantu membedaki punggung saya dengan bedak purol.
Badan saya jadi berlabur putih seperti kera Hanoman. Karena bedak yang nempel pada bulu-bulu
tangan yang masih cukup lebat pada waktu itu menjadi ikut berwarna putih. Perlahan-lahan rasa
panas dan gatal dikulit menjadi reda. Saya merenung-renung mengapa bisa terjadi demikian?
Biasanya saya tawar terhadap makanan udang. Udang tidak membuat saya mengalami alergi
biduran. Sore hari sesudah malamnya saya dibedaki Romo Marto, calon babtis asli Cirebon itu
datang untuk belajar persiapan calon baptis. Dia jelaskan bahwa udang yang kualitasnya sudah
tidak baik, jika dikonsumsi dapat menimbulkan alergi. Darinya saya mendapatkan sedikit
pengetahuan tentang karakteristik udang.


Ada juga umat Katolik bukan warga dari paroki Kotabaru. Dia kelahiran Flores dan menikah
dengan orang Jawa – keluarganya tinggal di Semarang. Bekerja sebagai karyawan perusahaan
tambang batubara, menjadi bagian dari awak kapal pengangkut batubara yang harus terus
menerus berlayar keliling dari Balikpapan sampai Singapura. Dalam jangka waktu 6 bulan
sampai 9 bulan dia baru bisa pulang ke keluarganya di Semarang. Sekolahnya hanya sampai di
kelas V SD tetapi sebagai karyawan tambang batubara, harus bekerja sama dengan orang-orang
bule dan berbicara dalam bahasa Inggris. Gajinya cukup besar untuk ukuran waktu itu. Tetapi dia
merasa tidak bahagia karena harus terus berpisah dengan keluarganya dalam waktu lama. Setiap
kali kapalnya sandar di pelabuhan Kotabaru untuk 2-3 hari, dia selalu menyempatkan diri untuk
mampir di gereja dan ngobrol dengan beberapa keluarga Katolik di gereja. Dia katakan dia ingin
menjaga hidup beriman yang baik sehingga selalu ingin dekat dengan gereja. Merawatnya
dengan mengikuti perayaan ekaristi dan doa- doa di gereja. Sementara teman-temannya dengan
gaji yang cukup besar itu setiap kali sandar di suatu pelabuhan yang dicari adalah tempat hiburan
yang seringkali menggerus nilai-nilai iman. Konflik di dalam hatinya – karena ingin melepaskan
diri dari kehidupan yang demikian, dapat terus menerus dekat dengan keluarga, tetapi dengan
sekolah hanya sampai kelas V SD saja, bagaimana bisa mendapatkan penghasilan yang sebesar
itu setiap bulannya. Saat dia menjadi pegawai kapal tambang batu bara dapat keliling sampai di
luar negeri dengan gaji besar. Bagaimana jika dia berhenti dari pekerjaannya? Dia gelisah tetapi
tidak dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. Memang kondisinya sangat dilematis. Saya
pun tidak bisa memberikan masukan bagaimana hal itu harus di atasi.
Pada ulang tahun saya ke 27 tanggal 26 Februari 1990, Romo Marto Setyoko MSF menyiapkan
acara pesta perayaan ulang bersama umat Katolik di lingkungan gereja Kotabaru yang tidak
banyak jumlahnya. Ada guru-guru SDK Santa Maria, Suster-suster di Komunitas SPM Kotabaru, beberapa keluarga umat. Romo memberikan hadiah kepada saya radio-tape recorder kecil yang
dapat saya bawa kemana-mana jika saya sedang melakukan turne. Saya berterima kasih sekali
atas hadiah ulang tahun dari romo Marto yang care kepada kepentingan saya. Itulah pertama
kalai saya memiliki radio/tape portable.


Pada waktu masih di tingkat III Skolastikat di kamar Skolastikat bagian selatan – Filosofan lantai
II, di kamar saya juga ada radio rakitan pemberian dari Fr. Teguh Budiyanto. Supaya suara bass-
nya berbunyi keras sampai bergetar speakernya diarahkan ke dalam mulut gentong. Saat saya
pergi menjalani TOP radio itu saya tinggalkan untuk Fr. Daud Mering frater yunior saya di
Skolastikat. Pulang dari TOP di Kalimantan saya memiliki radio tape yang baru hadiah ulang
tahun dari Rm. Marto Setyoko MSF. Kaset-kaset lagu POP “Mata Indah Bola Pingpong dari
Iwan Fals – September Ceria dari Vina Panduwinata dalam satu kaset pita saya dapatkan dari
umat. Lagu-lagu klasik musik dari Beethoven – Symphony No. 5, Für Elise, Mozart, Beethoven,
Chopin, Bach, Vivaldi, Paganini dapat saya nikmati dari kaset pita milik Rm. Marto. Romo
Marto Setyoko pindah ke Sampit dua bulan sebelum saya selesai TOP di Kotabaru. Beberapa
kaset pita yang berisi lagu-lagu klasik yang ditinggalkan Romo Marto Setyoko di Kotabaru saya
bawa pulang ke Yogya. Radio/tape kecil itu menjadi kenangan yang sangat berharga karena di
rumah Tempel Bapak saya yang suka gending uyon-uyon memakai radio/tape yang sama
menjadi hiburannya saat saya tidak sedang menggunakannya. Radio itu masih bermanfaat
sampai saya bawa juga saat saya sudah bekerja menjadi guru SMK St. Louis di Randublatung
Tahun 1993-1995.


Menjelang tahun baru Romo meminta saya untuk mengumpulkan “OMK” yang terdiri dari
sebagian besar murid-murid yang saya ajar pendidikan agama Katolik di sekolah, meskipun
kebanyakan dari mereka belum Katolik. Saya juga mengajak guru-guru yang mengajar di SDK
Santa Maria untuk bergabung dalam acara tersebut. Saya ingin membuat api unggun dalam acara
itu seperti acara api unggun dalam kegiatan pramuka. Tetapi guru senior yang hadir dalam acara
itu menyarankan sebaiknya tidak usah dengan menyalakan api unggun. Karena di daerah ini
rentan kebakaran. Semua rumah dibuat dari kayu dengan atap sirap. Jika ada bara yang
diterbangkan angin bisa membahayakan untuk semua. Pak guru itu sudah lama tinggal di daerah
ini sehingga memiliki pengalaman yang banyak. Sudah pernah melihat beberapa kali kasus
kebakaran di kota ini. Saran baiknya saya ikuti dan dengan orang-orang muda itu kami bikin
acara disko di halaman yang tidak begitu luas di belakang gedung gereja dan TK Yos Sudarso –
yang berada di samping kanan depan pastoran. Acara berlangsung sampai menjelang pagi. Romo
juga turun untuk ikut Dugem. Kami menyalakan lampu disko yang byar-pet gemerlapan. Ini
berbeda dengan disposisi batin saya yang lebih suka akan keheningan – sehingga sambil
menemani mereka saya lebih memilih bermain halma dengan OMK yang hadir tetapi tidak ikut
berdisco – dansa. Suasananya seperti bersama-sama dengan orang-orang muda di diskotik
Hongkong – karena kebanyakan murid-murid saya bermata sipit. Mereka tampak senang sekali
di acara itu. Sebelum penutup saya berikan renungan awal tahun. Agar masing-masing membuat
resolusi perubahan bagi dirinya ke arah yang lebih baik di awal tahun 1990 itu.
Pastoran, menjadi tempat persinggahan umat Katolik dari Stasi yang sedang ada urusan di
Kotabaru. Jika ke stasi-stasi mereka jadi tuan rumahnya maka ketika mereka datang ke Kotabaru kami yang jadi tuan rumahnya. Suatu saat datang seorang ibu dan putrinya dari Sebamban Blok
B ke Kotabaru entah dalam urusan apa. Kepada ibu dan putrinya itu kami beri tempat untuk
bermalam di bagian dari ruang tamu pastoran yang terbuka di ujung kiri dekat dinding papan
yang tidak digunakan untuk jalur jalan keluar masuk rumah pastoran. Di pastoran hanya tersedia
dua kamar di lantai bawah. Di bagian belakang pastoran dekat kamar mandi ada satu kamar
yang sempit di lantai 2. Kamar untuk katekis jika dia sedang datang ke Kotabaru.
Suatu saat ada orang muda pekerja di kebun Kelapa Sawit di daratan pulau ini. Mengaku Katolik
dan berasal dari Muntilan. Dia datang dalam keadaan sakit. Dan meminta Romo Marto untuk
dapat membantu membiayai pulang ke Jawa dengan Kapal. Pemuda yang malang ini sempat
menginap beberapa hari di pastoran. Tampaknya sangat menderita – karena sakit malaria,
badannya menggigil dan demam. Kami hanya bisa melayani secara terbatas. Memberikan ruang
yang sama di kamar tamu itu dan melayani memberikan makan dan minum. Romo Marto
membantunya untuk biaya membayar kapal untuk kembali ke Jawa. Kondisinya sangat
memprihatinkan. Bukan Kapal penumpang yang dia ikuti untuk membawanya kembali ke
Semarang. Tetapi kapal barang dari pelabuhan Kotabaru ke Semarang. Dari sini tidak ada kapal
penumpang.


