Krisis Logika

Krisis Logika


Pantas Negara ini Susah Maju


Beberapa hal yang berdasar kisah nyata ini sebagai bahan untuk melihat bagaimana cara berfikir yang sangat tidak logis. Pantas tersisih dari panggung kemajuan dunia.


Pertama, kurir mengantarkan pesanan konsumen dengan system pembayaran di tempat (COD), total bayarnya Rp.13.994,00. Ia menjawab pertanyaan pelanggan berapa harus bayar, Rp. 14.000,00 selisih enam rupiah. Pelanggan marah, merasa tagihannya dilebihkan. Sangat tidak logis, hanya sekecil itu, apalagi nominal uang di negeri ini tidak ada penggembalian itu, kecual tahun 70-80an. Hanya membaca dua digitnya, 13, pembulatan ke atas sangat tipis, jangan mau untung ke bawah. Pihak lain nombok.


Kedua, ibu-ibu membawa anaknya ke mini market. Anaknya memberantakin display dagangan. Si ibu boro-boro minta maaf malah menghardik karyawan di sana yang mengeluhkan nambah pekerjaan. Malah makin nyolot ke karyawan, bahwa kerja memang capek. Bu, Ibu, capek kerja itu bukan untuk membenahi perilaku nakal anakmu. Bedakan kerjaan karyawan mini market bukan baby siter si ibu yang sok kritis.


Ketiga, komentar atas penampilan Mulan yang dibandingkan Maia Istianti. Mengatakan bahwa Mulan lebih baik karena pakaiannya. Apapun yang dilakukan tetap baik karena pakaiannya lebih baik dari pada yang dikenakan oleh Maia. Padahal public juga paham bagaimana perilaku mereka berdua, tidak perlu dibahas lagi. Yang jelas pola pikir anak bangsa ini memprihatinkan.


Keempat, banyak yang mengeluhkan toa di rumah ibadah terlalu keras. Jawabannya, yang tidak suka ayat suci adalah setan. Padahal yang dikeluhkan bukan ayat sucinya, namun volumenya yang terlalu besar.


Latihan Logis


Sering dalam hidup bersama tidak berfikir lurus, logis, dan rasional. Lebih cenderung ikut arus utama, banyak pendukung, dan menguntungkan diri sendiri. Hal ini banyak menjadi gaya hidup baru, sehingga sering yang benar malah tersisih dan yang keliru mendapatkan panggung.


Prabowo dalam sebuah kampanye mengatakan, bahwa bangsa ini belum pinter-pinter amat. Miris, malah makin hari makin jauh dari pintar. Makin bodoh karena kritis yang keliru. Sering juga elit membuat pernyataan yang sama, tidak logis, namun bisa menjadi “pembela, pelindung, dan benteng.”


Lihat saja, bagaimana elit dalam menyikapi permasalahan bangsa. Ada yang mengatakan, jangan kejam-kejam sama koruptor karena mereka juga manusia. Kasihan anak-anaknya kalau asetnya disita atau dimiskinkan. Kan yang keracunan cuma 200. Padahal koruptor itu sudah merugikan begitu banyak, masih dibela. Yang keracunan itu anak-anak kita lho, itu manusia, eh dikatakan cuma atau hanya. Ngawur.


Berlatih logika lurus, kritis yang benar itu penting, tidak sekadar sok dan seolah-olah logis, rasional, dan benar, hanya sekadar banyak teman. Berani tidak berbeda karena benar?


Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *