Menanam Pohon, Memanen Air
Kemarin pagi, ada tetangga yang mencari sumber air. Dengan peralatan DIY, ia mencari kira-kira di mana sumber air itu cukup kuat terdeteksi. Benar adanya, kisaran 30 m2 di sekitaran rumah ada tiga titik cukup kuat. Pertama di tengah jalan depan rumah. Dua, di sumur halaman memang kedalaman dua meter air satu setengah meter, posisi musim biasa pas kemarau apnjang, air kisaran dua meter, kurang dikit. Satu lagi di antara dua rumah. Si alat memperlihatkan gerakan yang dianggap memperlihatkan sumber air sangat besar.
Di kampung memang banyak yang bisnis air. Ada yang model PDAM mandiri, menyalurkan dengan pipa dari rumah ke rumah. Sumur bor, ada pula yang memanfaatkan mata air alami, ada juga yang menjual dengan menggunakan truk tangki air, cukup marak.
Mirisnya adalah, tidak banyak yang menanam. Sering memotong malah, dengan alasan kotor, dan enggan menyapu. Pilihan lain adalah cenderung membeton tanah yang ada. Akibatnya air terus menuju ke tanah yang rendah, tidak tersimpan di bawah tanah. Mengapa harus menanam?
Air akan tersimpan oleh akar dan tanaman. Terutama tanaman keras dan bisa puluhan tahun. Di rumah banyak sumber mata air, karena memang penuh dengan tumbuhan, keras dan puluhan tahun. Di depan rumah ada tanaman usia 60-an tahun. Pohon kenitu, sawo hijau yang besar, tinggi, dan sangat rimbun. Pastinya menjadi penyimpan air yang sangat besar.
Menanam tanaman-tanaman langka, ada kepel, pala, kedondong, matoa, selain ada buah yang bisa dinikmati, bisa dibuat wine, pun memanen air pada saatnya nanti. Salah satu pohon penyimpan air adalah beringin. Keuntungannya adalah, jarang pembeli kayu keliling yang mau membeli kayu jenis ini. Pun mistisnya pohon ini, jadi jarang yang berani mengutik-utik. Gampang pula membiakkannya. Tinggal stek, potong, dan masukkan tanah hampir pasti tumbuh.
Risikonya memang sering menyapu, talang sering tersumbat, dan dahan yang patah bisa memecahkan genteng. Konsekuensi logis atas apa yang diperoleh.
Toh hal itu belum seberapa dengan banyaknya kenikmatan yang diperoleh, musim kemarau air tetap melimpah, ruangan sejuk di tempat lain padahal sangat panas. Oksigen yang melimpah ruah, tanpa harus membeli. Belum lagi buah yang bisa dinikmati, pas musimnya tentu saja.
Menghormati bumi, bukan mengeksploitasi. Merawat hingga bisa mendapatkan berkat.
Salam JMJ
Susy Haryawan


Mantab
nuwun
Saya tinggal di kota dan di rumah sudah tidak ada lagi pohon besar yang bisa jadi peneduh.
Hampir semua lahan sudah dicor semen, tapi saat kemarau sumur tidak pernah kering, masih ada air yang cukup padahal satu pun tidak ada pohon besar yang ditanam dekat sumur.
Usut-punya usut ternyata jarak sumur dengan sungai kecil tidak terlalu jauh, kisaran 35 meteran.
Puji Tuhan
Tidak perlu tanam pohon besar karena masih ada sungai yang rajin mengalir, bahkan di musim hujan air pun dikirim sampai menggenangi seluruh halaman depan rumah mas Susy. ✌🏻😀
nek banjir topping e akih…
jal dicek ada pesing2e gak? ha ha ha
salam JMJ