Di Kotabaru saya membeli sepatu olahraga untuk mengisi waktu di waktu luang. Saya suka jalan
kaki atau berlari-lari kecil keliling kampung naik ke bukit yang masih berhutan. Daerah itu
masih seperti tanah kosong yang tidak dihuni oleh penduduk. Tetapi di sana juga tumbuh pohon
buah langsat yang tidak ditanam oleh pemilik kebun sehingga siapapun yang ingin
mengambilnya tidak perlu meminta izin kepada pemilik kebun karena letaknya ada di bukit-
bukit. Selain langsat yang berwarna kuning seperti duku tetapi rasanya agak asam, ada juga
pohon buah kepundung yang kulitnya mengkilap dan agak coklat kehijauan warnanya jika sudah
tua. Buahnya bergantung di ujung rantingprantingnya. Tidak seperti duku atau langsat (kokosan)
yang buahnya menempel pada pokok pohonnya. Isi di dalamnya tidak bening seperti buah duku
atau langsat, tetapi juisi – banyak air dan kulitnya agak tebal rasanya juga asam. Konon buah ini
– yang di Jakarta disebut buah menteng – banyak kasiatnya untuk menopang penglihatan,
memperkuat tulang, melancarkan pencernakan, mencegah gejala anemia, dan paparan terhadap
radikal bebas – anti oksidan. Perbukitan ini bagian dari Gunung Bamega yang menjadi latar
belakang dari Kotabaru. Keanekaragaman hayati di pulau kecil ini rupanya masih terjaga dengan
baik. Buah-buahan seperti itu tampaknya tidak dengan sengaja dibudidayakan – tetapi tumbuh
dengan sendirinya di hutan-hutan perbukitan Gunung Bamega ini. Mungkin buah-buahan seperti
ini menjadi makanan burung atau monyet yang masih kadang-kadang menampakkan diri di
hutan perbukitan ini. Tidak ada yang memetik buahnya untuk diperdagangkan karena alam
dengan murah hati masih menyediakannya untuk diambil secara bebas. Mungkin karena rasanya
juga tidak enak, cenderung asam – meskipun manfaatnya banyak – sehingga tidak laku jika
diperjual belikan di pasar.


Pada suatu saat kami bersama sejumlah keluarga umat paroki di Kotabaru yang tidak terlalu
banyak ini melakukan perjalanan ke arah Stagen. Setelah melewati Stagen rombongan kendaraan
berbelok ke hutan tempat rekreasi sederhana. Di dalam hutan ini kami makan-makan, dan pisang
Gapet yang enak untuk pertama kali saya rasakan di tempat ini. Pisang gapet itu dibuat dari jenis pisang kapok yang dibakar dan dibelah menjadi dua. Di Tengah pisang gapet ini diletakkan selai
kacang tanah. Rasanya menjadi hangat – gurih dan manis. Luar biasa kuliner jenis ini. Jauh di
kemudian hari pada waktu saya tinggal di Depok di jalan Margonda ada penjual pisang gapet.
Saya sudah merasa akan menemukan pengalaman mengenang rekreasi di hutan daerah Stagen –
ternyata pisang gapet yang dijual di jalan Margonda rasanya mengecewakan. Bukan pisang
kapok yang menjadi bahannya. Tetapi pisang uli yang dibakar dan diberi taburan maesis dan
keju. Kenangan makan pisang gepet di Kotabaru tidak dapat digantikan dengan pengalaman
makan pisang gapet di pinggir jalan raya Margonda.


Pada saat sela di tengah rekreasi bersama umat itu kami juga bermain-main menyusuri aliran
sungai kecil dangkal berbatu-batu dan jernih. Cukup banyak ikan sili, udang dan keong kali yang
ada di dalamnya. Ini mengingatkan saya akan masa kecil di desa saya. Tiba-tiba terdengar suara
letusan senapan. Saya kira pak Sukino seorang anggota polisi dari salah satu keluarga umat
Katolik yang mengikuti rombongan rekreasi ini menembak babi hutan. Ternyata hanya peluru
perconbaan saja. Saat menjelang Kembali ke kota salah beberapa anak muda yang tadi ikut jalan
menyusuri sungai kecil dan jernih di dalam sepatunya dimasuki beberapa ekor pacet yang sudah
menjadi gendut. Pacet itu ditetesi air tembakau yang diramu dari sebatang rokok sehingga pacet
yang menyusup tampa izin kepada pemilik sepatu itu lepas dari kulit pemilik sepatunya. Di
daerah saya tidak ada pacet. Yang ada binatang lintah yang hidup di tengah hamparan sawah
yang sedang disiapkan untuk ditanami padi. Lintah dan pacet mungkin jenis binatang yang mirip
sama. Sama-sama penghisap darah. Hanya habitatnya berbeda. Lintah ada di air. Pacet ada di
gerumbul demak-semak di hutan. Menempel pada daun atau ranting-ranting. Bukan berendam di
dalam air seperti lintah. Pacet berwarna hitam gelap. Lintah berwarna putih seperti larva lebah
yang membuat sarang di genteng rumah.


Sarang Tiung.
Gembira sekali saya saat mencoba membuka ulang pengalaman masa lalu di Sarang Tiung ini.
Saat saya menjalani TOP di Kotabaru, Jika dihitung ternyata sudah 35 tahun yang lalu. Sarang
Tiung yang jaraknya sekitar 11-12 Km dari kota berputar ke arah lurus ke atas dan berbelok
sedikit ke kanan di atas bukit kemudian turun melandai. Di situlah pantai Sarang Tiung terletak.
Dataran pasir yang panjang, landai dan luas sudah menjadi tempat wisata sejak dahulu. Wisata
sederhana masyarakat di Kotabaru bersama keluarga untuk menghibur diri. Ada juga masyarakat
dari daratan Kalimantan yang datang untuk berekreasi. Ada angkot yang dapat mengantar ke
sana dengan harga terjangkau dari Kotabaru ke Sarang Tiung PP.


