Perjuangan itu Berat
Serial. 7
MENJADI GURU BIASA SAJA
Tahun 1986 aku mengawali lagi kuliah dari semester 1 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kata orang ini jurusan ” elite”, ceweknya cantik- cantik! Umurku sudah 25 tahun, ada dua teman yang sebaya, satu jeblingan projo Semarang dan satunya lagi mantan pekerja kapal pesiar. Lumayan ada teman, ” Old student” . Pada hari pertama ada kejutan ternyata ada satu mahasiswa mantan siswa SMP sewaktu di Tanjung Enim. Semula dikira aku dosen, bukan teman sekelas.
Aku malu jika harus minta biaya orang tua, maka aku sambil kerja: mengajar honorer di SMP swasta, menjadi wartawan Bernas dan memberi les privat ke rumah- rumah, syukur pula aku mendapat beasiswa. Tentu keterbatasan waktu tidak bisa aku berhaha hihi seperti mahasiswa yang lain. Aku sering ngantuk dan tertidur sewaktu kuliah, namun aku biasa membaca materi sebelumnya, jadi kalau ditanya dosen tetap bisa menjawab.
Pada tahun kedua ( 1987) aku menikah dan setahun berikutnya punya anak pertama Kami tinggal bertiga di salah satu desa di Bantul. Sebuah perjuangan hidup yang lumayan berat, aku harus kuliah dan menanggung keluarga. Sementara aku melupakan kegiatan gereja, sekadar Misa Minggu ke mana aku mau. Fokus bagaimana bisa bertahan hidup dan secepatnya selesai kuliah. Memasuki semester 6 aku merasa berat sekali, terutama secara finansial, ada godaan untuk cuti kuliah dan sementara cari kerja. Pernah coba daftar jadi relawan pengungsi Vietnam di Pulau Galang, juga ikut kapal pesiar. Tapi semua aku urungkan, dengan pertimbangan jika aku cuti, kemungkinan gagal kuliah dan tidak jadi sarjana sangat besar. Tiba-tiba pertolongan datang ketika aku diperkenalkan dengan Pastur Provinsial SVD Jawa, dengan pembicaraan SVD mau memberi ikatan dinas berupa bantuan uang kuliah, dan biaya hidup 500 ribu per bulan. Tanpa pikir panjang aku terima, yang penting kuliah dan keluargaku bisa survive walaupun sebenarnya masa depanku sudah “diijon”. Inilah jalanku menuju panggilan sebagai guru lagi.
Tahun 1991 aku lulus sarjana, belum wisuda diminta berangkat ke Bali, mengajar SMA Swastiastu di kota Singaraja, Bali Utara. Aku memulai menjadi keluarga yang normal tidak seperti tahun- tahun sebelumnya, mahasiswa yang sudah berkeluarga. Dengan Vespa yang kami bawa dari Yogya, setiap pagi aku berangkat kerja dengan memboncengkan anakku yang berusia 3 tahun dan istri. Anak sekolah di Play Group dan ditunggui istri. Aku juga aktif dalam kegiatan gereja paroki. Tak berapa lama istri diterima kerja di hotel, lumayan secara finansial sangat membantu. Aku benar- benar menjalani rutinitas sebagai seorang guru SMA, mencoba menghayati dan mengamati teman- teman guru yang sudah lebih senior. Mereka hidup cukup dan bahagia, walaupun sederhana. Dengan pinjam uang Yayasan bisa beli sebidang tanah lalu membayar dengan mengangsur. Pelahan-lahan membangun rumah. Mereka juga bisa menyekolahkan anak, bahkan kuliah di Yogya. Kira-kira begitulah gambaran masa depanku. Karir guru paling mentok.menjadi Kepala Sekolah. Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganggu, ini sekolah Katolik tetapi kualitasnya rendah. Siswa pun dari kalangan menengah ke bawah sehingga secara finansial masih defisit dan disubsidi Yayasan.( jumlah siswa terus merosot dan akhirnya sekarang tutup). Aku guru SMA biasa saja, tidak istimewa, tidak ada prestasi yang spektakuler. Walaupun aku ikut aktif dalam pembinaan siswa, namun totalitasku tidak seperti 10 tahun silam sewaktu mengajar di SMP Tanjung Enim. Mungkin karena perhatianku juga untuk keluarga.
Pikiranku mulai goyah, apakah hidupku hanya begini terus? Bagaimana nanti kalau anak- anak besar? Aku melihat ada teman gereja yang seumuran, ia dosen dan baru selesai tugas belajar di Australia. Pulang selain menggondol gelar MA, juga bisa membangun rumah baru dari sisa beasiswanya. Hemm….