Garis pantai yang landai – panjang dan luas berpasir ini di tepinya banyak pohon waru, ketapang
dan pohon kelapa yang menjadi peneduh bagi pengunjung. Penjual makanan kecil, es kelapa,
gula merah, dll tersebar di tempat-tempat yang teduh di bawah pohon. Ada beberapa tempat bilas
untuk pengunjung yang sudah selesai mandi atau bermain di laut. Latar belakang ke arah barat
adalah perbukitan Gunung Bamega yang terkenal di Kotabaru ini. Latar depan arah laut – laut
lepas Selat Makasar. Saat ini sudah semakin maju dibandingkan dahulu.
Yang ada ketika kami datang ke Sarang Tiung untuk berwisata adalah mandi di laut yang jernih
itu. Yang membuat berat badan kami tidak seimbang saat masuk di dalam air laut. Sulit diatur
tidak seperti mandi di kolam renang. Kami harus hati-hati jangan sampai menjauh dan terbawa ombak laut ke laut lepas Selat Makasar. Meskipun ombaknya tidak besar bergulung gulung
sepeprti di pantai Selatan Samodra Hindia. Juga diperingatkan harus hati-hati jangan sampai
menginjak “bulu babi” – yaitu hewan laut berduri yang berbentuk bulat seperti bola, sering
disebut juga landak laut. Bentuknya bulat simetris dan seluruh permukaannya ditutupi oleh duri
panjang yang bisa tajam dan beracun, digunakan untuk pertahanan dan membantu bergerak.
Hewan ini termasuk dalam filum Echinodermata, kerabat bintang laut dan teripang, dan dapat
ditemukan di berbagai kedalaman laut, mulai dari terumbu karang hingga padang lamun (
hamparan tumbuhan laut berbunga yang hidup di perairan dangkal, berfungsi sebagai habitat
yang kaya, penyerap karbon, penstabil substrat, dan penjernih air. Ekosistem ini penting karena
menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi berbagai biota laut, menahan gelombang dan
erosi, serta menyerap karbon dua kali lebih banyak dibandingkan hutan).  Saat itu belum dikelola
secara profesional sehingga belum ada pembatas sampai dimana pengunjung boleh menjauh dari
tepi pantai itu. Ada juga di kejauhan terlihat bagan atau bagang, bangunan anjungan penangkap
ikan yang terbuat dari bambu atau kayu di tengah laut yang dilengkapi jaring dan lampu
penerang pemikat ikan di malam hari.


Saya dan OMK Kotabaru pernah memuat acara di tempat ini pada saat seorang Suster yang
menangani Komisi Kepemudaan dari Keuskupan Banjarmasin yang datang ke Kotabaru. Kami
membuat acara rekoleksi di pantai ini dengan kemasan acara seperti acara pramuka. Banyak
permainan yang menyenangkan. Menyanyikan lagu di sini senang- di sana senang. Dimana-
mana hatiku senang. Cukup menggembirakan.


Meskipun pantai ini telah lama menjadi lokasi kunjungan masyarakat lokal, upaya
pengembangan profesional yang melibatkan pembangunan fasilitas pendukung mulai dilakukan
sekitar tahun 2017 dan 2019. Pemerintah Kabupaten Kotabaru dan Dinas Pariwisata Provinsi
Kalimantan Selatan mengalokasikan anggaran dan membenahi destinasi wisata di sana.
Pemkab Kotabaru dan Pemprov Kalsel merupakan inisiator utama dan penyedia dana untuk
pembangunan infrastruktur dasar dan fasilitas pendukung seperti bungalow, area parkir,
musholla, dan tempat bilas.


PT Arutmin Indonesia NPLCT (Perusahaan Tambang Batubara di Kalsel) turut serta dalam
program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan mendukung pengembangan Desa Sarang
Tiung sebagai desa wisata.
Masyarakat Lokal/Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) didorong dan dilibatkan secara aktif
dalam pengelolaan harian dan pengembangan ekowisata, seperti pengelolaan Bukit Mamake
yang berada di areal desa Sarang Tiung, untuk meningkatkan kemandirian ekonomi lokal. 
Saat ini perkembangan tempat wisata ini menjadi lebih luar biasa. Pemerintah Daerah Kabupaten
Kotabaru bekerja sama dengan Perusahaan Swasta mengembangkan destinasi wisata yang
dahulu masih sangat sederhana itu menjadi aneka macam Flyer menu destinasi wisata seperti:
Rekomendasi kunjungan Desa Wisata :
 Bukit Mamake :  Family Camping, Menikmati Pemandangan Laut dari bukit Mamake,
Sunrise/Sunset/Fullmoon  View

 Bukit Bapake : Professional /Private Camping, Aero sport Tourism (Tandem Paralayang
 diatas gunung sebatung / Gunung Bamega dan landing di laut),
 Kampung Nelayan : Donor Terumbu Karang, Sea Tour & Bermalam di Bagang, paddling,
snorkeling, fun diving, Diving di Kompartemen Tongkang tenggelam, Pembuatan Sasirangan
Biota Laut & Kuliner. 
Jika saya melihat perkembangan pengelolaan pantai Sarang Tiung pada Google Search, banyak
sekali hal-hal yang ditawarkan di sana sebagai destinasi wisata. Apa yang saya tampilkan dalam
catatan flyer di atas hanya sebagian saja. Saya ikut gembira karena dengan tayangan informasi
itu saya dapat membayangkan semakin sejahteranya masyarakat di sana. Desa Sarang Tiung dan
Gedambaan.


Evaluasi TOP ke Muara Teweh
Evaluasi TOP tanpa Pembimbing, kami sepakati di Muara Teweh, tempat Fr. Didik Hardiarso
menjalankan TOP nya. Saya datang dari Kotabaru singgah dulu di Seminari Senakel di Jl.
Veteran Banjarmasin tempat Fr. Untung Aribowo menjalankan TOP- nya. Dari Veteran kami
berdua jalan ke terminal antar kota di Pal 6 Landasan Ulin. Dengan kendaraan umum yang pada
waktu itu di sebut Colt kami lanjut dengan perjalanan darat melewati Kota Banjarbaru ( Kab.
Banjar) – Kandangan (Kab. Hulu Sungai Selatan) – Barabai ( Kab. Hulu Sungai Tengah) – Ratau
( Kab. Tapin) – Amuntai ( Kab. Hulu Sungai Utara) – Tamiyang Layang ( Kab. Barito Timur) –
Ampah ( Kab. Barito Selatan) sampai di Butok dengan jarak tempuh waktu 7-8 jam kemudian.
Dari Terminal Pal 6 Landasan Ulin pukul 11.00 sampai di Pastoran Buntok pukul 18.00 sore hari
yang sama. Kami bermalam di Buntok tempat Fr. Roni menlalankan TOP -nya dan kemudian
kami bertiga naik bus air dari dermaga di dekat pastoran Buntok dan perjalanan lanjutannya
melalui jalan air – menyusuri sungai Barito dengan Bus Air (Kapal Mesin). Perjalanan ini karena
bergerak ke arah hulu sehingga melawan arus dan memerlukan waktu lebih lama. Dari pagi hari
itu kami baru sampai menjelang fajar di Muara Teweh keesokan harinya.


Bus air kadang-kadang berhenti untuk menurunkan dan menaikan penumpang dan barang di
dermaga tepi aliran sungai Barito. Di waktu siang saat matahari sudah tidak panas kadang kami
penumpangnya agar tidak merasa bosan naik ke atas atap kapal dan duduk di atasnya menikmati
pemandangan sisi kanan dan kiri perjalanan yang kebanyakan juga masih berupa hutan. Di sana-
sini ketemu kampung di tepi aliran sungai. Kadang-kadang juga melihat aktifitas penduduk tepi
sungai sedang mencuci pakaian atau mandi. Saya sudah lupa kampung-kampung di tepi sungai
Barito yang disinggahi oleh Kapal yang kami tumpangi. Salah satu dari dermaga kampung yang
saya ingat adalah daerah Pendang. Kabupaten Barito Tengah, yang masih bagian pelayanan dari
Paroki Buntok. Tidak jauh dari tempat itu Ketika perjalanan Kembali dari Muara Teweh ke
Banjarmasin ada belokan dari Sungai Barito yang membuat perjalanan makin jauh, karena
bentuk belokan itu hampir menyerupai hurup U atau bahkan huruf O yang dimiringkan. Kedua
belokan yang memperpanjang perjalanan itu terletak antara Pendang dan Penda Asam.
Sampai di Muara Teweh kami tinggal berlima saja. Karena Rm. Dwijo Isworo pastor Kepala
Paroki sedang melakukan perjalanan ke Yogyakarta ikut menghadiri Kunjungan Paus Yohanes
Paulus II yang mengadakan Misa besar di Bandara Adisucipto. Tanggal 10 Oktober 1989.

Banyak Romo dan umat termasuk Rm. Marto Setyoko juga ikut rombongan besar umat Katolik
dari Keuskupan Banjarmasin yang hadir di Yogayakarta. Kepada kami Romo Dwijo memberikan
hadiah seekor babi untuk disembelih. Kami dikomandani oleh Fr. Roni dan Fr. Untung
mengeksekusi babi yang malang itu dengan cara kepalanya dibungkus dengan karung beras
kemudian dimasukkan di dalam air sampai tidak apat bernafas lagi. Sesudah babinya mati bulu-
bulunya dibersihkan dengan air panas. Daging B2 yang cukup banyak untuk kami berlima saja –
oleh Fr. Didik sebagai tuan rumah potongan daging B2 itu dibagikan ke Susteran SFD. Daging
yang tersedia tidak habis kami makan setiap hari selama hampir 4 hari kami bertemu. Saat
Suster-suster mengirimkan juga daging yang sama yang mereka masak, rasanya menjadi
berbeda. Lebih enak. Maklum dari awal yang memasak dan makan hanya kami para pria terpilih
ini yang memasaknya sendiri. Selama di Muara Teweh pekerjaan rutin Frater Didik Hardiarso
tetap berjalan seperti biasa. Misalnya harus memimpin Ibadat di seberang sungai Barito juga
tetap dijalankan, pada kesempatan itu saya mengikuti perjalanannya. Kami naik ketinting yang
didayung oleh pendayung dari penduduk asli Teweh tanpa mesin. Saya lupa nama lingkungan/
wilayah yang dikunjungi itu.


Setelah selesai kami bertemu, Fr. Kristianto mengajak saya untuk ke Purukcahu lebih dahulu,
karena pasti para Romo – romo MSF di Paroki: Rm. Bambang Sumartejo, Rm. Dwijo Isworo
dan Rm. Marto Setyoko yang melakukan perjalanan ke Yogyakarta belum kembali. Tetapi saya
memilih langsung kembali ke Banjarmasin saja bersama dengan Fr. Untung Aribowo. Perjalanan
kembali ke Banjarmasin dapat ditempuh lebih cepat dibanding waktu keberangkatan dari
Bajarmasin ke Muara Teweh. Kami tidak singgah lagi di Buntok. Tetapi kami terus melanjutkan
perjalanan sampai Banjarmasin dengan bus (kapal) air itu. Saat kembali saya ingat melewati satu
kawasan yang bernama Marabahan. Sekitar 48 Km dari Banjarmasin. Saat kami turun di
Banjarmasin, saya langsung kembali ke Kotabaru dengan mencari kendaraan taxy dari terminal
Landasan Ulin sedangkan Fr. Untung kembali ke seminari Senakel di Jl. Veteran Banjarmasin.
Pengalaman naik bus air menyusuri sungai Barito yang ternyata panjangnya mencapai 900 km
jika di hitung mulai dari hulu di Kabupaten Murung Raya tempat Frater Yosep Kristianto
menjalani TOP di Puruk Cahu sampai dengan di hilir di Banjarmasin. Saya hanya mengikuti alur
sepotong saja dari Buntok – Muara Teweh, Muara Teweh-Banjarmasin saja memerlukan waktu
perjalanan lebih dari satu hari. Hitungan jarak perjalanan melalui jalur air bukan dihitung
berdasar jarak Km tetapi hitungannya adalah jam atau hari.


Sepanjang perjalanan di atas bus air itu segala sesuatu dikerjakan di atas kapal. Makan juga
dilayani di kapal ini. Sempat makan dengan menu daging bidawang (kura-kura). Jadinya bukan
hanya adagium Kura-kura dalam perahu – pura-pura tidak tahu. Tetapi betul-betul kura-kura
dalam perahu yang sudah menjadi santapan yang dihidangkan untuk makan.
Dalam perjalanan pulang ke Kotabaru satu taxy dengan Kepala Kantor Departemen Agama dari
Barabai. Dia akan mengadakan pertemuan antara Kepala Kantor Departemen Agama yang
bertempat di Kotabaru. Kami ngobrol selama perjalanan yang panjang itu. Karena saya
memegang buku Brevir dia mengira saya seorang pendeta yang memegang Kitab Suci dan saya
menjelaskan bahwa saya adalah mahasiswa Sanata Darma yang sedang menjalankan KKN di
Kotabaru. Dia merasa heran kenapa KKN sampai 1 tahun lebih? Dia menceritakan bahwa dia senang tinggal di Yogya – pengalamannya sebagai mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga di
Yogyakarta memberikan pengalaman yang indah dalam hidupnya. Kota Yogya yang ramah dan
ramai – makanan yang murah dan cocok juga dengan seleranya. Dia tahu juga dimana Seminari
Tinggi di Kentungan terletak. Saya juga menceritakan bahwa banyak mahasiswa dan mahasiswi
dari IAIN yang kadang pergi berkunjung ke perpustakaan yang ada di kampus Seminari Tinggi
santo Paulus di Kentungan atau di Kolsani Kotabaru. Kami berpisah saat tiba di Batulicin.
Mungkin dia mampir sebentar di tempat Batulicin dan menunggu temannya dari Kabupaten lain
yang akan menyeberang bersama-sama dari Batulicin ke Kotabaru.


Perjalanan Ke Banjarmasin
Kunjungan Kembali ke Banjarmasin selama menjalani TOP di Kotabaru seingat saya tidak hanya
sekali saja. Selain dalam rangka acara melakukan evaluasi TOP ke Muara Teweh juga beberapa
kali untuk berbagai keperluan. Diantaranya yang saya ingat adalah saat mengikuti Rapat Karya
di Wisma Sikhar di Banjarbaru.
Rapat Karya: Dalam rangka ini, dihadirkan juga pembimbing rekoleksi Romo AJ.
Wignyopranoto CM dari Keuskupan Malang. Beliau Romo dari Konggregasi CM dan seorang
dosen di Widya Sasana Malang. Sebelum bergabung dengan CM pernah juga menjadi anggota
Ordo Kontemplatif OCSO dan juga anggota Serikat Yesus. Semua rohaniwan-rohaniwati yang
berkarya di Keuskupan Banjarmasin di kumpulkan di Wisma Sikhar Banjarbaru. Yang masih
saya ingat Romo-romo yang berkarya di Keuskupan Banjarmasin selain dari Konggregasi MSF
juga ada dari Konggregasi SVD. Yang berkarya di Paroki Pangkoh Kalimantan Tengah.
Konggregasi CM menyusul di kemudian menjelang saya selesai menjalani TOP. Konggregasi
CM yang berkarya di Keuskupan Banjarmasin pertama kali di tempatkan di paroki Pelaihari
yaitu Rm. Karyono CM. Konggregasi Suster yang hadir adalah Suster-suster dari PI, SPM. SFD,
dan SPC. Imam Diosesan dari Keuskupan Banjarmasin sendiri seingat saya belum ada. Pernah
ada calon imam dari Keuskupan Banjarmasin yang TOP di Pulau Laut sebelum saya, kemudian
pindah TOP di Ampah yaitu Fr. Nuce, tetapi yang bersangkutan mengundurkan diri dari calon
Diosesan dan ingin bergabung dengan Konggregasi MSF tetapi akhirnya batal juga. Akhirnya
Frater ini juga tidak menjadi imam diosesan maupun MSF. Mungkin studinya di Widya Sasana
Malang sudah selesai.


Bapak Uskup Mgr. Projosuto MSF hadir penuh sepanjang rapat karya ini. Pada kesempatan itu
Bapak Uskup menyampaikan harapan dan kerinduannya akan adanya satu Ordo Kontemplatif
yang berkarya khusus untuk mendoakan Gereja di Keuskupan Banjarmasin. Kehadiran Ordo itu
kelak kemudian hari akan terpenuhi.
Romo Pembimbing Retret dalam Rapat Karya menyampaikan gagasannya – sekiranya Gereja
saat ini kondisinya seperti Gereja perdana dalam penganiayaan dahulu bisa jadi kualitas iman
umat Katolik akan menjadi lebih baik. Akan banyak sekali santo-santa yang muncul dalam
kondisi gereja seperti itu. Saat ini Gereja kurang banyak tantangan imannya.
Saya sendiri merasakan sebenarnya tantangan Gereja di Kalimantan ini sudah cukup berat.
Selain berat dari sisi medan geografisnya, dan juga pemahaman iman umat yang masih sangat
sederhana, juga kondisi perekonomian umat di daerah-daerah yang kami ikut melayani menjadi tidak mudah. Masih banyak yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dana
untuk melaksanakan tugas pastoral Sebagian besar masih diperoleh dari bantuan Prokurator Misi
dari Vatikan atau dari Belanda. Menjadi semakin sulit sejak Pemerintah melarang penerimaan
bantuan misi dari luar negeri. Biaya perjalanan untuk melakukan tugas pastoral ke stasi-stasi
yang medan geografisnya sulit – tidak dapat mengandalkan pendapatan dari Gereja lokal. Suku
Banjar yang merupakan penduduk asli daerah ini – tertutup untuk karya misi. Sebab itu juga
daerah ini mendapat julukan serambi Mekah di Indonesia selain di Aceh Nanggroe Darusalam.
Pada kesempatan ini juga setelah selesai acara retret/ rekoleksi yang membungkus Rapat Karya
di Keuskupan Banjarmasin, peserta diajak berekreasi ke bendungan/danau Riam Kanan yang
berada di Wilayah Banjarbaru – Martapura tidak jauh dari tempat ini. Sayangnya kami tidak
mendapat kesempatan untuk naik kapal motor sekedar mengelilingi danau itu. Hanya sebentar
berada dan melihat-lihat tempat rekreasi yang belum terlalu ramai dengan pengunjung pada saat
itu.


Kehadiran Ordo Kontemplatif yang dirindukan Mgr. Projosuto itu betul-betul terwujud di
Tangkiling – Kalimantan Tengah wilayah Palangkaraya. Ordo Karmel ini dimulai di tangal 23
Juni tahun 1993. Biara kontemplatif yang didirikan diberi nama Biara Santo Yosep. Akhirnya
menjadi bagian dari Keuskupan Palangkaraya setelah Keuskupan Banjarmasin pecah menjadi
dua Keuskupan. Sama ceritanya dengan Paroki Kotabaru yang wilayahnya menyusut dan
mengembangkan karya misi di pulau-pulau sekitar Pulau Laut dan penuh perjuangan karena
perjalanan pastoral harus ditempuh melalui perairan laut. Di Banjarmasin pasca Keuskupan
Palangkaraya berdiri luas wilayahnya berkurang sangat banyak. Tinggal 9 Paroki saja. Namun
sekarang sudah berkembang kembali menjadi lebih banyak lagi.


Kesempatan lain berkunjung ke Banjarmasin selama masa TOP di Kotabaru, saat saya dan
teman-teman: Fr. Untung, Fr. Didik, dan Frater Kristianto diminta membantu perhelatan Kapitel
Konggregasi MSF Provinsi Kalimantan. Dalam Kapitel ini terpilih Rm. Herman Stalhacke MSF
sebagai Provinsial baru menggantikan rm. Cokro Atmojo MSF. Provinsialat MSF di Banjarbaru
belum berdiri pada saat itu. Kapitel dilaksanakan di tempat yang sama yaitu di Wisma Sikhar.
Rm. Florentinus Sului Hajang Hau yang juga menjadi kandidat Provinsial MSF Kalimantan pada
saat itu – di kemudian hari diangkat menjadi Uskup Keuskupan Agung Samarinda menggantikan
Mgr. Michael Cornelis Cooman MSF, sedangkan Rm. Huvang Hurang MSF menjadi Provinsial
pada periode sesudahnya.


Setiap ada kesempatan ke Banjarbaru saya menerima Sakramen Pengakuan dari Bapak Uskup
Emeritus Mgr. Demarteuw MSF yang tinggal di Wisma Pastoran Paroki Banjarbaru. Di tempat
ini juga tinggal Br. Probo MSF yang pita suaranya sudah terganggu sehingga suaranya tidak
dapat terdengar. Jika berkomunikasi harus dibantu dengan bahasa isyarat.
Suatu saat saya harus melakukan perjalanan seorang diri dari Kotabaru ke Banjarmasin. Entah
dalam rangka apa saya tidak ingat lagi. Saat itu perjalanan saya mengendarai motor CG 110 yang
menjadi kendaraan tugas saya. Dari Kotabaru pukul 08.00. Sampai di Batulicin karena
menggunakan kapal klotok Jam 11.00 siang dan lanjut perjalanan darat melalui Pagatan –
Sebamban – Satui- Sungai Danau dan sampai di Pelaihari sudah pukul 23.00 malam. Saya singgah untuk ikut bermalam di Susteran SPM Pelaihari. Di komunitas ini Suster-suster SPM
mengelola asrama anak-anak yang berasal dari daerah Transmigrasi yang bersekolah di Kota
Pelaihari. Sr. Petra SPM suster Senior ternyata adalah seorang kakak dari Bapak Oenarto Mulyo
Pratomo (Mantan Frater CM) yang menduduki jabatan sebagai Kepala Kantor Wilayah
Kementerian Agama di Provinsi Timor Timur. Tentang Bapak Oenarto setelah nanti di kemudian
hari saya menjadi PNS di Bimas Katolik saya sempat bertemu beliau dan cerita Suster Petra
tersambung dengan kisah Bapak Oenarto yang pada saat saya bekerja di Bimas Katolik sudah
menjadi Pembimas Katolik di Provinsi DKI. Apa yang saya dengan dari Suster Petra SPM
tentang Bapak Oenarto adiknya itu jadi terklarifikasi langsung dengan yang bersangkutan.
Dari Pelaihari ke Banjarmasin masih tersisa jarak tempuh 68.9 Km. Perlu waktu tempuh 1. 5
sampai 2 jam. Dari sini ke Banjarmasin saya bisa melewati Bati-Bati atau melewati Cempaka
yang nanti akan tembus ke kota Banjarbaru. Melewati Kampus Universitas Lambung Mangkurat
yang ada di Kota Banjarbaru. Karena jaraknya tidak terlalu jauh saya agak santai – sehingga di
pagi hari masih dapat mengikuti ibadat pagi – makan pagi di Susteran dan kemudian berangkat
ke Banjarmasin menuju seminari Senakel di Jl. Veteran atau di Katedral Banjarmasin di Jl.
Lambungmangkurat.


Saya juga lupa konteksnya, saya pernah dalam perjalanan kembali ke Kotabaru singgah lagi
untuk bermalam di Susteran SPM Pelaihari. Karena waktu sampainya masih sore hari sekitar
pukul 19.00 – masih ada kesempatan bagi saya untuk melihat Pasar Malam di Kota Pelaihari
dengan seorang Suster dan anak-anak asrama di suatu lapangan Kabupaten. Mungkin waktu itu
perjalanan dari Banjarmasin menuju Kotabaru sudah sore hari waktunya. Hari berikutnya
melanjutkan perjalanan Kembali ke Kotabaru dan saat sampai di daerah Sebamban saya bertemu
dengan umat dari Blok F di jalan yang dilewati tetapi saya sengaja tidak singgah dahulu ke
rumahnya yang tidak jauh dari tempat kami bertemu. Saya terus berlanjut jalan saja agar segera
tiba di Batulicin dan kemudian nyeberang ke Kotabaru. Perjalaann itu masih membutuhkan
waktu sekitar 3- 3.5 jam lagi. Kota tempat saya tinggal dan berkarya ini seolah-olah sudah
menjadi rumah sendiri. I am at home.


Berkeliling Sepertiga dari Wilayah Pulau Laut
Dua bulan sebelum saya menyelesaikan tugas Tahun Orientasi Pastoral, dengan sengaja saya
memohon izin Rm. Marto Setyoko untuk melakukan perjalanan entah separuh atau sepertiga saja
dari wilayah Pulau ini – dengan perjalanan darat dengan motor yang selalu saya gunakan untuk
melaksanakan tugas pastoral mengelilingi Pulau Laut ini. Berawal dari sisi kanan pulau menuju
ke Stagen dan akhirnya memutar balik kembali ke Kotabaru munsul dari sisi kiri. Tembus
melewati Pantai Sarang Tiung. Saya ditemani pak Feris salah satu Guru SD Santa Maria
Kotabaru.


Dari Kotabaru menuju Stagen. Perjalanan masih melalui jalur jalan beraspal. Tetapi setelah
melewati Stagen. Jalur jalan yang ada adalah jalur jalan makadam. Tidak diaspal tetapi berbatu-
batu. Yang untuk dapat menjaga keseimbangan harus memilih jalur yang cukup rata dan baik –
tidak terpental-pental. Tampaknya jalur ini kadang-kadang masih dilewati truk yang memuat
hasil panen kelapa sawit dari pedalaman pulau ini. Jarang sekali kendaraan truk pengangkut sawit itu lewat. Setelah sekian lamanya kami berbelok ke kiri untuk berputar ke arah tepi pulau
laut dari sebelah kiri. Namun di Tengah-tengah perjalanan ini kami harus melalui perkebunan
kelapa sawit yang sangat luas. Jalur jalannya lurus tetapi tanah liat yang dilalui sangat lengket.
Sehingga kami berdua harus bergantian memegang bilah bambu yang didapatkan di jalanan
untuk membersihkan ban sepeda motor yang dimasuki lumpur tanah liat yang lengket. Di
Tengah perkebunan sawit ini kami sempat kehilangan oreintasi dan membuat panik. Masalahnya
setelah berjalan lurus berharap bertemu jalan tembus dapat keluar ke perkampungan yang
ditemukan ujung dari jalan itu adalah hutan lebat. Kembalilagi lurus dan memilih jalan yang lain
lagi – ternyata diujungnya bertemu dengan hutan lebat lagi. Begitu berulang-ulang. Kami sangat
kuatir karena hari sudah menjelang jam 15.00 sore. Jika kami tidak bisa keluar dari kebun kelapa
sawit ini bagaimana Nasib kami nanti? Pasti situasi gelap. Takut dengan kedatangan binatang
buas dan ular besar yang biasanya bersarang dan banyak ditemukan di perkebunan kelapa sawit.
Saat kami hampir putus asa – kami dapatkan ide – untuk dapat keluar dari hutan ini kami perlu
mengikuti jalur bekas roda truk yang lewat memuat hasil panen kelapa sawit. Meskipun kami
tidak melihat truk yang mengangkut sawit – bekas tapak roda itu masih tampak jelas di jalan
berlumpur tanah liat itu. Puji Tuhan akhirnya kami sampai di kampung Berangas. Di tempat itu
kami berhenti di satu pos ronda kampung untuk ngobrol dengan penduduk. Dia bercerita pada
masa lalunya dulu. Sebelum tinggal di daerah terpencil itu dia menjadi bagian dari perjuangan
Kahar Muzakar yang ada di daerah Sulawesi. Kami mendengarkan bagaimana perjuangannya
sehingga kemudian menetap di tempat itu. Tempat yang rasanya jauh terpencil. Perkebunan
sawit yang tadi kami lewati mengingatkan saya pada seorang muda yang malang yang katanya
berasal dari Muntilan dan meminta bantuan pada Rm. Marto karena kondisi sakit malaria dan
merana di perkebunan sawit yang kami lewati tadi. Entah bagaimana perjuangannya dalam
kondisi sakit dan akhirnya dapat sampai di Kotabaru. Saat Kembali ke Jawa kemungkinan dia
naik kapal pengangkut kayu dari Pelabuhan Kotabaru menuju Semarang. Tidak dapat saya
bayangkan perjuangannya untuk sampai di rumahnya di Muntilan dalam kondisi gagal – tidak
membawa hasil apapun dari tanah perantauan. Entah sudah berapa lamanya dia menjadi perantau
pekerja di perkebunan kelapa sawit di pulau laut ini.


Perjalanan selanjutnya menuju ke Kotabaru dari Berangas itu terus melalui sisi kanan dari
pinggiran pulau ini dan meskipun melewati jalan makadam kondisinya lebih baik daripada
melalui jalan perkebunan kelapa sawit yang penuh dengan perjuangan. Kesasar dan setiap kali
harus jatuh bangun dan berhenti untuk membersihkan tanah lumpur dari ban dan spakbor motor
dari tanah lengket yang membuat roda tidak bisa lagi bergerak. Dibayangi rasa kuatir dan hampir
putus asa. Setelah kami buka kembali tenyata kami hanya menjelajahi 1/3 dari wilayah pulau ini.
Tetapi itu sudah membutuhkan waktu sehari. Dari pagi dan kami kembali sampai di Kotabaru
lagi sore hari menjelang magrib.


Mendekati pantai Sarang Tiung setelah kampung Gadambaan – di sisi kiri bukit Gunung Bamega
yang berupa tebing dan hutan kami bertemu dengan monyet besar berwarna hitam berekor
panjang. Tetapi tampaknya dia takut dengan manusia sehingga Ketika kami lewat dia segera
melarikan diri ke dalam hutan sambil bersuara keras – mungkin memberitahukan kepada
kawanannnya bahwa ada manusia yang lewat di jalur jalan daerah kekuasaannya. Di sisi kanan
kami pantai sehingga cukup indah dipandang di sore hari yang panas matahari sudah redup dan dibayangi oleh bukit-bukit– udara menjadi sejuk. Mendekati tempat yang landai dan berpasir
kami melihat biawak yang besar sekali sedang berbaring di pasir putih pantai menjelang Sarang
Tiung. Begitupun binantang ini setelah mengetahui kami akan lewat mendekati tempatnya
berbaring walaupun tidak terlalu dekat. Dia juga segera melarikan diri masuk ke dalam laut.
Bagaimana jika dia berada di tempat rekreasi Sarang Tiung yang banyak pengunjungnya? Pasti
pengunjung akan merasa ngeri dan takut karena biawak itu besarnya seperti buaya yang sudah
dewasa. Bisa juga menggigit manusia. Atau seperti pengalaman di pedalaman Kalimantan –
dimana penduduk tidak takut ular? Jangan-jangan biawak ini juga bisa menjadi santapan manusia
dan diburu sampai di dapat. Karena saya pernah melihat dan ditawari oleh para guru-guru SD
Santa maria. Saat rumah kontrakan mereka di kolongnya dimasuki biawak (memang tidak
sebesar yang kami jumpai di pantai sebelum Sarang Tiung itu). Biawak itu dibunuh – dikuliti dan
dimasak menjadi makanan mereka. Konon rasanya enak seperti daging ayam. Saat saya melihat
setelah dikuliti dagingnya memang berwarna putih seperti daging ayam. Tetapi baunya anyir –
sebelum dimasak jadi makanan yang lezat. Saat sampai di rumah pastoran Rm. Marto agak kecewa karena kaca helmnya yang saya pinjam pecah saat saya jatuh dalam perjalanan di perkebunan kelapa sawit itu. Namun bagaimanapun juga saya menemukan pribadi seorang ayah pada Rm. Marto Setyoko
MSF. Sikapnya terhadap saya seperti sikap ayah saya sendiri. Kalau memberikan uang saku
untuk perjalanan tidak pernah kurang. Tidak menunda-nunda waktunya. Bahkan saat datang Rm.
Darmo sebagai penggantinya, dia menawarkan kepada saya uang untuk membeli jam tangan jika
saya membutuhkan. Tetapi saya menolaknya dengan halus karena saya merasa jam tangan yang
sudah saya pakai sejak saya kelas II SMP saat itu masih dapat dipergunakan. Selanjutnya Rm.
Marto menawarkan kepada saya untuk membeli topi seniman – topi pet. Yang depannya bisa
ditekan seperti cocor bebek dan belakangnya lebih tinggi bentuknya. Juga menunjukkan toko
yang mana dan berapa harga topi itu kalau saya mau. Topi ini saya beli karena Rm. Darmo
Kusumo dan Rm. Marto sudah membelinya dengan bentuk dan warna yang sama. Warna hitam.
Saya juga membeli itu untuk kenangan sebelum Rm.Marto meninggalkan kami pindah ke Paroki
Sampit di Kalimantan Tengah. Romo suka merokok Bentul Biru. Suster-suster SPM hafal
dengan apa yang Romo Marto sukai. Jika kami selesai makan malam di Susteran SPM kedua
kakinya diangkat dan ditumpangkan pada kursi kecil segi empat untuk sandarannya sambil
ngobrol dan nonton televisi bersama di Susteran sebelum kami pulang kembali ke pastoran. Jadi
suasana kami dalam Komunitas Susteran seperti suasana dalam keluarga.


Kepada saya diberikan kebebasan untuk merokok jenis apapun – sama seperti TOP tahun
pertama di Temanggung Rm. Tirto menawarkan kepada saya untuk memilih jenis rokok apa
yang ingin saya nikmati. Saya diberi kebebasan untuk memilih. Di Temanggung daerah
tembakau saya sudah memilih tidak merokok. Tetapi di Kotabaru ini karena jika menunggu
kapal klotok penumpangnya penuh membutuhkan waktu 1-2 jam, saya akhirnya merokok dengan
merk Gudang Garam Filter. Untuk membunuh waktu saat menunggu kapal penuh penumpang di
Pelabuhan. Tetapi jika di dalam kota bergabung di Komunitas keluarga Susteran, para Suster
melarang saya merokok, karena saya lebih muda dari mereka – mereka ingin supaya saya dengan
tidak merokok menjadi berumur panjang. Keberatan mereka jika saya berada di dalam kota dan saya tidak boleh merokok saya terima. Tetapi jika sedang dalam perjalanan turne saya tetap
membeli rokok Gudang Garam Filter itu. Waktu menunggu di Pelabuhan – perjalanan di kapal
klotok menyeberangi Selat Laut menuju Batulicin selalu memakan waktu hampir 3 jam yang
kadang membosankan. Tetapi jujur sepanjang waktu itu saya belum dapat merasakan nikmatnya
merokok. Jadi keberatan para Suster untuk saya merokok saya terima bukan karena terpaksa.
Saya senang dengan komunitas Suster-suster SPM, makanan yang mereka sajikan selalu enak-
enak. Mereka sering berkelakar: sudah bekerja keras dan tidak menikah, kenapa mesti berhemat-
hemat, hidup miskin dan sederhana, makan sederhana. Bukankah makan enak juga untuk
berkarya mengabdi Tuhan? Untuk Tuhan – badan harus tetap sehat. Hati selalu gembira.
Memangnya kalau menjadi biarawati harus hidup menderita dan prihatin? Menghayati hidup
dalam dukacita – kesedihan. Pandangan seperti ini membuat saya dapat menikmati makanan
yang disajikan. Makan bersama menjadi sesuatu yang menggembirakan. Bukan sekedar
kewajiban yang membuat tertekan.


Para Suster juga bercerita pengalaman penghayatan panggilan mereka yang penuh dengan suka-
duka di tempat ini. Pernah ada suster yang Speedboadnya terbalik dan semua barang yang
dibawanya hilang. Bertemu dengan ular Kendang yang bentuknya pendek dan berjalan dengan
melompat-lompat di tengah hutan. Saya sendiri pernah melihat limpasan ekor ikan besar saat
perjalanan pulang dari turne dari Pelabuhan Batulicin ke arah Kotabaru. Ekor ikan yang besar
yang melimpas itu saya lihat sudah mendekati dermaga Stagen. Besar ekornya sudah sebesar
sebuah kapal Speedboad. Lalu seberapa besar ikan yang baru memunculkan ekornya tadi itu?
Ada suster yang badung. Dalam perjalanan pastoral di Tengah perjalanan terhalang dengan hujan
lebat. Suster ke belet pipis tetapi tidak ada tempat untuk singgah dulu dan menuntaskan
kebutuhan biologisnya untuk buang air kecil. Pipisnya tetap dilakukan di atas jok sepeda motor
karena bajunya sudah kadung kepalang nasah oleh air hujan. Baru mengaku melakukan hal itu
saat teman Suster lain yang dibonceng dibelakangnya merasa ada sesuatu yang hangat yang
merembes pada dirinya. Ketika dikarifikasi oleh pemboncengnya dia mengaku bahwa dari dialah
air hangat yang dirasakan temannya itu berasal. Karena cerita tidak bertopik tertentu ceritanya
bisa susul menyusul tanpa sistematika. Salah satu Suster juga bercerita tentang masa lalunya
dahulu saat masih remaja. Dia sendiri sekarang ini bisa merasa heran bahwa perbuatan nakal
yang keterlaluan pada masa lalu itu bisa dia lakukan. Dia suka berkeliling di dalam pasar dengan
membawa jarum. Mengikuti anak kecil yang digendong ibunya dan membawa mainan balon.
Mainan balon itulah yang menhadi sasarannya. Dia sangat puas jika dapat menusuk balon yang
di bawa anak-anak itu meletus dan membuat terkejut anak dan ibunya. Dia sendiri bertanya
apakah yang melakukan kenakalan itu dirinya atau orang lain? Mengapa dia bisa melakukan hal
yang demikian dan bukan merasa iba kepada anak kecil yang berhasil dia ganggu itu –
sebaliknya malah merasa puas.


Dua bulan bersama dengan Rm. Darmo Kusumo, suasana menjadi berbeda. Saya merasa Rm.
Darmo Kusumo cukup kaku dan kurang perhatian. Jika saya hendak berangkat turne ke Stasi
tidak dengannya – sementara saya sudah siap. Uang jalan tidak segera diberikan. Pada hal
dipelabuhan kadang saya harus menunggu lama. Di rumah pastoran juga terpaksa menunggu
lama. Sepertinya dia tidak peka. Mau urusannya sendiri saja. Entah merokok yang menjadi

hobinya atau mengetik sesuatu dengan ketik manual yang saya tidak tahu sedang mengetik
tentang apa. Kalau hatinya sudah longgar uang jalan baru diberikan. Seringkali saya merasa
kesal juga. Mungkin kalau uang sudah diberikan sejak saya sudah siap. Kapal yang akan saya
tumpangi di Pelabuhan sudah berangkat menuju Batulicin. Tetapi saya merasa sungkan untuk
nagih uang jalan yang akan diberikan untuk saya. Suatu saat sudah saya ceritakan sebelumnya
kepada saya diberikan uang jalan yang terbatas Ketika akan perjalanan ke Karang Bintang.
Syukurlah umat memberikan uang tambahan 50 ribu uang APP yang dia simpan selama setahun
yang belum diberikan. Dari uang APP itu perjalanan saya pulang dari Karang Bintang dapat
terselamatkan saat motor Trail yang saya gunakan rusak di jalan sebelum sampai di kota
Batulicin. Penggunaan uang itu tetap saya laporkan dan sisanya saya serahkan kepada Romo
Darmo juga.
Oleh Keuskupan sejak Rm. Darmo ditugaskan di Kotabaru paroki diberi fasilitas mobil kijang
yang diparkir di jalan masuk menuju pelabuhan Batulicin. Rm. Darmo tidak pernah menggunakan sepeda motor sehingga motor Yamaha Trail yang dulu digunakan oleh Rm. Marto selama 2 bulan terakhir itu saya yang memakai. Tetapi semenjak Rm. Darmo bertugas di
Kotabaru saya juga tidak sering bertugas mandiri. Lebih sering bersama Rm. Darmo dengan
mengendarai mobil Kijang itu. Seingat saya dengannya selama 2 bulan itu saya ikut
perjalanannya ke Serongga, Ke Sebamban Blok D meresmikan kapel yang dihadiri Mgr.
Projosuto MSF dan banyak umat dari katedral Banjarmasin (Sudah saya ceritakan sebelumnya)
dan ke Sebamban Blok F bermalam di rumah umat yang bagus kualitas bangunannya berlantai
kayu ulin yang suaminya asal dari Flores dan istrinya asal dari Jawa.


Hal baik yang saya amati dari Rm. Darmo Kusumo MSF, dia tidak tergesa-gesa. Jika makan di
Susteran lauknya entah ikan atau daging selalu di suwir-suwir lebih dahulu, setelah semuanya
lengkap kemudian dia baru mulai makan. Dengan Romo darmo tampaknya para Suster juga tidak
sesantai disbanding dulu Ketika dengan Rm. Marto. Jika ke Stasi Sebamban dia juga tidak suka
tinggal di rumah pak Sajiran di Blok D, sejak itu tempat bermalam di umat berpindah dari satu
rumah ke rumah yang lain.


Saya pernah kena marah karena menggunakan cap paroki ketika sekolah tempat saya mengajar –
saat saya memberikan nilai akhir pendidikan agama – saya menggunakan cap paroki sebagai
bukti sah bahwa nilai itu berasal dari Gereja Paroki. Romo meminta saya membuat cap sendiri.
Saya tidak pernah mengikuti apa yang disarankan karena saat itu tugas saya di Kotabaru sudah
berakhir.


Jika Frater Roni memiliki Chemistry yang dekat dengan Rm. Darmo Kusumo waktu tugas di
Buntok sehingga urusan rumah tangga paroki dipercayakan kepada Frater Roni dibandingkan
dengan Pastor rekannya Rm. Atsui – rasanya saya tidak demikian. Beberapa kali saya tabrakan
dalam batin dengannya. Tetapi bukan karena hal ini perjalanan panggilan saya terhenti. Karena
Rm. Margo sudah hadir Visitasi dan melakukan wawancara dengan saya dan Rm. Marto Setyoko
di Kotabaru berbarengan dengan kehadirannya di bulan April 1990 itu. Saya waktu itu baru
bertemu dengannya belum bergaul dekat dengannya.


Perjalanan Kembali Ke Yogyakarta

Di hari terakhir sebelum kembali ke Yogyakarta dengan basa-basi Rm. Darmo menyerahkan
uang saku kepada saya untuk kembali ke Yogyakarta. Dengan catatan perjalanan naik taxy ke
Banjarmasin akan dipesankan dan dibayar oleh umat dari Stasi Pagatan. Karena sebelum
perjalanan menuju Banjarmasin saya harus mampir memberikan rekoleksi dan perpisahan
dengan umat di sana.


Uang honor yang diberikan oleh sekolah – selama satu semester dibayar satu kali – tidak saya
serahkan kepada Rm. Darmo, saya gunakan untuk menambah uang perjalanan Kembali ke
Yogyakarta. Tidak seperti di Temanggung dan Parakan dahulu. Honor mengajar dari SMA
Negeri IV dan SMP Remaja Parakan selalu saya serahkan kepada Rm. Anton sebagai Romo
Paroki. Kali ini saya libas saja. Nilainya tidak seberapa di bawah 100 K tetapi bermanfaat sekali
karena ternyata setelah sampai di Yogya hubungan saya dengan Konggregasi MSF di putus.
Perjalaann sampai di Banjarmasin menunggu Fr. Yosep Kristianto dari Puruk Cahu, Fr. Didik
dari Muara Teweh , Fr. Roni dari Buntok, Fr. Untung Aribowo dari Senakel Banjarmasin dan
Saya dari Kotabaru. Kami transit di Keuskupan Banjarmasin Jl. Lambung Mangkurat. Fr.
Sumartoro Pranjono MSF yang sedang menjalani Pastoral di Katedral Banjarmasin membantu
kami untuk menyiapkan tiket perjalanan Kembali ke Yogya.


Kami harus menunggu beberapa hari agar tiket mendapatkan harga potongan sebagai mahasiswa.
Tiket ke Yogya atau Semarang fullbooked. Kepada saya ditawarkan atau mau Kembali melalui
Jakarta? Kami tidak siap. Jangan sampai melalui Jakarta menjadi lebih ribet – meskipun kami
tahu di Jakarta ada Paroki MSF di Rawamangun.
Sementara waktu menunggu teman-teman mengajaki jalan dulu ke Balikpapan melalui jalan
darat. Tetapi saya tidak bersedia.
Dua hari kemudian kami mendapatkan tiket untuk penerbangan ke Bandara Adi Sucipto di
Yogyakarta dengan pesawat Bouraq (yang sekarang Armadanya sudah tidak ada lagi. Beberapa
tahun yang lalu saya masih bisa melihat banyak pesawat Bouraq rongsokan yang diparkir di
lapangan terbuka Bandara Juanda Surabaya). Dari Keuskupan Banjarmasin kami diantar dengan
mobil dan ada satu keluarga dari Paroki katedral yang ikut sampai di bandara yaitu Ibu Leny
Genial. Di rumahnya saya pernah menitipkan seorang asisten rumah tangga dari paroki
Sebamban Blok D saat peresmian kapel dahulu. Dan juga alm. Mas Mardyo yang tampaknya
sudah mengudurkan diri dari MSF- dan bekerja antara Banjarmasin dan Balikpapan ikut
mengantar sampai Bandara – dia tawarkan kepada mas Didik jika ingin bekerja sebagai
Marketing Komputer dapat menghubunginya yang sudah bekerja entah dengan perusahaan apa
dalam bidang pemasaran komputer itu. Setahun sebelumnya saat menjalani TOP Tahun I di
Temanggung – saya masih bertemu beliau sebagai pastor di paroki Atmodirono. Di ruang tunggu
Bandara Syamsudin Noor sebelum kami masuk di ruang untuk Boarding, kami masih sempat
ngobrol dan minum di kantin bandara.


Pesawat kepulangan ke Yogyakarta ini lebih bagus kondisinya dibandingkan pada waktu
keberangkatan dari Semarang. Perjalanan kembali dari Banjarmasin ke Yogyakarta juga lebih
indah rasanya – langit tidak hitam gelap pekat seperti waktu berangkat. Tetapi awan-awan putih
bergumpal-gumpal selalu berada di sisi pesawat dan menjadi indah seperti pohon fantasi yang mengiringi perjalanan kami dari Banjarmasin sampai di Yogya. Saat mendarat juga terminal
kedatagan di Yogyakarta tampak bersih kemilau dengan pandangan kaca sepanjang koridor yang
lebar dan jernih. Sampai di luar ruang tunggu sudah dijemput dengan Kijang 84 yang disetiri
oleh Fr. Fajar Muhammad yang kemudian akan menyusul menjadi Toper berikutnya. Saya
melihat di Skolastikat MSF ada kemajuan karena calon Frater Toper sudah diberi kesempatan
untuk menyetir kendaraan roda empat. Pasti akan bermanfaat jika nanti di paroki tersedia
kendaraan mobil. Kemampuan teknis seperti ini akan bermanfaat untuk karya pastoral. Hanya
saja di paroki kendaraan mobil masih terbatas. Romo lah yang punya kuasa untuk
penggunakannya, sehingga bisa terjadi persaingan yang tidak sehat dalam penggunaan fasilitas
milik Konggregasi atau Keuskupan dalam pemanfaatannya. Namun kemanjuan untuk
menyongsong zaman baru dimana kendaraan mobil tidak lagi menjadi barang mewah sudah
dimulai dengan memberikan kesempatan kepada orang muda yang akan terjun dalam karya ini.
Profisiat.

Gunadarma Karawaci, Ruang 246,
17 – 24 November 2025
Sunlake Hotel, Sunter, Jakarta Utara
23 November 2025
Srengseng Sawah jagakarsa, 24-25 November 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *